
Febbi hanya diam sambil menunduk. Dia ingin memohon maaf, tapi rasanya tak pantas mendapatkan maaf. Kesalahannya pada Rere sangatlah besar.
"Sampai kapan kita berdua hanya akan diam seperti ini? Aku sudah memberimu kesempatan untuk membela diri, kenapa hanya diam?" Ujar Rere datar tanpa melihat kearah Febbi.
Awal Febbi datang tadi, Pak Tomas hendak mengusirnya, tapi Rere melarang. Dia ingin mendengar penjelasan Febbi. Seorang teman, tega berbuat sekeji itu, dia ingin mendengar alasan dan pembelaan diri temannya itu.
"Maaf." Ujar Febbi dengan suara bergetar menahan tangis.
"Hanya itu? Tak inginkah kamu mencari pembenaran, membela diri?"
Febbi menggeleng. "Tidak ada pembenaran atas perbuatan pengkhianat sepertiku. Tapi, aku dipaksa, diancam. Sedangkan Romeo, dia hanya dibodohi. Semua ini rencana Gina."
Rere tertawa ringan mendengarnya. "Jadi seperti itu pembelaan dirimu, bahwa kamu tak sepenuhnya bersalah? Dan semua ini salah Gina?"
"Aku tidak bilang aku tidak bersalah. Hanya saja, aku dan Romeo mau berusaha untuk memperbaiki keadaan sebagai bentuk tanggung jawab. Tolong pertimbangkan lagi Re, jangan laporkan kami kepolisi." Febbi menangis, badannya gemetaran. Dia benar benar takut dipenjara. Dia adalah tulang punggung keluarga, sampai rela menjadi sugar baby demi uang. Kalau sampai dia dipenjara, dia tak tahu seperti apa nasib keluarganya nanti.
"Kata Haikal, kau yang membantunya menghapus foto bugilku diponsel Gina." Rere memejamkan mata sambil mencengkeram pinggiran sofa. Dia baru tahu dari Haikal jika selama ini, Gina menyimpan foto foto bugilnya untuk mengancam Romeo agar tutup mulut. Dia tak bisa membayangkan betapa malunya dia jika sampai foto tersebut tersebar.
"Benar, bisakah kau menggunakannya sebagai pertimbangan agar tak melaporkan kami ke polisi?"
Rere tersenyum sambil menatap Febbi. "Aku tak tahu terbuat dari apa hati kalian bertiga. Tega teganya memperlakukanku sehina itu." Rere tak mau menangis di depan Febbi. Dia tak ingin terlihat lemah. Sudah cukup mereka membodohinya selama ini. "Dan pagi itu," Rere tersenyum getir. "Kalian pasti menertawakan kebodohanku yang tak tahu apa apa. Aku seperti orang gila yang bingung dengan kondisiku, tapi kalian. Kalian sangat pintar berakting. Kalian bilang tak terjadi apa apa padahal kalian pelakunya." Nafas Rere mulai memburu. Dia berusaha untuk tidak berteriak meski rasanya, ingin sekali memaki Febbi dengan kata kata kotor.
__ADS_1
"Maaf Re, maaf." Febbi beringsut dari sofa dan berlutut didepan Rere. "Aku tahu, setelah apa yang aku lakukan padamu, tak tahu diri sekali jika aku memohon untuk tidak dilaporkan ke polisi. Tapi aku memang setakut itu dipenjara Re. Dan kamu tahu sendirikan, semua keluargaku bergantung padaku. Tolong fikirkan mereka Re." Febbi sesenggukan sambil memegang kaki Rere.
"Apa dulu, kamu memikirkan perasaanku sebelum melakukannya?" bentak Rere. "Apa kau kira kehormatanku tak ada harganya hingga bisa semudah itu kalian merencanakan pemerkosaan itu?" Meski berusaha untuk tidak menangis, air mata Rere tetap memaksa jatuh. "Apa kau tahu seberapa hancurnya aku saat itu Feb? Aku hamil tanpa tahu siapa ayahnya, pernikahanku dibatalkan, padahal hanya tinggal menunggu hari saja." Tangis Rere makin deras saat mengingat betapa hancurnya dia saat itu.
"Maafkan aku Re, maaf."
"Dan disuatu pagi, hampir saja aku yang putus asa melakukan bunuh diri. Apa kau tahu itu hah?" bentak Rere. Dia menarik kakinya dari tangan Febbi lalu berdiri.
"Maaf Re, maaf. Aku terpaksa, aku diancam oleh Gina. Aku terlalu takut statusku sebagai wanita simpanan ketahuan. Aku takut dipecat dari pekerjaan jika diviralkan. Tak hanya itu, kekuargaku pasti kecewa jika mereka tahu aku memberi makan mereka dengan uang haram. Ibuku sakit sakitan Re, aku takut terjadi sesuatu padanya jika dia tahu putri yang dia banggakan ternyata tak lebih dari seorang simpanan, pelakor. Aku hanya tinggal memiliki ibu, aku tak mau kehilangannya Re. Maaf, maaf."
"Tapi tetap saja, hal itu tak bisa dijadikan alasan kamu membantu Gina merencanakan perkosaan terhadap diriku."
Febbi menyeka air matanya lalu berdiri.
"Tolong pertimbangkan lagi Re. Selain aku, pikirkan juga Romeo. Dia pria yang baik. Hanya saja Gina telah mencuci otaknya, memanas manasinya agar membalas dendam. Kalau dia mau, dia bisa saja kembali ke Jepang tanpa memikirkanmu. Tapi dia tak seperti itu, dia mau bertanggung jawab. Dan pria itu, sudah berhari hari tak pulang. Tidur didalam mobil diseberang rumahmu hanya untuk meminta maaf. Tak bisakah kau melihat kesungguhannya? Aku pulang dulu." Febbi mengambil tasnya yang tergeletak disofa lalu pergi.
Tangis Rere pecah sepeninggal Febbi. Dia makin bingung untuk mengambil keputusan. Febbi memang ikut andil dalam kejadian itu, tapi dia juga yang telah berusaha keras melenyapkan foto foto bugilnya. Dan Romeo, Rere makin galau lagi jika memikirkannya.
Jia menghampiri Rere lalu memeluknya. Menyandarkan kepala Rere didadanya sambil mengusap punggungnya.
"Apa yang harus aku lakukan Mah?"
__ADS_1
"Tanyakan pada hati kecilmu Nak. Apa menurutmu, Romeo dan Febbi pantas dipenjara? Selain itu, pikirkan dia juga." Jia mengusap perut Rere. "Jika kelak dia bertanya tentang ayahnya, apa kau sanggup mengatakan jika ayahnya dipenjara? Karena Romeo tak mungkin hanya dipenjara 1 atau 2 tahun saja, lebih lama dari itu. Tuntutan maksimalnya 12 tahun penjara. Romeo sudah mau bertanggung jawab, bahkan mama lihat, dia memperlakukanmu sangat baik. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita selain diratukan oleh suaminya. Jadikanlah itu sebagai pertimbangan."
.
.
.
Malam itu, Rere yang tak bisa tidur dikagetkan dengan suara petir yang sangat kencang. Tak berselang lama, hujan turun dengan sangat deras.
Romeo, dia langsung teringat pria itu. Apakah dia masih didalam mobil, belum pulang?
Hujan tak kunjung reda hingga lama, membuat Rere makin memikirkan Romeo.
"Biar mama suruh dia masuk Pah. Setidaknya malam ini saja, biarkan dia tidur didalam rumah. Mama kasihan padanya."
"Biarkan saja, jangan mengurusi dia. Ayo kekembali ke kamar."
Dari dalam kamar, Rere bisa mendengar suara ribut kedua orang tuanya. Jadi Romeo masih ada diluar.
Setelah tak mendengar suara kedua orang tuanya, Rere keluar dari kamar. Dia berjalan menuru ruang tamu. Mengintip keluar dari balik tirai. Dia bisa melihat mobil Romeo terparkir diseberang jalan. Didepan rumah kosong yang sejak sebulan lalu ditinggal penghuninya karena dipindah tugaskan.
__ADS_1