Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
BENCI TAPI CINTA


__ADS_3

Romeo duduk disebuah kursi yang terletak disamping brankar. Matanya tak lepas menatap baby boy yang sedang asik meny usu. Pemandangan itu terlihat sangat yang luar biasa baginya. Makhluk sekecil itu, yang baru saja melihat dunia, sudah punya naluri untuk mencari sumber kehidupannya. Bahkan langsung bisa menghi sap tanpa diajari.


Diruangan itu, hanya tinggal mereka berdua serta seorang suster yang beres beres, yang lainnya sudah pada keluar termasuk dokter.


Rere merasa tak nyaman dengan tatapan Romeo kearah dadanya. Dia berusaha menarik selimut lebih keatas untuk menutupinya dari pandangan Romeo.


"Kenapa, tak nyaman aku melihatnya?"


"A, aku_" Rere bingung harus menjelaskan.


"Percayalah, aku sedang fokus menatap mulut mungil yang sibuk menyusu itu, bukan lainnya. Dan bukankah, itu halal untuk aku lihat?" Rere kehabisan kata kata mendengar itu, karena yang dikatakan Romeo adalah benar. "Tapi jika kau tak nyaman, aku akan melihat kearah lain."


Romeo memutar badannya. Yang tadinya duduk menghadap Rere, sekarang menghadap kearah lain. Baginya, yang terpenting adalah kenyamanan Rere.


Rere menatap wajah baby boy yang sedang berada diatas dadanya. Diusapnya pelan kulit halus kemerah merahan itu. Rambutnya sangat hitam dan lebat. Dan yang paling membuatnya kehabisan kata kata, wajah baby boy sangat mirip dengan Romeo.


"Sepertinya dia sangat takut tidak diakui. Wajahnya sangat mirip denganmu?"


Entah Romeo yang terlalu baper atau apa, kata kata Rere terdengar seperti sindiran baginya. Dia jadi teringat niat awalnya dulu. Dia ingin membuat wanita yang dia perkosa hamil tanpa tahu ayahnya, itu artinya, dia berniat tak mau tanggung jawab.


"Aku memang seburuk itu." Ternyata mengakui kesalahan itu memang sesuatu yang sulit, buktinya Meo merasa sangat berat sekali untuk mengatakan itu. "Tapi bukankah seseorang bisa berubah? Aku tak akan memintamu bertahan demi anak. Karena aku yakin itu bukan hal yang tepat. Tapi_" Romeo tak tahan untuk terus bicara tanpa melihat lawannya. Diapun akhirnya kembalu memutar duduknya menghadap Rere.


"Tapi bisakah kau memberiku satu kali lagi kesempatan. Bukan demi anak, tapi demi sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan kita bertiga." Romeo yang memang berasal dari keluarga yang toxic, tahu seperti apa beratnya hidup ditengah orang tua yang tak bahagia, yang setiap bertemu hanya bertengkar dan bertengkar. Dengan dalih bertahan karena anak, mereka justru membuat keadaan semakin buruk untuk anak itu sendiri.

__ADS_1


Rere hanya diam, dia tak tahu harus menjawab apa. Antara cinta dan benci, kedua rasa itu bercampur untuk Romeo.


Romeo meraih sebelah tangan Rere lalu menggenggamnya. "Aku akan selalu berusaha membuatmu dan anak kita bahagia. Jika kau percaya padaku, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikannya."


Rere tak bisa memberikan jawaban langsung, karena dia masih terlalu bingung dengan perasaannya sendiri. Benci tapi cinta, itulah yang Rere rasakan.


Romeo menyentuh kepala baby boy lalu mengusapnya pelan. Seketika jantung Rere berdebar, dia takut usapan Romeo mengenai area sensitifnya.


Selesai imd, Rere dipindahkan keruang rawat. Disana Jia dan Tomas terlihat girang karena akhirnya bisa melihat dan menggendong cucu mereka. Kebahagiaan yang tak terkira itu sampai mampu membuat Tomas melupakan Romeo. Tak lagi sibuk memarahinya meski mereka berada dalam satu ruangan yang sama.


Romeo hanya diam, duduk dikursi sebelah brankar sambil menyaksikan kebahagiaan mertuanya. Dia jadi tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini pada ibunya. Tapi dia masih menunggu sebentar lagi karena ini masih terlalu pagi.


Jia menimang nimang cucunya dengan senyum yang sangat lebar. Begitu banyak doa yang dia ucapkan untuk cucu pertamanya itu.


"Kau mau sesuatu?" tanya Romeo pada Rere. "Apa mau aku belikan makanan, mungkin kau lapar?"


Rere mengangguk, dia memang kelaparan saat ini. Tapi sayangnya belum ada makanan dari rumah sakit.


"Mau makanan apa?"


"Terserah kamu saja."


"Aku pergi dulu. Hanya sebentar, karena aku tak akan sanggup berlama lama tak melihatmu." Ujar Romeo sembari beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Rere mendesis pelan. Heran dengan Romeo yang masih saja bisa menggombal disaat hubungan mereka sedang tak baik baik saja.


"Pah, Mah, saya mau keluar nyari makanan buat Rere. Apa kalian mau sesuatu, biar sekalian saya belikan?"


"Tidak perlu, pergilah," sahut Tomas ketus.


Jia geleng geleng melihat suaminya yang kembali ke mode awal. Padahal tadi sepertinya sudah mulai ramah saat melihat cucunya.


"Em..bisa tolong sekalian belikan mama roti, mama juga lapar." Sejak kemarin siang, Jia memang belum makan sama sekali.


Romeo mengangguk lalu keluar ruangan.


Disaat mereka hanya bertiga, Tomas langsung mendekati Rere dan mengajaknya bicara. "Apa kamu dan Romeo sudah baikan?" Dia sangat penasaran karena sejak tadi, Romeo duduk didekat Rere. Bahkan tak sengaja Tomas melihat Romeo memegang tangan Rere.


"Pah, Rere baru selesai melahirkan. Apa harus membicarakan itu saat ini. Dia itu lelah, biarkan dia istirahat," omel Jia.


"Jika aku memutuskan untuk berdamai dengan keadaan dan kembali bersama Romeo, apa papa merestui?"


"Tidak." Sahut Tomas cepat. "Dia bukan pria yang baik."


Rere menggeleng. "Dia pria yang baik. Hanya saja dia pernah pernah khilaf. Bukankah manusia memang tempatnya salah?"


"Mama setuju kalau kamu dan Romeo baikan. Anak ini butuh ayah. Dan mama lihat, ikatan batinnya dengan Romeo sangat erat. Dia bahkan hanya mau keluar saat ditemani papanya."

__ADS_1


Tomas berdecak sebal mendengar istrinya lagi lagi membela Romeo.


__ADS_2