BENIH CINTA NIKAH MUDA!!

BENIH CINTA NIKAH MUDA!!
EXPART - CEMBURU


__ADS_3

******


β€ŒRisa masih duduk disudut pojokan cafe Rumah Sakit. Sup buntut yang seharusnya memenuhi perutnya masih tersisa setengah bagian dan mulai dingin. Setelah beberapa saat Fandi meninggalkannya, datang seseorang dari samping kirinya.


Orang itu menepuk pelan bahu Risa yang masih mematung. Membangunkan Risa dengan kejutan dari lamunannya.


"Eh... Aris?..."


🌷🌷🌷🌷🌷


Aris, seorang dokter bedah umum. Pria mapan dari keluarga terpandang di daerah Bandung. Sekarang usianya menginjak 25 tahun. Bukan lagi seorang dokter muda atau residen lho ya.


Dia sudah resmi menyandang gelar Sp.B dibelakang namanya. Setelah berjuang selama sepuluh semester masa perkuliahannya, Aris langsung terjun ketempat medis untuk tenaga perbantuan. Bukan karena ketampanannya sehingga bisa langsung praktek saat jauh sebelum waktunya.


Tapi karena memang Intelligence Quotient nya yang diatas rata-rata bisa membuat Dirut Rumah Sakit tempat pertama ia praktek terpukau. Bahkan dalam jangka waktu satu tahun di Rumah Sakit, tepatnya di Semarang, ia sudah bisa menjadi asisten dalam ruang operasi.


Dan dalam tahun berikutnya ia sudah menjadi orang yang memimpin langsung jalannya operasi. Sekali lagi, ini memang kemampuannya yang sangat menakjubkan, bukan dari ketampanan atau karena ia dari keluarga terpandang.


Papa Aris adalah seorang profesor di sebuah Universitas Kedokteran di daerah Bandung. Tentu saja banyak mahasiswa-mahasiswi yang didalam dan luar daerah Bandung mengenal nama papa Aris.


Dan karena sifat dingin serta keras kepalanya, Aris selalu merahasiakan nama belakangnya. Ia ingin membuktikan kepada semua orang yang selalu memandang miring dirinya bahwa tanpa nama dan gelar dari papanya, ia bisa mencapai kesuksesannya sendiri.


Dan baru dua tahun ini Aris dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih besar di Jakarta. Rumah Sakit Fantasi. Dan lebih mengejutkan lagi, ternyata Aris masih bisa jauh berkembang sejak kepindahannya.

__ADS_1


Saat hari pertama ia pindah, tidak sengaja ia melihat Risa yang membantu menangani pasien di ruang IGD. Dan saat itu juga ia langsung menaruh hati pada Risa. Entah itu rasa kagum atau rasa cinta sebenarnya.


Dalam candaannya bersama Risa, ia sering mengungkapkan perasaannya, rasa ketertarikannya pada gadis yang lebih tua tiga tahun darinya. Mengaitkan nama mereka yang hampir terdengar sama dengan jumlah huruf yang juga sama, Aris-Risa. Tapi Risa tidak pernah serius menanggapi ungkapan Aris.


Bagi Risa, Aris sudah ia anggap seperti adik laki-lakinya. Mungkin perhatian yang Risa berikan, membuat Aris berpikir Risa juga 'suka' pada dirinya.


Setiap hari Aris selalu menyempatkan untuk berkomunikasi langsung dengan Risa. Membahas hal-hal yang ringan, terkadang juga hangat dihati Aris. Walaupun Aris lebih muda dari Risa, tapi kesuksesan Aris membuktikan ia bisa lebih hebat dari Risa.


Namun tentu tidak dengan sifat Aris. Bisa dibilang sifatnya masih kekanak-kanakan saat bersama dengan Risa. Maka itu Risa lebih senang mengganggap Aris sebagai adik saja.


Hari-hari yang dilewati Aris bersama Risa sama seperti biasanya. Sampai saat pagi ini. Rasanya hati Aris mendidih saat melihat orang yang ia sayangi dilamar oleh laki-laki lain. Dan dalam pikirannya tentu saja ia tidak ingin Risa menikah dengan lelaki selain dirinya.


Ini juga membuktikan bahwah saat seseorang sudah meraih gelar tinggi sekalipun, belum tentu pikirannya bisa jauh dewasa. Umur memang faktor yang bisa menentukan watak seseorang.


Dan bisa jadi ia akan menjadi tokoh antagonis dalam sebuah drama percintaannya. Dan tentu saja Risa tidak akan suka dengan sikap Aris yang seperti itu.


Berbeda dengan Lilia tentunya. Walaupun masih berumur 19 tahun, tapi ia sudah mengarungi hiruk pikuk sebuah rumah tangga. Dan lagi sudah akan segera mempunyai seorang bayi.


🌷🌷🌷🌷🌷


Lamunan Risa kini benar-benar sudah berlari. Aris yang menepuk bahunya tadi kini ikut duduk didepan Risa.


"Itu tadi siapa Ris? Ngapain juga dia?" Tanya Aris dengan banyak kerutan didahinya.

__ADS_1


Aris memang memanggil Risa dengan namanya saja. Tidak memakai embel-embel 'kak', 'mbak', ataupun 'senior'. Dari pertama memang tidak pernah mengambil pusing hal itu. Ia menganggap Aris seorang dokter, teman, sekaligus adik.


"Itu tadi? Kakak ipar keponakan gue. Kenapa kepo lo jadinya?" Risa malah heran dengan sikap Aris yang dirasanya seperti cemburu.


"Tadi dia ngelamar lo? Terus lo tolak kan!?"


Bukannya Aris tidak mendengar percakapan mereka yang menarik perhatian semua pengunjung cafe. Tapi sekarang ia mencoba sedang meyakinkan Risa untuk menolak lamaran Fandi tadi.


"Ya gue belum tau lah. Gue juga baru kenal dekat beberapa minggu ini. Gue kan juga nggak tau gimana sifat mas Fandi. Lagian dia juga nggak maksa buat ngasih jawaban sekarang kok!"


"Mas? Ckk, Lo manggil dia mas? Kenapa nggak panggil nama aja coba". Nada aneh yang keluar dari mulut Aris dengan seringaian tentu membuat Risa sedikit risih saat mendengarnya.


"Lha apa juga urusannya sama lo Ris? Mas Fandi itu 1 tahun lebih tua dibandingkan gue. Wajar dong kalo gue panggil dia lebih sopan. Yaudah gue keatas dulu deh. Jadwal kerja gue bentar lagi mulai... Bye..!" Risa langsung meninggalkan Aris di cafe. Sebenarnya Risa sedikit terganggu dengan pertanyaan Aris. Daripada moodnya tambah rusak, jadi ia memutuskan untuk meninggalkan Aris saja.


.🌷🌷🌷🌷🌷


πŸƒBERSAMBUNG...


Terima kasih kalian yang sudah membagi VOTE dan LIKE nya sayaaaaang 😘😘


Tetap dukung author dengan VOTE, LIKE, & KOMEN kalian yaaa


Salam Hangat Author 😍😘

__ADS_1


__ADS_2