
Bu Risa bernafas lega saat hakim memutuskan dia dan Haris bercerai. Rumah serta beberapa bidang tanah jatuh ketangan Bu Risa, begitu juga dengan mobil yang ada dirumah mereka. Romeo ikut merasakan lega. Akhirnya sang ibu bisa lepas dari pria yang tak pernah lagi dia anggap ayah itu.
Setelah mengucapkan terimakasih pada pengacara, mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari pengadilan. Disaat bersamaan, Haris juga keluar. Pria itu menatap nyalang kepada mantan istri yang mendapatkan harta gono gini lebih banyak dari perkiraannya.
"Dimana istri anda? Bukankah ini hari yang bersejarah? Harus dia ada disini bersama anda. Berbahagia karena akhirnya bisa menjadi istri satu satunya." Sindir Romeo sambil menyeringai.
"Diam, tak perlu mengurusi keluargaku, dasar anak durhaka." Maki Haris sambil melotot tajam kearah Romeo.
Bu Risa tak yang tak terima dengan sebutan anak durhaka itu langsung maju. "Sebelum bicara, berkacalah dulu. Sudahkah kamu menjadi ayah yang baik?"
Haris berdecak pelan mendengar pertanyaan itu. "Sepertinya kau sangat sukses mendidik kedua putramu untuk membenci ayah kandungnya. Ingat Risa, kalau tidak ada aku, mereka juga tidak akan ada." Haris menunjuk dirinya sendiri. "Dan siapa yang memberinya makan hingga sebesar ini, aku Risa." Sekarang dia ganti menunjuk Romeo. "Aku ayahnya yang telah memberi makan dan menyekolahkan mereka." Ujar Haris jumawa.
"Tenang saja Tuan Haris yang terhormat, saya tidak akan pernah lupa hutang budi tersebut." Sahut Romeo lantang. "Kalau anda mau, mulai bulan depan, saya akan mengirim uang bulanan untuk anda. Anggap saja ganti rugi semua makanan dan uang pendidikan saya."
"Cih" Haris meludah didepan Romeo. "Aku tak sudi menerima uangmu. Anggap saja itu semua sedekahku untuk kalian."
Bu Risa mengelus dadanya yang terasa sesak. Tega teganya pria itu mengatakan jika nafkah yang dia berikan selama ini adalah sedekah. Dia pikir suaminya akan berubah saat sekarang mulai sakit sakitan dan sudah tak harmonis dengan istri mudanya, ternyata dia salah. Suaminya tetap tak berubah sama sekali.
Haris bersiap untuk pergi, tapi sebelum itu, dia menatap tajam sambil menyeringai kearah Rere.
__ADS_1
"Habiskan saja uangmu itu untuk menghidupi istrimu dan anak haramnya."
Jleb
Tak terkira sakitnya hati Rere. Ucapan ayah Romeo itu seperti pisau yang langsung menghujam jantungnya, sakit sekali.
"Jaga mulut anda." Romeo yang murka menarik tangan Haris saat pria itu hendak pergi. "Jangan pernah sekali kali menyebut anak saya anak haram," Bentaknya dengan tangan mencekal kuat pergelengan tangan Haris.
"Tapi memang seperti itu kan kenyataannya. Menjijikkan, bahkan wanita yang sudah dihamili pria lain saja kau mau menikahinya."
Tangan Romeo mengepal kuat, hampir saja dia memukul Haris jika saja Bu Risa tidak menahannya.
"Ayo kita pergi." Bu Risa tahu seperti apa kejamnya mulut mantan suaminya itu. Jika diperpanjang, kasihan Rere, akan terus dihinanya.
Romeo berjalan lebih dulu lalu membukakan pintu mobil bagian belakang untuk ibu dan istrinya. "Duduk dibelakang sama ibu ya," pinta Bu Risa.
Rere mengangguk lalu masuk lebih dulu kedalam mobil. Dia memalingkan wajah kearah jendela lalu menyeka air mata.
Romeo merasa sangat bersalah. Apalagi saat dia menoleh kebelakang dan mendapati Rere sedang terisak.
__ADS_1
"Jangan dimasukkan kehati ucapannya tadi. Dia bukan anak haram Re, dia anak kita," ujar Romeo.
Bu Risa meraih sebelah tangan Rere lalu menggenggamnya erat. "Benar kata Romeo. Dia anak kalian, cucu ibu. Bukan anak haram atau anak apapun sebutannya, karena setiap anak yang lahir itu suci."
Rere mengangguk, dia lalu menyandarkan kepala dibahu Bu Risa. Sungguh merasa beruntung karena memiliki suami dan mertua sebaik mereka, yang mau menerimanya serta anak dalam kandungannya dengan tulus.
"Ini kayak bukan mobil biasanya?" Bu Risa baru menyadari jika mobil yang dia tumpangi berbeda dengan biasanya. "Kamu baru beli mobil baru?"
"Bukan beli Bu, tapi fasilitas dari perusahaan. Alhamdulilah sekarang Romeo sudah gak perlu malu sama Rere karena meminjam mobilnya tiap hari." Ujar Romeo sambil tersenyum menatap Rere dari cermin spion tengah.
"Lihatlah anak ibu itu. Bisa bisanya dia malu karena memakai mobil istrinya sendiri. Padahal Rere selalu bilang, jika milik Rere, juga miliknya juga." Sahut Rere sambil ikutan menatap Romeo melalui spion.
Bu Risa tersenyum melihat kebahagiaan anak dan menantunya. Dia sangat berharap jika kebahagiaan ini bisa selamanya. Tak akan goyah meski Rere mengetahui fakta tentang ayah kandung bayinya.
"Gimana kalau nanti malam kalian nginep dirumah ibu?"
Rere jelas tak bisa langsung menjawab iya, begitupun dengan Romeo. Mereka takut canggung jika serumah dengan Haikal, terutama Rere.
"Bagaimanapun, Haikal tetap kakak ipar kamu." Bu Risa mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Rere. "Kamu tak mungkin akan terus kucing kucingan dengannyakan? Mulailah untuk menjalin hubungan persaudaraan dengannya. Romeo dan Haikal hanya dua bersaudara, ibu tak mau hubungan mereka sampai renggang."
__ADS_1
Rere membenarkan perkataan Bu Risa. Dia juga tak ingin hubungan dua saudara kandung itu renggang karenanya. Haikal adalah masa lalu, dan Romeo masa depannya. Harusnya sudah tak ada masalah lagi dia bertemu Haikal.
"Baiklah Bu, Rere setuju."