
"Pa pa pa pa pa."
Haikal yang sedang sibuk memilih baju di sebuah baby shop, tak sengaja mendengar suara itu. Entah hanya perasaannya saja atau apa, terdengar seperti suara Haidar.
"Pa pa pa..."
Kembali suara itu terdengar, membuat Haikal yang penasaran segera mencari sumber suara. Dia ingin memastikan itu suara Haidar atau bukan.
Dia berjalan menuju deretan baju disebelah, dan senyumnya mengembang saat melihat Rania bersama Haidar.
"Assalamualaikum Haidar."
Rania yang sedang sibuk memilih baju langsung menoleh mendengar seseorang memanggil putranya.
"Haikal," sapa Rania. Hari itu, mereka memang sempat berkenalan. Tapi hanya sebatas itu, tak sampai bertanya alamat apalagi bertukar nomor telepon. Tapi saat mengantar Rania ke depan untuk mencari taksi, dia sempat mendengar Rania mengucapkan Paris Residence pada supir taksi.
"Gak nyangka bisa ketemu kalian disini. Gimana Haidar, udah sehat?" Haikal menunduk, menyentuh pipi gembul baby Haidar yang berada distroller.
"Alhamdulilah sudah." Sahut Rania sambil tersenyum, membuat hati Haikal seketika meleleh melihat senyum yang begitu manis. "Ngomong ngomong, kamu ngapain di baby shop? Udah punya anak?" tebak Rania.
"Pengennya sih, tapi sayang masih single," sahut Haikal. "Aku lagi nyari kado buat keponakan yang besok mau akikahan sekaligus selapanan."
Mata Rania terbeliak mendengar itu. "Ponakan udah mau selapan tapi belum ngasih kado?"
Haikal tersenyum absurd sambil garuk garuk kepala. "Astaga, memalukan sekali ya. Apa aku terlihat seperti om yang keterlaluan?"
"Tidak." Rania menggeleng. "Tapi sangat keterlaluan." Keduanya lalu tertawa bersama. Bahkan baby Haidar yang mungkin belum paham apa yang mereka bicarakan ikut tertawa cekikikan.
"Apa kau bisa membantuku?"
"Tentu saja. Anggap sebagai ganti karena saat itu kamu membantuku."
__ADS_1
Haikal berdecak pelan. "Apa aku terlihat membantu dengan mengharapkan imbalan?"
"Aku hanya becanda." Sahut Rania yang takut Haikal tersinggung dengan candaannya.
"Sama, aku juga becanda." Rania lega mendengarnya. "Karena sesungguhnya, aku mengharap balasan lebih dari sekedar bantuan memilih kado. Gimana kalau besok, kamu dan Haidar, ikut aku ke acara akikah keponakanku?"
Rania bisa melihat wajah Haikal yang penuh harap, tapi sayangnya, dia harus mengecewakan pria itu.
"Maaf Haikal, sepertinya tidak bisa. Aku janda, tidak begitu nyaman jika bepergian dengan laki laki yang bukan mahram. Maaf, tapi aku hanya sedang menjaga maruahku."
Meski jawaban itu bukan yang diharapkan Haikal, tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum didepan Rania. "Ya, aku paham."
Keduanya lalu berkeliling baby shop memilih kado untuk keponakan Haikal. Haikal mendorong stroller Haidar sambil memperhatikan Rania yang sibuk memilih.
"Kak Rania."
Haikal dan Rania kompak menoleh mendengar lengkingan suara wanita memanggil Rania.
"Wah wah wah, siapa ini, calonnya Kak Rania ya?" Goda Anna sambil menyenggol lengan Rania. "Hei Haidar, anaknya alm gus Hanafi." Anna menunduk sambil menatap bayi gembul yang berada di stroller. Kaget juga Haikal mendengar jika mantan suami Rania ternyata seorang gus. "Kamu mau punya papa baru ya?"
"Huk huk huk." Rania tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan Anna. Mendadak dia jadi salah tingkah. "Kenalin ini Haikal, temanku."
Haikal mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Anna dan Saga sambil menyebutkan nama.
"Oh, jadi anda Saga Dirgantara, pebisnis muda yang bulan lalu jadi cover di majalah bisnis." Saga hanya tersenyum saat seseorang mengenalinya.
"Kak Haikal beneran cuma temenan sama Kak Rania? Padahal serasi banget loh. Kenapa gak langsung diseriusin aja?" tanya Anna. Wanita itu memang suka ceplas ceplos kalau ngomong.
"Anna," desis Rania. Padahal Anna yang ngomong, tapi kenapa dia yang berada malu.
"Bener, langsung datangi rumahnya dan lamar aja kalau suka," Saga menimpali. "Pacaran lama gak ada gunanya, buang waktu kalau pada akhirnya tetep kalah sama yang ngelamar duluan."
__ADS_1
Rania merasa tersindir mendengar ucapan Saga, mantan pacarnya dulu.
"Emm...kalian lanjut aja gih. Kita pergi dulu." Anna menggandenga lengan suaminya. Sama sama mengucapkan salam lalu pergi.
"Apaan sih pakai ngomong gitu tadi, belum move on. Masih keinget masa masa pacaran yang luaamma banget sama Kak Rania?"
...Meski mereka sudah lumayan jauh, tapi Haikal masih bisa mendengar suara Anna yang mengomeli suaminya....
"Yang tadi itu, Saga Dirgantara, mantan pacar kamu?"
Melihat Rania mengangguk, tubuh Haikal seketika lemas. Ternyata selain mantan suami yang seorang gus, mantan pacarnya juga pebisnis sukses. Haikal mendadak keder.
Mereka lalu lanjut berkeliling memilih kado. Jika tadi Haikal merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan Rania, beda halnya dengan sekarang. Pria itu jadi tak percaya diri. Bahkan mengira Rania menolak ajakannya tadi karena dia bukan pria hebat seperti mantan mantannya.
"Aku tak menyangka jika mantan suami serta mantan kekasihmu adalah pria pria hebat," ujar Haikal.
"Hebat dimata manusia belum tentu hebat dimata Allah."
"Apa kamu memang mematok kriteria yang tinggi untuk calon suami?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, Rania yang awalnya menatap kearah baju bayi, langsung menoleh kearah Haikal.
"Kamu salah jika berfikir aku seperti itu."
"Ma, maaf. Apa pertanyaanku tadi menyinggungmu?" Haikal menyesal telah lancang menanyakan hal yang bersifat pribadi dan tersedengar seperti tuduhan. "Sungguh Rania, aku tak bermaksud menyingungmu atau menyindir, atau...ah, aku bingung seperti apa menjelaskannya."
"Aku tak menilai seseorang dari status apalagi kekayaannya. Bagiku, laki laki yang mampu menuntunku ke surga serta menerimaku dan menyayangi Haidar, adalah yang utama."
"Apa jika aku melamarku, kau akan menerimanya?"
Plug
__ADS_1
Baju yang dipegang Rania seketika terjatuh. Dia terkejut mendengar kalimat to the poin yang diucapkan Haikal.