Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
IKHLAS


__ADS_3

Dari atas brankar, Rere tersenyum melihat Romeo yang tidur meringkuk diatas sofa. Suaminya itu pasti lelah karena sejak semalam tak tidur. Sedangkan dia, setelah diperiksa dokter dan menyusuii baby, dia tertidur. Romeo yang dengan setia menjaganya dan baby selama dia tidur tadi. Dan pria itu baru mau tidur setelah Rere memaksanya.


"Assalamualaikum." Suara salam terdengar bersamaan dengan pintu kamar rawat Rere terbuka. Terlihat Bu Risa dan Haikal masuk, masing masing membawa tote bag besar yang entah apa isinya.


"Waalaikumsalam." Sahut Rere sembari mendudukkan badannya. "Ibu."


"Sayang." Bu Risa meletakkan bawaannya diatas meja, mendekati Rere lalu memeluknya. Mencium kening serta puncak kepalanya berkali kali sebagai ucapan terimakasih atas perjuangannya melahirkan cucu untuknya. "Kenapa tak bilang ibu saat mau melahirkan. Tau begitu ibu akan kesini lebih awal untuk menemanimu. Dan Haikal," Bu Risa memelototi Haikal yang berdiri disebelahnya. "Bisa bisanya dia tak memberitahu ibu jika kamu mau lahiran." Terlihat sekali ekspresi kesal diwajah Bu Risa.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Haikal tak memberitahu. Mengingat kondisi rumah tangga Rere dan Romeo yang tidak baik baik saja, dia tak mungkin menyuruh ibunya datang. Dia takut ibunya akan mendapatkan pengusiran dari keluarga Rere. Dan pagi tadi, saat Romeo memberitahunya, Haikal baru mengabari ibunya, itupun setelah siang hari.


"Selamat ya Re," ujar Haikal.


"Makasih Kal."


Pandangan mata Bu Risa langsung tertuju pada box bayi, dimana seorang bayi mungil nan tampan tengah tertidur pulas. Segera didekati dan digendongnya putra Romeo itu.


"Masyaallah, tampan sekali cucu nenek. Mirip sekali dengan Meo." Seketika Bu Risa menyadari jika sejak tadi, Romeo hanya diam saja. Awal dia masuk tadi, dia pikir Romeo hanya sedang rebahan. "Jadi sejak tadi dia tidur?" Bu Risa mengela nafas sambil geleng geleng melihat penampakan putranya diatas sofa.


Haikal dan Rere ikut menatap kearah Romeo.


"His, anak ini," desis Haikal. "Rom_"


"Biarkan saja, dia baru tidur. Kasihan tak tidur sejak semalam." Rere menghentikan Haikal yang berniat membangunkan adiknya.


Bu Risa tersenyum mendengar ucapan Rere. Melihat menantunya itu kembali perhatian, dia yakin hubungan Romeo dan Rere sudah lebih baik.


Haikal mendekati ibunya, dia ingin melihat wajah keponakannya. Meski masih bayi, sudah terlihat garis ketampanannya.


"Tadi Ibu bilang apa, dia mirip Meo? Perasaan mirip Haikal deh Bu."


"Enak aja," sahut Romeo cepat. Ternyata dia sudah bangun sejak awal kedatangan ibunya tadi. "Dia anakku, sudah tentu mirip denganku. Bagaimana ceritanya bisa mirip denganmu." Romeo tak terima dengan ucapan Haikal.


"Apa kau tak bisa lihat, hidung dan matanya mirip denganku." Haikal masih saja berusaha mencari kesamaannya dengan baby boy.

__ADS_1


"Gak usah ngaku ngaku deh Kal." Romeo bangun lalu menghampiri ibunya untuk mencium tangan.


"Udah udah jangan berisik, nanti cucu ibu bangun. Kalian berdua itu mirip. Jadi kalau anak ini mirip Meo, jadi sedikit sedikit juga mirip Haikal." Bu Risa menengahi. Sedangkan Rere, dia hanya tersenyum. Tapi lega juga, setidaknya apa yang dia takutkan tak terjadi, kehadirannya tak membuat hubungan kakak beradik itu mereka merenggang.


Oek oek oek


Baby boy tiba tiba terbangun dan langsung menangis.


"Tuh kan, gara gara kalian berisik, dia jadi nangis." Bu Risa menimang nimang sambil menepuk nepuk pantat baby boy agar tidur kembali. Tapi bukannya tenang dan kembali tidur, tangisnya malah makin kencang.


"Sepertinya dia sudah waktunya menyuusu Bu." Rere mengulurkan tangannya, meminta baby boy diberikan padanya untuk disusui. Asinya belum terlalu deras, jadi dokter menyarankannya untuk sering sering mengasihi agar asinya makin lancar.


"Keluar." Romeo mendorong punggung Haikal kearah pintu keluar.


"Apaan sih, aku baru datang, main usir aja."


"Istriku mau mengasihi, itu pun tak paham," kesal Romeo.


"Astaga." Haikal akhirnya paham lalu keluar, begitupun dengan Romeo. Keduanya lalu pergi kekantin untuk membeli kopi dan mengobrol sebentar.


Disebuah bangku panjang, keduanya duduk berdampingan sambil sesekali menyeruput kopi.


"Sepertinya hubunganmu dengan Rere sudah membaik." Ujar Haikal sambil menyulut rokok ditangannya.


"Sudah lebih baik, meski aku yakin, dia belum sepenuhnya bisa memaafkanku."


"Semua butuh waktu. Kau tidak dilaporkan kepolisi saja, sudah bagus. Jadi jangan paksa Rere secepatnya memaafkanmu. Aku yakin seiring berjalannya waktu, dia akan bisa memaafkanmu meski tak akan pernah bisa melupakan apa yang sudah kau perbuat padanya."


Romeo mengangguk lalu menyeruput kopinya. Yang dikatakan Haikal benar, tak dilaporkan polisi saja, sudah sangat beruntung, jadi jangan memaksa untuk dimaafkan.


"Untungnya dia tak sadar kala itu. Bahkan setelah kejadian itu, dia juga tak tahu kebenarannya jika sudah diperkosa, kalau tidak, dia pasti akan mengalami trauma."


Romeo juga sempat kepikiran seperti itu.

__ADS_1


"Apa kau masih mencintai Rere?"


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Haikal seketika menoleh kearah Romeo.


"Apa kau menyesal dulu sudah membatalkan pernikahan kalian?" Romeo kembali bertanya.


Haikal tersenyum getir. Jelas dia sangat menyesal. Tapi waktu tak bisa diputar kembali, menyesalpun tak ada gunanya. Mungkin sekarang waktunya memperbaiki keadaan, bukan menyesal tanpa ujung.


"Apa kau akan melepaskan Rere jika aku bilang masih mencintainya?"


"Jangan mimpi."


Haikal tergelak mendengar jawaban cepat dan lugas Romeo.


"Aku sungguh tak pernah berniat merebut wanitamu. Semua terjadi tanpa sepengetahuanku. Dan disaat kau memutuskan untuk melepasnya, saat itu pula, tekadku bulat untuk memilikinya. Dan sejak saat itu juga, aku tak berniat melepaskannya untuk pria manapun, tak terkecuali dirimu. Rere milikku, dan akan selalu menjadi milikku. Apa aku terdengar egois?"


"Sedikit, tapi aku suka kebulatan tekadmu untuk selalu menjadikan Rere milikmu.Tak seperti aku, yang lebih percaya pada orang daripada wanita yang aku cintai. Dan pada akhirnya, hanya bisa menyesal."


"Kal, jika ada dua pilihan antara kembali mengejar Rere atau mengikhlaskannya untukku, apa yang akan kau pilih?"


Haikal tersenyum lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Tidak akan ada pilihan seperti itu. Karena hanya Rere, si pemilik hati itu yang berhak menentukan kemana hatinya akan berlabuh. Dan dia," Haikal menjeda kalimatnya, menoleh kearah Romeo sambil tersenyum. "Memilihmu."


"Itu artinya, kamu sudah ikhlas aku bersama Rere?"


Haikal mengangguk meski berat.


"Terimakasih Kal." Romeo meletakkan cup kopinya lalu memeluk Haikal.


"Apa aku sudah terlihat seperti kakak yang keren?" goda Haikal.


Romeo langsung melepaskan pelukannya mendapat pertanyaan seperti itu.


"Sedikit lagi. Mungkin jika kau memberikan hadiah yang mahal untuk anakku, kau baru bisa disebut kakak dan uncle yang keren."

__ADS_1


"Dasar." Haikal menoyor kepala Romeo sambil geleng geleng.


"Meski aku tak pernah bahagia memiliki ayah seperti Haris, setidaknya memiliki ibu dan kakak sepertimu, membuatku bersyukur."


__ADS_2