
Bu Risa yang masih dalam posisi berlutut, melihat Rere meski hanya sedikit karena terhalang tembok. Wanita itu yakin jika Rere mendengar semua yang dia katakan.
"Bolehkah saya bicara 4 mata dengan Rere?" pinta Bu Risa.
"Dia sedang tak ingin bertemu siapapun," sahut Tomas.
"Re, ibu tahu kamu ada disana. Ibu ingin bicara Nak. Ibu mohon, sebentar saja."
"Tolong jangan memaksa anak kami Bu," ujar Jia. "Saat ini dia sedang terpukul, jadi jangan memaksanya jika dia tak mau."
"Pulanglah." Ujar Tomas. "Anda tak perlu berlutut demi bajingan itu. Karena keputusan kami tetap sama, kami akan membawa kasus ini ke pihak berwajib. Siapapun yang terlibat, jangan harap bisa bebas. Karena saya tidak bisa terima anak saya diperlakukan demikian." Rahang Tomas mengeras dan kedua telapak tangannya mengepal. Baginya, keadilan harus ditegakkan.
"Saya akan pulang setelah bertemu dengan Rere."
Tomas berdecak pelan. Dia tak menyangka jika wanita didepannya itu bebal juga. Tapi mungkin seperti itulah semua ibu, selalu menjadi pembela terdepan bagi anaknya.
"Re, ibu mohon, sebentar saja." Pinta Bu Risa sambil melihat kearah dimana Rere bersembunyi.
Tak ada jawaban dari Rere. Sepertinya wanita itu memang tidak ingin bertemu siapapun saat ini.
"Baiklah, ibu tidak akan memaksa." Bu Risa lalu berdiri. Dia tak mau berlama lama membuat seisi rumah ini tidak nyaman. "Sebelum ibu pulang, ibu hanya ingin bilang. Romeo siap dipenjara jika itu bisa membuatmu tak lagi membencinya."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Bu Risa keluar dari rumah Rere. Air matanya tak mau berhenti mengalir meski berulang kali dia seka.
Saat berada diluar, dia kaget melihat Romeo ada didepan pagar. Putranya itu menatapnya dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa Ibu nekad kesini?"
"Ibu hanya ingin memohon maaf. Entah dimaafkan atau tidak, kewajiban kita sebagai pesalah adalah minta maaf.
Tadi saat tidak menemukan ibunya dirumah, Romeo yakin jika wanita itu pasti pergi kerumah Rere. Jadi dia langsung menyusul kesana.
"Tapi yang salah Meo, bukan Ibu."
"Setiap orang tua bertanggung jawab atas kesalahan anaknya."
"Ayo kita pulang." Bu Risa menggandeng tangan Romeo.
.
.
.
__ADS_1
Rere berbaring diatas ranjang. Memiringkan badan menatap kesisi ranjang yang kosong. Biasanya ada Romeo disana, mengusap punggungnya, mencium kening dan memeluknya dari belakang.
Tangan Rere mengusap tempat kosong tersebut. "Kenapa harus kamu Meo, kenapa? Apa selama ini, sikap baikmu hanya topeng untuk menyembunyikan kejahatanmu? Aku pikir kau tulus menyayangi anak ini meski bukan anakmu, tapi ternyata aku salah. Tidak ada orang yang akan tulus menikahi wanita hamil dan menerima anaknya. Ya, aku terlalu naif selama ini."
Tapi setiap kali dia ingin membenci Romeo, mencari celah kesalahannya, dia selalu terngiang ucapan pria itu.
Apapun yang terjadi, kamu hanya perlu ingat satu hal, aku mencintaimu.
Kata kata Romeo itu terus menggema ditelinga Rere. Dia bahkan masih ingat seperti apa wajah Romeo saat mengatakanya.
Sampai tengah malam, Rere tak bisa tidur. Perutnya terasa lapar karena tak kunjung tidur. Biasanya akan ada Romeo yang siap 24 jam memenuhi kebutuhannya, tapi sekarang, dia harus terbiasa tanpa pria itu. Meski malas, Rere pergi kedapur untuk mencari makanan.
Tak menemukan apa apa didapur, dia membuka lemari tempat menyimpan mie instan lalu mengambil sebungkus.
Ibu hamil gak boleh makan mie instan.
Rere melempar mie yang ada ditangannya. Benci sekali karena bayangan Romeo selalu mengusik pikirannya. Dia benci pria itu, tapi entah kenapa, Romeo tak pernah hilang dari pikirannya. Pikirannnya selalu dipenuhi Romeo, Romeo dan Romeo.
"Biarkan saja, aku tak peduli." Rere membuang jauh jauh ingatan tengang Romeo. Mengambil mie instan yang ada dilantai lalu merebus air. Memasaknya hingga matang dan membawa kemeja untuk dinikmati.
Tapi saat hendak menyuapkan mie kedalam mulut, lagi lagi ucapan Romeo terngiang dikepalanya.
__ADS_1
Kau boleh membenci pria itu, tapi jangan anak yang ada dikandunganmu. Berjanjilah untuk selalu menyayanginya Re.
Rere meletakkan kembali sendoknya. Mengelus perut dengan air mata berderai. Dia meninggalkan mie begitu saja lalu kembali kekamar.