
Haikal berjalan menuju ruang rawat Rere sambil senyum senyum. Ternyata asyik juga cosplay jadi seorang ayah. Dia jadi tahu alasan kenapa tadi Romeo buru buru masuk. Ternyata bayi memang memiliki magnet tersendiri yang mampu memikat hati seseorang. Haidar, ahhh rasanya dia sudah merindukan baby gembul itu padahal baru saja berpisah.
"Itu dia." Seruan dari Romeo dan Bu Risa secara bersama sama membuat Haikal yang baru masuk keruangan Rere jadi kayak orang bingung.x
"Darimana saja kamu?" tanya Bu Risa.
"Em...itu." Bukannya menjawab dengan jelas, Haikal malah garuk garuk kepala.
"Palingan ketemu cewek cakep Bu. Langsung deh lupa jalan kesini." Ledek Romeo sambil menyenggol lengan ibunya.
"Aku itu sengaja diluar lama karena ngasih waktu buat Rere mengasihi," Haikal berasalan. "Siapa tahu bayinya nurun bapaknya, rakus."
"Hus." Seru Bu Risa sambil menyenggol lengan Haikal. Dia melirik Rere, takut menantunya itu tersinggung. Kadang tak semua orang bisa menerima guyonan.
"Gak usah dimasukin hati Re, Haikal memang gitu orangnya." Seperti Bu Risa, Romeo juga takut Rere memasukkan hati ucapan Haikal.
"Aku ngerti kok." Sahut Rere sambil tersenyum. Dia bukanlah orang kaku yang tak tahu mana becanda mana serius.
"Dia mantan aku kalau kamu lupa. Mana mungkin dia tak tahu seperti apa aku," celetuk Haikal.
"Gak usah diperjelas kali." Romeo pura pura kesal.
"Udah udah, kalian itu apaan sih. Udah dewasa, udah jadi bapak malahan yang satu, jadi jangan kayak anak kecil. Malu sama baby boy."
Rere terkekeh melihat Romeo dan Haikal yang dimarahi ibunya. Dia membayangkan jika punya satu lagi anak laki laki, mungkinkah juga akan terus ribut seperti Romeo dan Haikal? Astaga, padahal baru saja melahirkan, tapi sudah membayangkan punya anak lagi.
"Bu, apa ibu tak ingin menikah lagi?"
Bu Risa terperangah mendengar pertanyaan Haikal. Tak ada angin tak ada hujan, kenapa tiba tiba menanyakan tentang itu.
"Ibu ini sudah tua. Udah gak mikir jodoh lagi. Ibu sudah bahagia memiliki kalian berdua, memiliki menantu seperti Rere dan memiliki cucu. Tapi mungkin akan lebih bahagia lagi jika memiliki seorang menantu lagi." Sedikit memberi signal pada Haikal agar segera move on dari Rere dan memikirkan masa depannya.
"Tapi kalau janda muda, apa juga gak kepikiran buat nikah lagi?"
Ketiga orang diruangan itu langsung menatap Haikal. Pasalnya pertanyaannya terdengar sangat aneh. Kenapa pula tiba tiba bahas janda muda.
__ADS_1
"Jangan jangan, kamu baru saja ketemu janda muda?" tebak Romeo. "Oh my God, jangan bilang kalau kamu, fall in love at first sight sama janda?"
Haikal tersenyum absurd sambil garuk garuk tengkuk. Dia sendiri tak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Tapi melihat Rania, dia seperti melihat rumah, teduh dan nyaman. Dan saat tadi tak sengaja tangannya menyentuh jemari Rania, ada getaran aneh dihatinya. Benarkan ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Dia juga tak tahu.
.
.
.
Setelah Bu Risa dan Haikal pulang, suster mengambil baby boy untuk dimandikan. Sedangakan Romeo, dia hendak membantu Rere untuk membersihkan diri sesuai perintah suster. Selepas persalinan dini hari tadi, Rere belum mandi hingga sore ini.
"Mau ngapain?" Rere memelototi Romeo yang hendak ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Masuk." Jawab Romeo tanpa rasa bersalah.
"Kamu gak denger tadi, suster nyuruh aku bantuin kamu mandi."
Rere menghela nafas. "Tapi aku bisa sendiri, gak perlu dibantuin."Aku cuma habis lahiran, bukan sakit atau apa yang gak bisa gerak. Jadi aku bisa sendiri." Dia tak mungkin membiarkan Romeo masuk dan melihatnya mandi. Itu sangat memalukan.
"Baiklah, aku tunggu disini. Jika butuh apa apa, kamu tinggal panggil saja."
Rere mengangguk lalu masuk kedalam kamar mandi lalu menguncinya dari dalam. Cukup lama dia mandi karena pelan pelan. Dan begitu dia selesai, kaget saat mendapati Romeo masih ditempat yang sama, didepan pintu kamar mandi.
"Kamu dari tadi masih disini?"
Romeo mengangguk. "Bukankah aku sudah bilang, akan menunggumu disini."
Rere tak bisa berkata kata lagi kalau sudah begitu. Tak menyangka jika Romeo begitu setia menunggunya dibalik pintu kamar mandi. Rere berjalan pelan menuju brankar diikuti Romeo. Naik keatas brankar lalu membuka laci nakas, mengambil sisir yang ada disana.
"Biar aku yang melakukan itu." Romeo mengambil sisir yang ada ditangan Rere. "Apa kau keberatan?" Romeo bertanya karena Rere hanya diam.
"Tidak." Rere lalu memutar sedikit duduknya. Memposisikan Romeo tepat dibelakangnya agar mudah.
Romeo mulai menyisir rambut panjang Rere. Pelan pelan agar tak menimbulkan sakit karena rambutnya lumayan kusut.
__ADS_1
"Kau tahu, apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" tanya Meo.
"Apa?"
"Aku ingin bisa terus berada disisimu Re. Menyaksikan rambut hitam ini sedikit demi sedikit mulai memutih. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menua bersama. Melewati suka maupun duka dalam keadaan saling mendukung."
Rere kaget saat Romeo tiba tiba melingkarkan kedua lengan dipinggangnya. Memeluknya dari belakang sambil mendekatkan bibir ketelinganya. Hembusan nafas Romeo yang hangat menyapu telinga dan lehernya, membuat jantung Rere seketika kencang.
"Maaf jika aku terlalu serakah, menginginkanmu menua bersamaku setelah apa yang aku lakukan padamu. Aku ingin terus bersamamu Re. Menggunakan sepanjang umurku untuk membuktikan jika aku layak untukmu. Re," Romeo meraih kedua tangan Rere yang ada dipangkuan wanita itu. "Maukah kamu menua bersamaku? Menyaksikan sedikit demi sedikit rambut kita yang hitam berubah menjadi putih?"
Rere menoleh kesamping. Membuat pipinya seketika tersentuh bibir Romeo. "Kata katamu terdengar seperti sedang melamarku."
Romeo yang awalnya berada dimode serius seketika tergelak. Melepaskan pelukannya dipinggang Rere lalu mencari sesuatu. Tak menemukan apapun, dia kembali mendekati Rere dengan sebuah karet gelang ditangannya.
"Maukah kau menua bersamaku?" Ucap Romeo sambil memegang karet gelang dan menunjukkannya pada Rere. Tak pelak Rere langsung tertawa.
"Tak adakah yang lebih buruk dari itu?" cibirnya.
"Aku sudah mencari disekeliling ruangan, tapi tak menemukan apapun yang bisa disematkan dijari manismu kecuali ini."
Rere tertawa, tapi matanya tampak berkaca kaca.
"Ya, aku mau."
"Terimakasih." Romeo langsung memeluk Rere sebentar. Melepasnya kembali lalu meraih tangan kirinya. Dipasangkannya karet gelang itu dijari manis Rere lalu diputar beberapa kali hingga lumayan kencang, lalu menciumnya. "I Love you."
"I love you too."
Dua insan yang terbawa suasana itu saling mendekatkan wajah.
Ceklek
Suara pintu yang dibuka membuat bibir yang hampir menempel itu kembali menjauh.
Ternyata suster yang masuk sambil membawa baby boy yang sudah dimandikan.
__ADS_1