Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
GRAND OPENING


__ADS_3

Hari ini pembukaan toko bunga milik Rere. Setelah meminta pendapat pada kedua orang tuanya serta mendapat persetujuan dari Romeo, akhirnya toko tersebut diberi nama juliet florist.


Pagi pagi, Bu Risa sudah datang dengan segala macam makanan untuk syukuran. Selain kue kue, yang tak kalah penting adalah nasi tumpeng. Mereka membawa semua makanan itu menuju juliet florist.


Beberapa teman dekat Pak Tomas dan Jia diundang diacara itu, begitupun dengan teman Rere. Rere mengundang teman teman terdekatnya, termasuk Febbi dan Gina. Ingin sekali Romeo melarangnya mengundang Gina, tapi dia takut Rere malah jadi curiga.


Haikal, semalam Romeo menghubunginya, memberintahunya jika hari ini pembukaan toko bunga milik Rere. Meski Haikal bilang akan datang jika tak sibuk, tapi dari nada bicaranya, terdengar seperti enggan datang. Romeo paham itu. Baginya, yang penting sudah memberi tahu karena bagaimanapun, Haikal saudara satu satunya.


Acara dibuka dengan doa, setelah itu potong tumpeng lalu makan makan.


Bu Risa mendekati Rere yang tengah makan sambil mengobrol dengan Febbi dan Anisa.


"Gimana, enak gak nasi kuningnya?" tanya Bu Risa.


"Anak Bu." Jawab mereka bertiga kompak.


"Enak banget malahan. Rere aja barusan nambah." Rere menunjukkan piringnya yang baru dia isi kembali. Hamil memang membuat nafsu makannya bertambah. Apalagi sekarang, dia sudah jarang mual muntah. Makan apapun, rasanya enak.


Bu Risa terlihat senang sekali. Dia meraih sendok ditangan Rere. Mengambil makanan lalu menyuapkannya pada menantunya itu. Febbi tersenyum melihat perlakuan manis Bu Risa pada Rere. Setidaknya, hal itu bisa sedikit mengobati rasa bersalahnya.


"Bu, anak ibu juga pengen disuapin, jangan menantunya aja." Celoteh Romeo yang duduk tak jauh dari mereka.


Bu Risa dan Rere seketika kergelak sambil geleng geleng mendengar penuturan Romeo. Melihat Romeo yang pura pura cemberut, Bu Risa gegas menghampirinya lalu menjewer telinganya.

__ADS_1


"Aduh Bu sakit, kok dijewer sih?" protes Romeo.


"Makanya, gak usah iri irian sama menantu kesayangan ibu."


Rere, Febbi dan Anisa langsung tergelak mendengar hal itu.


"Mertua kamu baik banget ya Re. Kamu pasti senang." Ucap Febbi satelah menelan makanan yang ada dimulutnya.


"Hem." Rere mengangguk. Matanya masih fokus melihat interaksi Romeo dan ibunya. Seorang pria dewasa yang sudah bergelar suami disuapi oleh ibunya, rasanya lucu sekali. Tapi dia senang melihat itu, melihat Romeo yang tampak bahagia.


"Beruntung sekali kamu Re. Padahal diluar sana, banyak sekali mertua mertua kejam," Anisa menimpali.


"Itu hanya cerita tv," protes Febbi.


"Harusnya itu yang ibu lakukan, membenciku. Seharusnya dia membenciku karena telah menyakiti Haikal dan membuat Romeo melepaskan kesuksesannya di Jepang." Air mata Rere meleleh saat teringat Haikal. Teringat pria yang telah dia hancurkan hatinya karena kehamilannya. Dan juga Romeo, pria berhati malaikat yang rela mengorbankan karier demi dia.


"Udahlah Re, jangan terlalu dipikirkan masalah itu. Fokus saja sama masa depan kamu. Dan Haikal, jangan pikirkan dia lagi. Sekarang ada Romeo, kalau bisa, jangan lagi mengingat atau bahkan merindukan Haikal." Febbi menasehati.


Rere menganguk, dia membenarkan dalam hati ucapan Febbi. Jahat sekali dia jika masih memikirkan Haikal saat disisinya ada Romeo, malaikat penolongnya.


"Aku lihat, sejak tadi Romeo mencuri pandang kearahmu. Sepertinya, Romeo mencintaimu." Ujar Febbi pelan sambil menyenggol lengan Rere.


Rere terkekeh pelan mendengar itu. Jangan dibilang Rere tak merasakan seperti apa yang dikatakan Febbu. Setiap perhatian yang diberikan Romeo, dia merasa jika pria itu mencintainya, tapi kembali lagi, dia tak mau percaya diri dulu. Menurutnya, Romeo bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.

__ADS_1


"Romeo pria yang sangat baik Feb. Kadang aku merasa insecure padanya. Aku terlalu buruk untuknya."


Febbi berdecak pelan. "Tidak ada kata terlalu buruk untuk cinta Re. Beauty and the beast, kau ingat cerita itu kan? Bahkan si cantik bisa jatuh cinta pada si buruk rupa."


"Itu hanya dongeng," sahut Rere cepat.


"Heh jangan salah. Aku pernah baca jika cerita itu terinspirasi dari kisah nyata. Seorang wanita cantik mencintai pria yang mengidap warewolf sindrom, atau sindrom manusia serigala."


Benarkan kekuatan cinta sedahsyat itu? Cinta sejati tak memandang fisik? Tapi jarang sekali ada yang seperti itu. Karena rata rata, cinta berasal dari mata, dari fisik dulu.


Disaat mereka bertiga masih asyik mengobrol, tiba tiba Febbi dibuat syok dengan kehadiran dua orang. Gina dan Haikal, mereka datang bersama.


Rere yang awalnya tak tahu kedatangan mereka, menoleh kebelakang karena penasaran apa yang dilihat Febbi.


Jika Febbi lebih kepada kaget, Rere malah merasa dadanya sakit. Masih sesakit ini rasanya saat melihat Haikal bersama wanita lain yang merupakan sahabatnya sendiri. Hari itu saat Gina bilang Haikal menyatakan cinta padanya, ingin sekali Rere tak percaya, tapi melihat mereka datang bersama dengan baju batik couple, sepertinya benar, keduanya sudah jadian.


"Selamat ya Re, maaf datang terlambat." Gina menyodorkan paper bag besar yang berisi kue.


"Ti, tidak apa apa." Rere berusaha untuk bersikap biasa, sayangnya itu susah sekali. Dia tetap merasa canggung berhadapan dengan Haikal.


Melihat kehadiran kakaknya dengan Gina, Romeo beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Rere. Dia menyesal mengundang Haikal jika pada akhirnya, pria itu datang bersama Gina.


"Kal," sapa Romeo. Keduanya lalu bersalaman ala laki laki. Sejak Romeo menikah dengan Rere, hubungan mereka memang merenggang. Gina, tak sudi Romeo menyapanya, dia hanya melirik tajam. Memperingatkan lewat tatapan mata agar Gina tak macam macam.

__ADS_1


__ADS_2