
Haiii readers ku yang manis...
Extra part untuk Bagas dan Sinta kan udah berakhir, jadi kali ini saya mau buat untuk cerita couple Fandi-Risa..
Enjoy it πππ
π·π·π·π·π·
Selipan Episode #48
Fandi yang sudah tiba di London kembali memulai aktivitasnya seperti biasanya. Bergulat dengan setumpuk lembaran pekerjaannya. Walaupun sudah beberapa bulan berlalu, pikirannya masih dipenuhi kata perandaian.
Entah kenapa sulit melunturkan nama Lilia dihatinya. Mungkin karena ia satu-satunya gadis yang dulu selalu dipikirkan Fandi. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan, walau masih sesak rasanya.
Mungkin Tuhan memang belum memberinya restu untuk menemukan jodohnya. Padahal umurnya sudah jauh dari kata matang.
Ia segera menghapus pikirannya yang masih mengandai-andai. Ia memfokuskan mata dan pikirannya pada tumpukan kertas dimejanya.
Meskipun tugas Fandi hanyalah membubuhkan tanda tangan dan stempel, tapi Fandi selalu mengecek ulang tumpukan kertas didepannya dengan teliti. Menurutnya itulah kunci mempertahankan kesuksesan perusahaan yang dipercayakan kepadanya.
Itulah mengapa Fandi selalu pulang malam ke tempat tinggalnya. Dan alasan itu juga yang selalu membuat maminya selalu mengoceh tentang dirinya yang belum juga mendapatkan pasangan hidup.
Bagaimana mau memikirkan wanita lain, kalau sampai saat ini saja hati Fandi masih terisi nama Lilia. Dan tugasnya sekarang adalah menghapus nama Lilia dari hati dan pikirannya. Meskipun perjuangannya tidaklah mudah tentunya.
******
__ADS_1
Sudah 2 hari Fandi berada di Indonesia, tepatnya di Surabaya untuk mengurus beberapa project yang memang tidak bisa diwakilkan. Rencananya saat urusannya sudah selesai, ia akan mengejutkan orang tuanya dan menetap selama beberapa hari.
Saat pikirannya mulai lelah dengan kertas yang mulai menggunung didepannya, Fandi lalu membuka jendela yang ada di balkon hotel tempat ia menginap. Memantikkan korek untuk menyulut rokok yang bisa merefresh otaknya.
Saat ia sedang menikmati rokoknya, tiba-tiba ponselnya berdering kencang. Ia segera masuk kembali ke kamar hotelnya. Karena dari nada dering itu, Fandi tahu siapa yang menghubunginya.
"Haloo... Apa apa pi?"
"..........."
"Apaaa??? Kok bisa pi?"
"..........."
"Iya... Ya udah pi Fandi kesana sekarang..."
"Frans... Carikan saya tiket untuk penerbangan ke Jakarta hari ini. Tolong usahakan untuk tiga puluh menit kedepan. Kosongkan jadwal saya selama satu minggu kedepan!"
Kini Fandi mulai membereskan beberapa potong pakaiannya. Masukkannya ke dalam koper. Kini perasaannya sangat kacau.
Belum sempat ia menghapus nama Lilia dari hatinya, kini pikirannya malah berputar penuh kecemasan. Pandangannya yang kini mematung sedikit terkejut saat ponselnya bergetar. Ia me-loudspiker ponselnya sambil masih berkemas.
"Iya Frans... Bagaimana?"
"Untuk penerbangan paling cepat berangkat lima belas menit lagi pak. Apakah saya pesankan segera?"
__ADS_1
"Bagus... Segera pesankan Frans, saya sudah selesai prepare. Kirimkan tiketnya ke Bandara. Saya akan berangkat sekarang!"
"Baik pak. Akan segera saya antar kesana".
Karena jarak hotel ke bandara tidak terlalu jauh. Hanya butuh delapan menit untuk tiba di bandara. Setelah tiba, dua menit kemudian Frans sudah menampakkan dirinya dengan membawa sebuah amplop berisikan tiket Fandi.
******
Kini Fandi sudah berada didalam pesawat. Pikirannya masih kosong dalam kepanikan. Ia terus menatap keluar jendela. Mendapati awan-awan yang tertembus oleh sayap pesawat yang ditumpanginya sekarang.
Satu setengah jam perlajanannya dari Surabaya ke Jakarta. Ia segera memesan taxi yang mangkal didepan pintu keluar bandara.
Tak banyak pikir Fandi langsung menggeret kopernya masuk kedalam taxi didepan langkahnya.....
*******
πBERSAMBUNG....
Terima kasih kalian yang sudah berpartisipasi mendukung author..
Jangan bosan mendukung penulis dengan klik LIKE, VOTE, dan KOMEN sayang πππ
Bisa komen yang mau season 2 nya ya...
Kalau memang banyak peminatnya, dengan senang hati saya akan segera launchingkan...
__ADS_1
Salam hangat author πππ