
CUPLIKAN EPISODE #39
"Itu cerita yang gue denger langsung dari papa Louwish. Sejak itu gue mutusin akan selalu ngelindungi Tata. Dan ada setiap dia butuh bantuan. Makanya gue berpikir keras mau cerita sama lo apa enggak. Gue nggak mau Tata ngalami trauma lagi. Emang pengobatan bisa berhasil dalam beberapa tahun. Tapi bekasnya nggak akan hilang sampek kematian datang kan". Lilia menambil nafas sedikit sesak mengingat cerita yang baru saja ia tuturkan.
Tiba-tiba air mata Bagas mengucur deras. "Ternyata sesulit itu hal yang sudah dilalui Ana. Dan selama ini dengan gamblangnya gue ngungkapin perasaan ke dia. Pasti tiap itu juga dia langsung keinget gimana sakit bekas lukanya. Lo emang bodoh Gas... Seharusnya elo udah dari dulu nyari tau". Batin Bagas bergenderang merutuki kebodohannya.
"Terus kenapa akhirnya lo mau nyeritain ini ke gue?" Bagas mengusap air matanya.
"Gue yakin dan gue percaya bahwa lo emang tulus sama Tata. Gue yakin lo pasti bisa nutupin luka yang tiap hari selalu diingat Tata, Gas. Luka itu harus lo lapisi dengan ketulusan cinta lo. Karena luka itu udah nggak akan pernah bisa ilang".
Mendengar kata-kata Lilia, Bagas langsung berdiri. Dia berlari keluar tanpa pamit. Lilia dan Ardian hanya bisa beradu pandangan melihat reaksi Bagas.
🌷🌷🌷🌷🌷
(Bagas POV)
Bagas berlari cepat menuju mobilnya. Entah kenapa hatinya begitu tersayat mendengar cerita Lilia.
__ADS_1
"Gimana kamu bisa melalui hal yang mengerikan seperti itu An? Aku bakalan memoles luka yang mendasar itu sampai nggak akan terlihat lagi An. Aku janji..."
Bagas mulai melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mengusap pipinya yang sudah mulai mengering karena tumpahan tangisnya tadi.
Tiga puluh menit kemudian sampailah Bagas didepan rumah Sinta. Ia berjalan menuju pintu masuk. Dengan langkah mantap ia mengetuk pintu rumah Sinta.
Tok... Tok... Tok...
Cekleeekk...
Pikiran Bagas tiba-tiba nge-blank melihat sosok kurus tinggi yang berada didepannya.
"I... Iya om. Eehhh... Enggak om. Eeh... Maksudnya saya kesini mau nemui om, juga ingin ketemu Ana juga sih om". Kegagapan yang mendadak telah menyerang tenggorokan Bagas.
"Ketemu saya? Ada masalah apa ya sama saya sampai nak Bagas kesini pagi hari?" Raut wajah Louwish tiba-tiba berubah sedikit panik.
"Om... Saya... Saya mencintai Ana om... Saya ingin melamar Ana, lalu menikah dengan Ana. Saya meminta restu dari om". Mata Bagas menangkap kecemasan saat menatap mata calon mertuanya itu. Bagas tahu apa yang sekarang menggeluti pikiran laki-laki paruh baya yang masih gagah didepannya saat ini.
__ADS_1
Dengan perasaan yang semrawut, Louwish kehilangan suranya. Sekarang dadanya sangat kontroversi dengan pikirannya.
Disatu sisi ia sangat senang dengan maksud Bagas saat ini. Ayah mana yang tidak senang saat ada lelaki yang ingin menjalin hubungan serius dengan anaknya. Apalagi Sinta adalah anak satu-satunya. Hartanya yang paling berharga.
Tapi disisi lain, ia bingung harus bagaimana cara menjelaskan perihal keadaan Sinta yang baru saja lengah dari trauma yang menyerang selama bertahun-tahun. Ia tidak ingin melihat anak semata wayangnya kembali meraup masa-masa kelamnya. Namun ia juga ingin melihat anaknya bisa bahagia sama dengan orang normal pada umumnya.
Sepuluh menit Bagas membiarkan calon mertua didepannya hening. Larut dalam pikiran yang sudah Bagas tahu sebelumnya.
"Saya sudah tau masa lalu Ana yang membuatnya sangat menderita. Karena itu, ijinkan saya untuk menutup luka yang masih terlihat itu om. Bisakah saya mendapatkan kesempatan itu?"
Tentu saja kata-kata Bagas membuat Louwish menganga. Masa depan putrinya yang sudah hancur bertahun-tahun yang lalu, tapi Bagas masih mau melanjutkan mengejar cintanya.
Louwish kembali dalam sunyinya. Otaknya masih berputar-putar memikirkan akibat kedepannya yang mungkin juga bisa menyakiti kembali hati Sinta anaknya.
🍃 BERSAMBUNG.....
Support aku dengan like dan vote kalian sayang 😘😘
__ADS_1
Komen nya dong biar meriah... Yang suka jangan sungkan klik gambar jempol nya ya sayaaang. Vote juga jangan ketinggalan biar author semangat buat up tiap hari 😍😘😘
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️