BENIH CINTA NIKAH MUDA!!

BENIH CINTA NIKAH MUDA!!
EXPART - TERIMA KASIH MENGIKATKU


__ADS_3

Nafas Risa yang menderu menambah beban pacuan detak jantungnya. Kini ia sudah berada di dalam lift. Warna wajahnya masih terang menyala. Ia memegang kerah leher kemejanya. Meremasnya dengan keras. Sekarang Risa mencoba mengatur kembali gerak nafasnya.


Kini ia sudah tiba di lantai 10. Ia langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Mencoba menetralkan panas yang menggerogoti seluruh wajahnya.


Ini kali pertama Risa malu karena digoda seorang laki-laki. Sebenarnya Risa sudah biasa menghadapi gombalan, rayuan, godaan dan sejenisnya. Maklumlah... Profesinya sebagai seorang dokter mempertemukan ia dengan berbagai jenis orang dengan berbagai variasi umur tentunya. Tapi mengapa pertahanannya hari ini runtuh oleh seorang Fandi yang baru ia kenal dekat dalam beberapa minggu.


******


Sedangkan Fandi yang masih duduk dengan tubuh yang setengah doyong, menyeringai melihat kepergian pujaan hatinya. Ia lalu bangkit dan berjalan menyusul Risa. Ia menuju kearah lift yang ada di dekat cafe. Menekan angka 10 lalu menunggu pintu lift menutup.


Fandi sudah mengetahui ruang kerja Risa. Karena sudah beberapa kali ia menjemput Risa di ruangannya saat keadaan Lilia sedang tidak baik-baik saja beberapa pekan yang lalu.


Beberapa menit kemudian Fandi tiba di lantai 10. Ia pun berjalan menuju ruangan Risa. Fandi melihat seorang perawat akan memasuki ruangan Risa. Dengan langkah dipercepat Fandi lalu memanggil perawat itu. Perawat yang Fandi ketahui bernama Ninis, karena selalu menjadi perawat pendamping saat Risa bertugas.


"Mbak Ninis!!"


"Eeeh... Pak Fandi, ada apa pak? Ada perlu sama dokter Risa?"


"Iya. Saya udah ada janji konsultasi private sama dokter Risa, mbak. Bisa saya masuk sekarang? Soalnya saya juga lagi buru-buru mau ketemu sama klien pagi ini". Entah darimana Fandi bisa menemukan alasan seperti ini. Karena jujur saja, seumur-umur baru kali ini Fandi berkata bohong pada seseorang.


"Kalau begitu pak Fandi silahkan masuk. Antrian akan saya buka setelah konsultasi bapak selesai".


Sungguh mbak Ninis ini sangat pengertian sekali. Walaupun sebenarnya niat Fandi memang bukan untuk konsultasi. Fandi sedikit sungkan sebenarnya kepada mbak Ninis, sedikit merasa bersalah mungkin.


Dan saat perawat Ninis meninggalkan tempat ia berdiri tadi, tanpa banyak pikir Fandi langsung memegang handle pintu ruangan Risa. Membukanya dengan cepat tanpa mengetuk, lalu menutupnya kembali. Ia langsung duduk didepan seberang meja Risa.


Risa yang masih duduk membelakangi Fandi berusaha mati-matian untuk membuat suasana hatinya setenang mungkin. Saat ia mendengar pintu ruangannya terbuka, ia mengira itu adalah asisten perawatnya, Ninis. Risa berbicara dengan memunggungi lawan bicaranya.


"Mbak Nis, buka antriannya tiga puluh menit lagi aja ya. Saya mau rehat bentar!"

__ADS_1


Karena dirasanya asisten perawatnya tidak menanggapi pernyataanya, otomatis Risa langsung memutar kursinya. Dan hasil jerih payahnya menenangkan jantungnya yang sedari tadi mem-bar-bar, seketika wajah Risa kembali memanas saat menatap orang yang kini ada dihadapannya.


"Ehh... Mas Fandi, kirain tadi mbak Ninis". Suara Risa yang lemah malah terdengar menggoda ditelinga Fandi.


"Yaaa... Aku sedikit kecewa nih. Aku kira kamu masih belum lepas mikirin aku. Ternyata malah mikirin mbak Ninis sih, Sa... Jangan cepet-cepet dong lupain aku..."


Sungguh sekarang Risa sudah tidak bisa menghindar lagi dari tatapan Fandi. Seandainya saja Fandi sudah benar-benar menjadi suaminya, ia tidak akan segan-segan menggigit bibir Fandi yang sejak pagi tadi terus membuat jantungnya tidak sehat.


"Eee... I... Itu... Bukan... Maksud Risa... Bukan gitu mas..."


"Duh... Kamu kok tambah buat mas gemes sih Sa. Aku nggak bermaksud ganggu jadwal kerja kamu kok. Aku cuma mau merjuangin cinta aku, supaya kamu mau nerima cinta aku Sa. Fandi mengambil jeda dan mengambil nafas panjang. "Kamu mau membalas genggaman tangan aku?"


Pikir Fandi, mungkin saja tadi pagi kata-kata Fandi terlalu membuat Risa tidak nyaman. Jadi sekarang Fandi memutuskan untuk pelan-pelan menjalani hubungannya dengan Risa.


Sedangkan Risa dengan rona yang sudah lumayan stabil mengangguki pernyataan Fandi. Fandi meminta Risa untuk mengulurkan tangan kanannya. Risa pun menurut saja. Kemudian ia melihat cincin yang tadi pagi sempat membuat giginya sakit melingkar di jari manis tangan kanannya.


"Sa... Kamu serius mau nerima perasaan aku?" Sekali lagi Risa hanya mengangguk malu. "Cincin ini sebagai tanda kamu nerima perasaan aku ya sayang. Beberapa bulan lagi aku akan segera datang ke rumah kamu dengan mami dan papi untuk membahas tanggal pernikahan kita. Kamu nggak keberatan kan nunggu beberapa bulan lagi?"


"Aku yang harusnya ngucapin terima kasih ke kamu Sa. Kamu udah memberikan aku kesempatan untuk bisa mencintai kamu. Makasih ya sayang".


Fandi berdiri dari tempatnya semula. Menghampiri Risa yang masih duduk di kursi kebesarannya. Lalu Fandi mengecup kening Risa, cukup lama. Lalu mereka saling mengeratkan kehangatan dalam sebuah pelukan erat.


Saat mereka masih mengikat janji dalam pelukan hangat, tiba-tiba pintu ruang kerja Risa terbuka. Fandi jelas mengira bahwa orang yang kini melihat kemesraan mereka bukanlah mbak Ninis. Karena tadi jelas-jelas mbak Ninis sudah mengatakan akan membuka antrian setelah Fandi menyelesaikan konsultasinya.


Sedangkan orang yang masih mematung di tengah pintu ruangan Risa sangat terlihat kaget. Orang itu adalah dokter Aris.


"Maaf atas kelancangan saya. Saya permisi dulu...", suara Aris sedikit bergetar.


BRAAAKK...

__ADS_1


Aris menutup pintu dengan sangat keras. Entah karena malu dan terburu-buru atau karena hal lainnya. Tapi saat ini baik Fandi maupun Risa tidak peduli. Mereka masih melanjutkan pelukan yang hangat itu.


Fandi lalu melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahu Risa. Memandangnya begitu dalam dalam kedekatan jarak sekian centimeter.


"Aku akan kembali ke London dalam tiga hari. Besok bisa kita makan malam untuk menyambut kencan pertama kita?"


"Iya mas... Mana ponsel mas Fandi?" Fandi lalu merogoh saku celananya. Mengambil ponselnya lalu memberikannya kepada Risa. Dua menit Risa berkutat dengan ponsel Fandi, lalu memberikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.


"Besok mas hubungi Risa aja untuk konfirmasi jam sama tempatnya ya".


"Ya udah aku tinggal pulang dulu ya sayang".


Kecupan singkat yang terasa dikening Risa mengakhiri drama percintaan mereka pada pagi hari ini.


*****


Sementara di ruangan dokter spesialis bedah umum. Aris terlihat sangat kesal melihat wanita pujaannya dipeluk oleh orang yang tidak dikenalnya.


"Aaaarrrgghhh.... SHIIIT..."


Umpatan yang sangat lantang itu mewakili rasa kecewanya yang teramat dalam kepada Risa.


^•^ TAMAT ^•^


Terima kasih yang ter-LOVE untuk para readers yang masih setia membaca dan mendukung karya saya...


Tetap berikan para author ini dukungan dengan VOTE, LIKE & KOMEN tanpa menyakiti hati para penulis ya saaayy..


Untuk EXPART selanjutnya akan saya bahas tentang drama peran Arini dengan Ardian...

__ADS_1


Adakah yang kangen dengan sosok Ardiansyah Ananthara?


Selamat membaca 😘😘😘


__ADS_2