
Rere tersenyum begitu dia bangun. Menyenangkan sekali saat membuka mata, orang pertama yang dia lihat adalah Romeo. Wajahnya yang tampan membuatnya malas untuk beranjak. Ingin berlama lama menikmati keindahan paras jodohnya itu.
Disentuhnya pipi dan hidung Romeo menggunakan jemarinya. Dan saat sentuhannya mencapai bibir pria itu, dia teringat kejadian semalam. Mereka berdua berciuman sangat lama dan dalam. Hanya membayangkan saja, darah Rere terasa berdesir. Dia menggigit bibir bawahnya.
Astaga, aku tak mungkin menginginkannya lagikan?
Melihat Romeo yang masih pulas, Rere memberanikan diri untuk mengecup bibirnya. Ya, hanya kecupan singkat saja, tapi itu sudah membuatnya senang. Seperti ketagihan, Rere terus mengecupi bibir Romeo karena pria itu tampak tak terganggu.
Tapi lama lama, Romeo terbangun juga gara gara itu. Dia terkejut saat membuka mata, wajah Rere tepat ada dihadapannya.
Buru buru Rere menjauhkan dir saat tahu Remeo terbangun. Wajahnya merah padam karena malu.
"Kenapa berhenti?"
Rere seketika menggigit bibir dalamnya sambil pura pura melihat kearah lain. Sumpah demi apapun, dia sangat malu.
Menyadari hal itu, Romeo ganti mengecup bibir Rere, membuat istrinya itu langsung melotot karena kaget.
"Tidak perlu malu, aku juga melakukannya," Ujar Romeo sambil tersenyum.
Keduanya saling bertatapan untuk beberapa detik, lalu tertawa bersamaan. Romeo meraih kepala Rere lalu meletakkan didadanya.
"Kalaupun aku yang bangun pertama, aku pasti juga akan melakukan itu. Jadi tak perlu malu. Justru aku sangat suka diperlakukan seperti itu."
Rere lega mendengar itu. Setidaknya dia tak perlu malu malu banget.
"Hari ini, kamu jadi kepengadilan?"
"Hem."
Hari ini, sidang perceraian ibu dan ayah Romeo. Setelah proses yang lumayan panjang karena harta gono gini. Akhirnya hari ini sidang terakhir, dimana ayah Romeo akan mengikrarkan talak didepan hakim.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Rere.
"Tapi..."
"Please." Rere menengadahkan wajahnya menatap Romeo. Membuat ekspresi puppy eyes agar Romeo mengijinkan. "Kata teman temanku, sekarang ini banyak pasangan muda yang bercerai. Aku takut saja kamu ketemu janda cakep disana lalu kecantol."
__ADS_1
Romeo tergelak mendengar itu. Bisa bisanya Rere sampai kepikiran sejauh itu. "Ngapain kecantol janda, kalau istri sendiri aja belum diperawani."
Wajah Rere seketika berubah sendu, dia juga menarik kepalanya dari dada Romeo. Membuat Romeo sadar jika candaannya diartikan lain oleh Rere.
"Mak, maksudku_"
"Jangan berharap lebih Meo, aku sudah tidak perawan." Hampir saja Rere menangis saat mengatakan itu.
Romeo kembali meraih tubuh Rere lalu mendekapnya. "Maaf jika aku salah bicara. Bagiku, kamu tetap perawan sayang." Romeo mengecup puncak kepala Rere beberapa kali. "Aku mencintaimu Re, sangat mencintaimu."
Tok tok tok
Rere dan Romeo saling bertatapan saat mendengar ketukan pintu. Yang tak lama kemudian, disusul dengan suara mama Rere.
"Romeo, Romeo."
Wajah Romeo seketika tegang. Rasanya dia seperti sedang digerebek karena menyembunyikan anak gadis orang.
"Jangan takut, aku yang akan menjelaskan sama papa dan mama." Rere menahan tawa melihat wajah pias Romeo.
"Romeo, kamu sudah bangun?"
Dibalik pintu, Jia dan Tomas langsung syok mendengar Rere yang menjawab panggilan. Tadi Jia sempat memasuki kamar Rere, tak menemukan putrinya, dia mencarinya ketempat lain. Tapi nihil, tak ada Rere dimana-mana. Hanya satu tempat saja yang belum dicek, kamar Romeo. Dan ternyata, dugaanya benar, Rere ada disana.
Tanpa menunggu lagi, Tomas langsung membuka pintu kamar Romeo yang kebetulan tidak dikunci.
Brak
Wajah Tomas merah padam dan tangannya mengepal melihat Romeo dan Rere yang sedang turun dari ranjang. Sudah bisa dipastikan jika mereka tidur seranjang semalam.
"Kenapa kamu mengabaikan laranganku?" Tomas langsung manghampiri Romeo dan menarik kerah kaosnya.
"Pah, Pah, tolong jangan seperti ini." Rere berusaha menarik lengan papanya agar melepaskan kaos Romeo.
"Maaf Pah, tapi kami tidak melakukan apa apa." Romeo mencoba menjelaskan.
"Mungkin semalam memang tidak. Tapi ini tetap tidak benar. Bisa jadi besok atau lusa, kalian bisa kebablasan. Kamu sudah mengecewakan papa Romeo. Kamu tidak bisa dipercaya." Tomas sangat murka.
__ADS_1
"Tolong jangan salahkan Meo Pah. Rere yang mendatangi kamar Romeo semalam. Ini salah Rere."
Mendengar itu, Tomas langsung beralih menatap Rere dan melepaskan kerah kaos Romeo. Tangannya sudah terangkat keatas siap untuk memukul Rere. Dia tak menyangka jika putrinya serendah itu dengan mendatangi kamar laki laki.
Melihat tangan mertuanya, Romeo langsung mendekap Rere untuk melindunginya.
Jia mengusap punggung suaminya, terus terusan membujuk agar suaminya itu bisa bersabar. Pelan pelan, Tomas mulai menurunkan tangannya.
"Papa hanya ingin menyelamatkan dia dari dosa zina Mah." Tomas menunjuk kearah Rere yang menunduk ketakutan. "Sudah cukup kita lalai waktu itu sampai sampai Rere hamil. Dan sekarang, papa tak mau hal itu terulang lagi."
"Tapi kami tak melakukan apa apa Pah, kami bersumpah." Romeo kembali memberikan pembelaan. "Rere tak bisa tidur semalam. Dia ingin saya mengelus perutnya sebelum tidur. Hanya itu yang kami lakukan, tidak lebih."
Jia mengernyitkan kening. Aneh sekali Rere sampai tak bisa tidur jika perutnya tak dielus Romeo, padahal Romeo bukanlah ayah biologis bayi itu.
"Jangan bilang saat kami ada diluar kota, kalian selalu tidur bersama?"
"Maafkan kami." Romeo sangat menyesal mengatakan itu.
"Astaga." Tomas memijit mijit kepalanya yang terasa pusing.
"Tolong jangan salahkan Meo Pah. Tapi Rere beneran tak bisa tidur jika perut Rere tak diusap oleh Meo. Rere hanya bisa tidur setelah Romeo melakukan itu." Rere tak berani menatap papanya, dia masih sangat takut.
"Kadang memang ada wanita hamil yang seperti itu karena bawaan bayi Pah." Jia akhirnya bersuara. "Tapi rasanya sedikit aneh mengingat Romeo bukan ayah kandungnya."
"Tapi Romeo menyayangi anak ini dengan tulus Mah. Mungkin bayi ini sangat nyaman dengan perlakuan Romeo. Dan dia sudah menganggap Romeo seperti ayah kandungnya sendiri," ujar Rere.
Jia mengangguk. "Mungkin saja seperti itu."
"Tolong ijinkan kami tidur sekamar Pah. Saya janji tidak akan berbuat lebih selain hanya memeluknya. Saya kasihan jika Rere tak bisa tidur setiap malam."
"Pah please, boleh ya Pah." Rere memberanikan diri menggenggam tangan papanya.
Jia yang tahu seperti apa rasanya hamil tua, dan kadang memang susah tidur, jadi ikutan bersimpati.
"Ijinkan saja Pah. Kasihan juga jika Rere tak bisa tidur setiap malam."
Tomas masih diam, menimbang nimbang keputusan terbaik yang harua dia ambil. "Baiklah, tapi jangan dikunci pintunya. Papa akan datang untuk mengecek sewaktu waktu."
__ADS_1
Rere langsung mengangguk. "Makasih Pah."