
Sebenarnya tak murni berakting, tapi sekaligus mengungkapkan perasaan hati. Haikal mengingat kembali adegan ciuman Romeo dan Rere yang tak sengaja dia lihat.
"Bisa bisanya mereka bermesraan dirumahku Gin. Mereka sama sekali tak mempedulikan perasaanku. Mereka tak menghargaiku sama sekali."
Gina tersenyum mendengarkan curahan hati Haikal.
"Ayolah Kal, move on dari Rere. Ini sudah sangat lama, kenapa kamu masih belum bisa juga melupakan Rere. Ingat Kal, dia sudah selingkuh dibelakangmu hingga hamil." Gina mengusap kepala Haikal yang ada dipangkuannya.
Haikal mengepalkan telapak tangan, mendengar Gina lagi lagi memfitnah Rere. Untung saja saat ini wajahnya tak terlihat oleh Gina, kalau tidak, wanita itu akan tahu jika Haikal menahan amarah padanya.
"Kau benar Gin. Tak seharusnya aku masih memikirkan wanita pengkhianat itu." Haikal menarik kepalanya dari pangkuan Gina. "Apa aku boleh menginap disini malam ini? Aku malas pulang, ada Romeo dan Rere dirumah." Tentu saja itu hanya alasan Haikal, karena Rere dan Romeo sudah pulang dari rumah Bu Risa tadi pagi.
"Tentu saja boleh." Gina malah kegirangan. "Bukankah aku sudah pernah bilang, anggap saja apartemen ini kayak rumahmu sendiri."
"Makasih ya Gin. Kau memang teman yang paling bisa aku andalkan."
"Tapi aku ingin lebih dari sekedar teman," ujar Gina lirih.
"Apa?" Haikal hanya mendengar samar samar.
"Ti, tidak." Gina langsung salah tingkah. "Em...kamu sudah makan malam? Gimana kalau aku masak buat kamu?"
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak." Gina segera kedapur untuk menyiapkan makanan. Padahal tadi badannya terasa lelah karena bekerja seharian, tapi demi Haikal, dia mengabaikan rasa itu.
__ADS_1
Sementara Haikal, dia segera mengirim pesan pada Febbi jika sejauh ini, semuanya berjalan sesuai rencana.
Tak lama kemudian, Gina yang sudah selesai masak, memanggil Haikal untuk ke pantry. Disana sudah ada mie goreng dan omelet yang kelihatannya sangat lezat.
"Maaf, aku tidak masak nasi hari ini. Gak papakan kalau makan mie?" Gina mengambil dua gelas air putih lalu menaruhnya diatas meja.
"Sepertinya aku sangat merepotkan." Haikal pura pura sungkan.
"Astaga Kal, tidak sama sekali. Ayo kita makan."
Kedua lalu makan malam bersama. Entah makan malam atau bukan namanya karena ini sudah lebih dari jam 10 malam.
"Em...Gin, kamu mau gak nemenin aku ke club?"
"Iya. Tadi aku sempat curhat dengan teman lama, lalu dia ngajak aku ke club. Percaya gak percaya sih, kata temenku tempat kayak gitu cocok buat aku yang lagi frustasi. Dia sama ceweknya ada disana, masa iya aku sendirian?"
"Kamu yakin mau masuk ke tempat seperti itu Kal? Bukannya apa, disana rata rata pada konsumsi minuman beralkohol, kamu kan gak biasa?"
"Kamu seringkan ketempat seperti itu?"
"Huk huk huk." Gina langsung tersedak mendapatkan pertanyaan to the point seperti itu. Dia heran darimana Haikal tahu jika dia sering ke tempat seperti itu. "Eng, enggak sering, tapi pernah aja. Diajakin teman waktu itu." Gina jelas tak mau Haikal tahu sisi buruknya.
Padahal menurut Febbi, Gina kerap sekali pergi clubbing. Ditempat seperti itu juga, Gina memergoki Febbi bersama sugar daddy nya.
"Yuk lah Gin, temenin aku. Gak mungkin aku sendiri sedang temanku dengan pacarnya." Haikal terus membujuk.
__ADS_1
Gina sempat heran juga melihat Haikal ngotot datang ke club. Menurutnya, ini tak seperti Haikal yang dia kenal. Tapi sudahlah, mungkin dia memang sedang frustasi berat dan butuh hiburan.
"Em..baiklah."
Yes, akhirnya masuk perangkap juga.
Selesai makan, Gina segera bersiap siap. Sementara Haikal langsung mengirim pesan pada Febbi jika mereka akan segera berangkat.
[Aku udah dilokasi]
Febbi membalas pesan dari Haikal.
Haikal segera menghapus riwayat chatingannya dengan Febbi. Deg degan juga dia dengan misi dari Febbi ini, secara dia belum pernah sekalipun masuk ke tempat seperti itu.
Didalam kamar, Gina sibuk memilih baju yang sesuai. Otak gilanya mulai merencakana sesuatu. Dia akan membuat Haikal mabuk malam ini. Berharap dia dan Haikal bisa sampai berhubungan badan. Siapa tahu dia hamil, dengan begitu Haikal tak akan bisa lari dari tanggung jawab. Dan tujuannya untuk menjadikan Haikal miliknya seutuhnya akan segera kesampaian.
"Ayo Kal."
Haikal kaget melihat penampilan Gina. Dia yang biasa melihat Gina dengan pakaian kantor, hari ini dihadapkan dengan Gina yang memakai rok mini dan crop top.
Astaga, jadi seperti ini penampilan aslinya.
"Aku tidak bawa mobil, apa kita naik taksi saja?"
"Pakai mobilku aja." Gina kembali kedalam kamar untuk mengambil kunci mobil lalu menyerahkannya pada Haikal.
__ADS_1