
Bu Risa kaget melihat Romeo pulang dengan kondisi babak belur. Dia yang sedang membuat adonan kue langsung meninggalkannya begitu saja dan menghampiri Romeo.
"Kenapa bisa seperti ini?" Bu Risa menyentuh wajah Romeo sambil menangis. Ibu mana yang tak hancur hatinya melihat putranya babak belur.
"Aw...sakit Bu." Romeo meringis saat lukanya tersentuh jari ibunya.
"Maaf, maaf." Bu Risa menjauhkan tangannya dari wajah Romeo lalu menyeka air mata. Dia berjalan cepat menuju tempat penyimpanan obat dan mengambil baskom serta air dingin untuk membersihkan luka Romeo.
"Apa yang terjadi Meo, kenapa seperti ini? Kamu berantem sama siapa?" Bu Risa mengompres luka diwajah Romeo dengan air mata berderai.Tangannya gemetar setiap menyentuh luka itu, seakan akan, dia ikut merasakan sakitnya
Melihat Romeo memegangi perutnya, Bu Risa langsung menarik keatas kaos yang dikenakan putranya. "Astaghfirullah." Pekik Bu Risa saat melihat lebam di perut dan dada Romeo. Ternyata tak hanya diseputaran wajah saja, tapi hampir diseluruh tubuhnya.
"Meo gak papa kok Bu, jangan menangis." Romeo berusaha menyeka air mata ibunya.
"Ada apa ini Meo, cerita sama ibu?"
"Haikal yang baru menghajarnya Bu." Sahutan Haikal membuat Bu Risa dan Romeo langsung menoleh kesumber suara. "Bisa bisanya selama ini Ibu menyembunyikan kejahatannya. Ibu sudah tahukan, kalau dia yang memperkosa Rere? Itu sebabnya Ibu merestui pernikahannya dengan Rere?" Haikal tampak sangat marah.
Bu Risa menurunkan tangannya yang tengah memegangi kain untuk mengompres luka Romeo. Mengambil obat lalu mengoleskannya diluka tersebut.
"Kenapa ibu diam saja? Benarkah apa yang Haikal bilang, ibu tahu semuanya?" Haikal geram karena ibunya hanya diam saja.
Bu Risa meletakkan kembali obat diatas meja. Menghela nafas dalam lalu menatap Haikal. "Ya, ibu tahu."
__ADS_1
Kedua telapak tangan Haikal otomatis terkepal. Giginya bergemeretak sambil menatap Romeo nyalang.
"Lalu kenapa ibu diam saja? Kenapa ibu tak mengatakan yang sebenarnya padaku? Kalau saja sejak awal aku tahu Rere benar benar diperkosa, aku tak akan membatalkan pernikahan kami." Mata Haikal berkaca kaca. Dia kembali teringat seperti apa dulu dia menuduh Rere. "Kenapa Ibu malah memihak pada Meo?"
Bu Risa menggeleng cepat. "Itu tidak benar Nak. Ibu tidak memihak siapapun diantara kalian berdua. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian."
"Terbaik?" Haikal tersenyum miring. "Terbaik untuk Meo, tapi tidak untukku." Haikal menunjuk dirinya sendiri.
Lagi lagi Bu Risa menggeleng. Dia menyeka air mata yang membasahi pipinya. "Apa kau lupa Haikal, ibu pernah bertanya sebelum memberi restu pada Romeo. Jika Rere benar benar diperkosa, apakah kamu masih mau menikahinya? Dan kau menjawab tidak kala itu. Ibu harap kau masih belum lupa dengan kata katamu."
Haikal berdecak pelan. Menyesal dulu pernah berkata seperti itu. Tapi saat itu, dia sedang marah pada Rere.
"Tapi kenapa Ibu tak memberitahu jika Meo yang memperkosa Rere?"
"Aku bisa Bu. Aku bisa karena aku mencintai Rere."
Bu Risa menggeleng lalu berjalan mendekati Haikal.
"Itu tidak akan mudah seperti hanya berkata kata nak. Kau dan Meo adalah saudara. Kalian akan selalu berinteraksi. Lain halnya jika pelakunya orang lain. Mungkin lama kelamaan luka itu hilang karena kau tak melihat wajah pria itu. Tapi Meo, kalian akan terus berhubungan karena kalian saudara."
Haikal memejamkan mata. Ibunya benar, ini tak mudah. Inikah alasan Gina memilih Romeo untuk memperkosa Rere. Agar sampai kapanpun, dan meski sudah tahu yang sebenarnyapun, Haikal tetap tak akan bisa bersama Rere.
"Ibu takut jika kalian menikah, rumah tangga kalian justru tak akan bahagia. Kau akan membenci Meo seumur hidup dan mungkin tak ingin melihatnya karena bisa menimbulkan luka. Dan Rere, dia akan tersiksa dengan rasa bersalah padamu. Dan satu lagi, akan ada anak yang selalu mengingatkanmu jika Rere pernah disentuh oleh pria lain. Ibu takut kalian tak akan bahagia jika dipaksakan menikah. Ibu melalukan ini karena menginginkan kau bahagia Haikal." Bu Risa meraih tangan Haikal lalu menggenggamnya.
__ADS_1
"Kau bisa melupakan Rere dan mendapatkan wanita lain. Hidup bahagia tanpa dihantui rasa tak nyaman. Sementara Meo, ibu merasa dia wajib tanggung jawab karena perbuatannya. Mungkin dengan menikahi Rere, dia bisa sedikit memaafkan dirinya sendiri karena telah merusak kehidupan seorang gadis tak bersalah."
"Maafkan aku Kal. Aku bersumpah, aku tidak tahu jika wanita yang aku nodai malam itu adalah calon istrimu."
Haikal hanya diam mendengar permintaan maaf Romeo. Dia teringat perkataan Febbi, jika Gina telah memperdaya Romeo dengan memanfaatkan dendamnya.
"Tapi yang kau lakukan tetap salah Meo. Siapapun wanita itu, Rere ataupun anak tiri ayah, kau tak pantas untuk melecehkannya."
"Ya, kau benar. Aku salah, dan tak akan pernah pernah mencari pembenaran atas perbuatanku. Bahkan aku siap jika harus dipenjara. Aku siap mempertanggung jawabkan perbuatanku."
Bu Risa memejamkan matanya. Meski Romeo mengatakan siap dipenjara, tapi sebagai ibu, jelas dia tak siap. Dia tak akan sanggup melihat putranya mendekam dibalik jeruji besi.
"Ibu akan mendatangi keluar Rere. Kalau perlu, ibu akan berlutut di kaki mereka agar mereka tak melaporkan Meo kepolisi." Bu Risa menyeka air matanya. Gegas masuk kedalam kamar untuk mengambil tas dan pergi menemui keluarga Rere.
"Ibu, tolong jangan lakukan itu." Haikal menahan lengan ibunya. Dia tak sanggup melihat ibunya merendah seperti itu.
"Lepaskan ibu Kal, ibu harus kerumah Rere."
Romeo beranjak dari duduknya lalu menghampiri ibunya. "Sudahlah Bu, biarlah mereka yang mengambil keputusan. Jangan beratkan mereka dengan permohonan ibu. Rere berhak mendapatkan keadilan Bu. Jika mereka tak melaporkan Meo, itu artinya Gina juga akan bebas dari hukuman."
"Tapi ibu tak rela kamu dipenjara Meo, ibu tak rela." Bu Risa memeluk Romeo sambil menangis.
Meskipun kedua anaknya melarang, dia tetap akan nekad menemui keluarga Rere untuk minta maaf.
__ADS_1