
"Ar... Hei... Ardian" Ardian negedipkan matanya seakan baru saja tersadar dari lamunannya.
"Gue mau ngomong serius nih sama lo".
"Hmm... Ngomonga aja!" Jawab singkat Ardian.
"Mmm... Itu, gue denger rumor tentang lo Ar. Tapi gue gak anggep serius kok. Mm.."
"Udah? Itu aja?"
Ardian berniat beranjak dari tempat duduknya. Karena tadi pagi ia belum sempat mampir ke kantin Rumah Sakit untuk sarapan dan sekarang perutnya sudah meronta minta diisi. Saat Ardian sudah berdiri, tiba-tiba tangan Arini menarik lengan kemeja Ardian.
"Tunggu Ar, gue mau ngomong dulu. Penting nih!"
"Iya cepetan, gue laper mau le kantin".
"Ar... Gue... Gue suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue Ar?" Setelah dengan berani Arini mengatakan isi hatinya, ia menunduk malu tapi dengan membayangkan Ardian mengucapkan kata 'mau'.
"Sorry ya Rin. Gue udah nikah. Nih lihat cincin di tangan gue. Ini bukti kalo gue nggak bohong. Lo cewek yang baik, pasti lo akan segera nemuin jodoh lo nantinya. Gue ke kantin dulu deh kalo gitu. Bye.."
Sungguh saat ini dada Arini berdegup cepat penuh dengan penolakan. Rasanya Arini masih belum bisa mencerna kata-kata Ardian. Apa benar dirinya telah menikah? Tapi selama mengikuti Ardian yang meninggalkan kelas usai, ia tidak pernah melihat istri Ardian disekitarnya.
__ADS_1
"Nggak... Pasti Ardian cuma mau menghindar aja dari gue. Iya bener, dia pasti belum siap untuk menjalin hubungan serius sama cewek. Oke... Gapapa Ar. Sampek lo siap, gue akan setia nunggu lo nerima gue!" Begitulah isi batin Arini saat ini.
🌷🌷🌷🌷🌷
Dan selama beberapa hari, sampai beberapa minggu ini, Ardian seolah selalu menghindar dari Arini. Arini pun tidak mau terlalu larut dalam sikap Ardian yang seperti itu. Ia memutuskan untuk bekerja suka rela disebuah Rumah Sakit yang cukup besar dan terkenal untuk menghibur hatinya. Yaaa, hitung-hitung belajar saat jadwal magangnya sudah keluar sungguhan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Sudah dua bulan Arini hanya melihat Ardian dari kejauhan, tapi tak apa. Ia akan memberikan Ardian waktu yang cukup. Beberapa minggu setelah Ardian menolak cintanya, Arini mencoba kembali mengutarakan perasaannya. Tapi jawaban Ardian masih saja sama. Bahkan katanya, ia akan memiliki seorang bayi dalam waktu dekat. Tentu saja ego Arini kembali menepis kebenaran ini.
Sampai suatu pagi, ia melihat Ardian dilorong Rumah Sakit tempat ia berkerja suka rela. Ia menarik tangan Ardian ke tempat yang agak jauh dari tempat ia berdiri tadi. Entah kenapa kali ini Arini begitu emosi saat berbicara dengan Ardian. Bahkan Ardian menepis tangan Arini saat ia memegang pergelangan tangannya.
Saat ia masih berdebat dengan Ardian, ada sosok ibu muda cantik yang tengah hamil besar memanggil ke arah Ardian. "Hubby" katanya, saat itu pandangan Arini sedikit kabur. Apakah selama ini pikiran egoisnya salah kaprah? Arini kemudian membuntuti Ardian dan ibu muda itu untuk mencari tahu kebenarannya.
Ardian meninggalkan Lilia di halaman depan Rumah Sakit untuk mengambil mobilnya diparkiran. Saat Lilia tengah menunggu suaminya, ada sepasang mata yang dengan intens mengawasinya. Sosok itu lalu berjalan dengan cepat mendekati Lilia.
"Kak... Maaf, apa kakak benar istrinya Ardian". Lilia menoleh kebelakang. Sekarang ia tercengang melihat sosok yang menegurnya.
"Kamu.....?" Belum sempat Lilia meneruskan kata-katanya, sosok itu langsung menimpali.
"Saya Arini, teman satu kelas Ardian di fakultas kedokteran. Maaf kalau saya lancang bertanya seperti ini, tapi apa benar kakak istrinya Ardian?" Arini bertanya sangat antusias, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sepertinya ia sangat syok saat memperkenalkan dirinya pada Lilia.
__ADS_1
"Iya, gue istrinya Ardian. Cowok cakep yang tadi sempet debat sama lo tadi dilorong rumah sakit. Dan diperut gue ini anak dari cetakannya Ardian", dengan jutek Lilia menjelaskan status dan keadaannya pada Arini. Sebenarnya Lilia hanya berniat menggoda. Karena waktu mendengar kata-kata yang dikumandangkan Ardian tadi, hatinya semakin mantap bahwa dihati Ardian hanya ada dirinya seorang.
Arini yang mendengar kata-kata Lilia seperti dicubit ulu hatinya, tiba-tiba air matanya jatuh dengan deras. "Maafkan Arini kak, Arini cuman salah paham aja kak, sumpah Arini nggak ada niat jelek sedikit pun kak... Tolong maafkan Arini ya kak... Maaf...." Sambil berlari meninggalkan Lilia yang kini tampak bingung.
Arini berlari menuju meja kerjanya di Ruang Dokter Bedah Umum. Genangan air matanya kini sudah sangat deras. Pantas saja jika Ardian jadi semakin dingin padanya. Apalagi setelah dua kali ia bersikeras mengungkapkan rasa cintanya untuk Ardian. Penyesalan itu memang datangnya belakangan, kalau didepan namanya adalah perencanaan bukan. Kini Arini hanya tersedu-sedu meratapi keegoisan hatinya yang dari awal sudah sangat salah.
Ia sudah mendapatkan peringatan dari sahabat baiknya. Tapi malah egonya kini membuat ia malu akan tingkahnya. Dan sejak saat itu, Arini tidak lagi berani muncul dihadapan Ardian. Saat ia melihat sosok Ardian dari kejauhan, ia akan segera berlari sejauh mungkin agar Ardian tidak melihat dirinya.
@°@ TAMAT @°@
Jangan lupa dukung karya author dengan VOTE, LIKE, KOMEN, & sertakan BINTANG 5 yaaa 😘
🌷🌷🌷🌷🌷
Untuk season 2 BCNM masih on project ya sayang, jadi ditunggu saja yaaa~
Sekarang saya on going menerbitkan karya novel saya yang lain, dan masih dalam tahap pengajuan.
Daripada penasaran silahkan dinikmati saja ya readers tersayang kuuu. Kalau suka bisa kalian berikan penghargaan untuk penulis 😄😄
__ADS_1
Selamat membaca, jangan lupa dukungannya ya. Dan jangan meninggalkan komen yang bisa menyakiti penulis, menyangkut pautkan agama, ras, serta kebudayaan. Karena karya ini hanya fantasi semata dan bertujuan untuk menghibur para pembaca.
Salam Hangat Author 😘