
Risa Aini Ranggadewi, merupakan anak dari kakak sepupu papa Lilia. Sebenarnya usia Risa masih cukup muda, 28 tahun. Usianya hanya terpaut 1 tahun lebih mudah ketimbang Fandi.
Dulu sebenarnya Lilia memanggil Risa dengan sebutan kakak. Namun karena adat kejawen yang masih kental di dalam keluarga besarnya mewajibkan Lilia memanggil Risa dengan sebutan tante, 'tante kecil'.
Risa merupakan anak yang gampang berteman, cantik, dan tipe pekerja keras. Aini, mama Risa sejak masih gadis sering sakit-sakitan karena mempunyai tubuh yang lemah. Maka dari itu Risa memutuskan untuk menjadi seorang dokter agar bisa merawat sang mama dengan benar.
Karena papa Risa juga sudah meninggal akibat kecelakaan saat ia masih duduk di bangku SMP. Jadi hanya mamanya lah sekarang harta yang satu-satunya ia miliki. Dan ia berusaha lindungi.
Risa sangat bersyukur mempunyai keluarga besar yang sangat peduli dengan keluarganya. Memang tidak ada seorangpun dalam keluarga besarnya yang mempunyai sifat dan kelakuan buruk. Itulah yang membuat keluarga besarnya adem ayem tentrem.
Semua keluarga besar Risa selalu sibuk dengan usaha keluarga mereka masing-masing. Maka itu, banyak macam usaha yang dirintis dari masing-masing keluarga.
Seperti keluarganya, papa Risa, Hamzah Ranggadewa memutuskan untuk terjun ke dunia kedokteran. Papa Risalah yang pertama kali merintis usaha mereka ini dengan membangun sebuah rumah sakit. Benar... Itu adalah Rumah Sakit Fantasi tempat Risa bekerja sekarang.
π·π·π·π·π·
14 tahun yang lalu...
Suasana hangat dipagi hari seperti biasanya. Mereka bertiga duduk dimeja makan sambil menikmati sarapan dengan cerita-cerita ringan.
"Duh... Nggak kerasa anak gadis papa udah SMP ya. Semoga Risa bisa jadi anak yang bisa menggapai cita-cita ya. Papa akan selalu berdoa supaya cita-cita Risa bisa terwujud"
"Amiin... Makasih papa. Tapi papa jangan bicara kayak gitu dong. Kok kesannya kayak papa mau kemana aja".
__ADS_1
"Lhoo... Kan emang gitu kalo orang tua lagi doain anaknya sayang, iya kan ma!? Apa kata-kata papa barusan salah ya?"
"Enggak kok pa... Risa, maksud papa kamu itu kan cuma mau doain kamu supaya giat belajarnya. Jadi bisa mewujudkan cita-cita kamu kelak nak".
"Papa jadi penasaran nih, cita-cita princess papa apaan sih? Kali aja kan samaan kayak papa. Kita bisa kolaborasi dooong. Hehehe".
"Iihhh... Papa suka kepo deh. Tapi Risa emang pengen jadi dokter kayak papa sih. Risa tuh pengen nanti bisa ikutan ngerawat mama, kayak papa pas mama lagi sakit. Papa tau nggak, papa itu inspirasi Risa lho. Kalo Risa udah dewasa nanti Risa mau cari maunya suami yang kayak papa. Ganteng, baik, perhatian sama mama, pokoknya the best deh kayak papa".
"Duuhh... Anak mama, mama jadi terharu denger cita-cita Risa. Semoga Allah mengijabah niat baik kamu ya sayang... Udah ayo makannya buruan. Nanti kamu sama papa keburu telat lagi!"
"Aamiin... Iya ma. Ini Risa udah selesai kok. Yuk pah kita berangkat, nanti papa telat lagi".
"Ya udah yuk. Ma papa sama Risa berangkat dulu ya. Nanti mungkin papa pulang siangan ma".
"Rahasia dong. Papa kan mau kasih surprise buat mama".
Setelah bergantian mengecup Misti, Risa dan Hamzah pamit berangkat. Sebenarnya hari ini perasaan Misti sedikit aneh. Tapi ia bersikap seperti biasanya, karena tidak mau membuat suami dan anaknya jadi cemas. Mungkin karena sedikit kelelahan, jadi badannya terasa agak kurang fit.
*****
Pukul sebelas siang tiba-tiba Risa dipanggil wali kelasnya untuk datang ke ruang kepala sekolah. Dengan rasa heran tentu saja Risa pergi ke ruang kepala sekolah.
Disana terlihat Dinda membawa Lilia yang masih berusia 5 tahun sedang duduk dengan raut muka yang kusut ditemani Zidan yang memang sudah menjadi kepala sekolah sejak sepuluh tahun yang lalu.
__ADS_1
"Lhooo... Tante Dinda, kok tante ada disini? Kenapa tante?".
Risa semakin heran melihat raut muka Dinda yang tiba-tiba pucat saat melihat Risa. Perasaan Risa jadi sedikit berkabut. Saat Dinda ingin menjawab pertanyaan Risa, tiba-tiba Zidan mencegahnya.
"Risa, nanti kita ceritakan saat dijalan pulang ya. Sekarang Risa ambil tas Risa, tadi om sudah bilang ke wali kelas Risa kalau sekarang harus pulang!"
Setelah kata-kata Zidan barusan, Risa segera mengambil tas dikelasnya. Dan dengan perasaan yang semakin berat Risa akhirnya diantar pulang oleh Zidan, Dinda dan Lilia kecil. Semakin mendekati arah rumahnya, jantung Risa berdetak dengan irama yang kacau.
Zidan dan Dinda sepanjang perjalanan tadi tidak membuka suara sama sekali. Risa juga sungkan ingin menanyakan apa yang membuat dirinya sampai harus dijemput pulang. Hati Risa terasa nyut-nyutan.
Apalagi saat memasuki pintu gerbang rumahnya. Risa melihat ada bendera kuning yang terpampang disana. Wajah Risa langsung memucat. Apalagi setelah mendengar kalimat dari Dinda.
"Risa... Apapun yang sedang terjadi, tolong Risa sikapi dengan hati yang lapang ya sayang".
Tiba-tiba kepala Risa jadi berat, pandangannya sedikit menghambur. Dengan langkah seperti bunga yang lunglai saat ia memasuki pintu rumahnya. Dan ia langsung terjatuh duduk saat melihat pemandangan yang menyambutnya.
πBERSAMBUNG...
Terima kasih kalian yang sudah membagi VOTE dan LIKE nya sayaaaaang ππ
Tetap dukung author dengan VOTE, LIKE, & KOMEN kalian yaaa
Salam Hangat Author ππ
__ADS_1