
Rere kaget saat Romeo menunjukkan foto bugil Gina yang tersebar. Dia sampai tak bisa berkata kata. Membayangkan jika hal ini terjadi padanya. Kalau saja Haikal tak berhasil menghapus fotonya diponsel Gina, sudah pasti nasib yang sama akan menimpanya. Dan pasti, tak hanya dia yang malu, tapi seluruh keluarganya.
"Aku tak menyangka jika Gina yang selalu mengancam akan menyebarkan fotomu, malah berujung fotonya sendiri yang tersebar," ujar Romeo.
"Itu karena Tuhan tidak tidur. Dia menuai apa yang dia tabur." Mungkin salah bahagia diatas penderitaan orang lain. Tapi Rere tak bisa berbohong, dia merasa senang saat ini. Setidaknya meski dia tak melaporkan Gina ke polisi, wanita itu sudah mendapatkan hukumannya. "Orang orang yang jahat memang pantas mendapatkan hukuman."
Romeo mendadak diam, dia merasa kata kata tersebut juga tertuju padanya. Melihat ekspresi Romeo yang berubah, Rere baru sadar jika kalimatnya barusan mungkin sedikit menyentil Romeo.
"Apa aku juga sedang menunggu giliran untuk mendapatkan hukuman?" Wajah sendu Romeo membuat Rere merasa bersalah.
"Apaan sih ngomong gitu." Rere memeluk Romeo yang duduk disebelahnya sambil menyandarkan kepala dibahu pria tersebut. "Abang orang baik, mau tanggung jawab. Abang gak akan dapat karma, tapi kurma, hehehe." Rere tertawa renyah. Berusaha membuat lelucon meski itu bukanlah keahliannya.
"Sayangnya aku tidak suka kurma. Bolehkan milih yang lain, yang manis manis juga?"
"Apaan?" Rere mengangkat kepala sambil mengernyit menatap Romeo.
"Susu."
Rere seketika melotot sambil mencubit lengan Romeo, membuatnya mengaduh sambil mengusap lengan.
"Mesum banget jadi orang."
Romeo menahan tawa sambil menyentil pelan kening Rere. "Kamu yang mesum. Orang aku lagi haus, pengen yang seger seger. Tadi pas pulang kerja lihat kedai susu didepan komplek kayaknya enak. Sayang antri banget pas mau beli."
Rere menyebikkan bibir, menganggap jika Romeo hanya sedang beralasan saja agar tak dikatakan mesum.
"Gimana asi, udah lancar?" tanya Meo.
"Udah lumayan deres sih, tapi kayaknya belum cukup kalau buat diperah dan disimpan difreezer. Boy minta ***** mulu."
"Ya bagus, biar cepet gemuk." Romeo beranjak dari duduknya melihat baby boy yang sedang terlelap didalam box. Mencium pipinya yang menggemaskan lalu kembali menghampiri Rere yang duduk ditepi ranjang.
"Mana ponsel Abang?" Rere menengadahkan tangannya.
"Buat apa? Mau ngecek? Aku gak selingkuh." Selama ini Rere tak pernah mengecek ponselnya. Jadi saat wanita itu hendak melihat, Romeo jadi neting sendiri.
"Siapa juga yang bilang Abang selingkuh." Sahut Rere sambil terkekeh.
"Lalu?"
__ADS_1
"Siniin."
Romeo mengambil ponsel disaku celananya, membuka kuncinya lalu menyerahkan pada Rere.
Tangan Rere bergerak cepat membuka galery foto. Setelah menemukan foto bugil Gina, dia langsung menunjukkan pada Romeo.
"Masih mau disimpan? Mau dipelototin atau mau dibuat berfantasi?"
"Astaga." Romeo tergelak melihat bibir Rere yang mengerucut kedepan. Dia mengambil balik ponselnya lalu menghapus foto tersebut didepan Rere. "Aku sama sekali tak tertarik menyimpannya. Aku lebih tertarik melihat secara live milik istriku." Ujar Romeo sambil menatap kancing daster Rere yang terbuka bagian atas dan sedikit menunjukkan isinya yang menggoda.
"Tuhkan mesum." Rere buru buru membenarkan kancing daster yang tadi lupa dia tutup setelah mengasihi baby boy.
"Mesum sama istri sendiri itu halal, dianjurkan malah. Biar rumah tangga tetap harmonis."
"Ya tapi gak pas aku lagi nifas gini juga kali Bang."
Romeo memegang tangan Rere lalu menggenggamnya. Dia ingin sekali bertanya tentang sesuatu yang masih mengganjal dihatinya.
"Sayang."
"Hem..."
"Ada apa sih Bang?"
"Em....biasanya kebanyakan korban perkosaan mengalami trauma. Apa kamu juga merasakan yang sama. Apa saat aku menyentuhmu, kamu merasa tak nyaman?"
Rere menunduk dalam, terdiam cukup lama hingga membuat Romeo gelisah. Setelah berhasil membuat Romeo gelisah, Rere mengangkat wajahnya sambil tersenyum dan menggeleng.
"Aku tidak merasakapan apapun malam itu. Aku juga tak yakin telah diperkosa. Baru saat ketahuan hamil, aku sadar jika benar benar telah diperkosa."
"Jadi kamu baik baik saja saat aku sentuh?"
Rere mengangguk, sesaat kemudian memajukan wajahnya untuk mencium Romeo. Membuktikan pada suaminya itu jika dia baik baik saja. Keduanya sama sama memejamkan mata. Menikamati kerja bibir dan lidah yang memberikan kenikmatan yang luar biasa.
Oek oek oek
Pagutan bibir itu langsung terlepas. Keduanya sama sama tertawa lalu beranjak mendekati box baby boy.
"Suka banget sih ngerjain mama papanya." Romeo mengelus pipi boy yang memerah karena menangis.
__ADS_1
Rere mengecek popoknya, ternyata bayi mungil itu bab. Mungkin karena risih, dia jadi menangis. Rere mangambil popok baru, dan peralatan untuk cebok sikecil.
"Biar aku aja," ujar Romeo sambil menggeser tempat Rere.
"Emang Abang bisa?"
"Belum bisa, makanya mau belajar."
"Good." Sahut Rere sambil mengacungkang 2 jempolnya.
Romeo melakukan semuanya sesuai petunjuk Rere. Meski pergerakannya terlihat kaku, tapi dia sama sekali tak merasa jijik. Melakukannya dengan sangat hati hati dan telaten hingga selesai.
"Udah punya referensi nama belum buat baby?" tanya Rere yang saat ini tengah duduk disisi ranjang sambil mengasihi.
"Pakai nama pilihan kamu aja jika kamu udah punya. Perasaan sering sekali aku lihat kamu nyari nama diinternet." Romeo sengaja ingin memberikan kesempatan memberi nama pada Rere.
"Tapi belum ada yang menurutku cocok."
"Emang pilihannya apa aja, biar abang bantu milih?"
"Antara Ryuga, Raiden atau Raffasya?" Rere bingung antara 3 nama itu.
"Sengaja gitu, pilih awalan R?" Romeo terkekeh pelan. Mentang mentang kedua orang tuanya namanya awalan R, anaknya mesti R juga?
"Ish, malah diketawain. Emang abang punya nama apa?" tantang Rere.
"Ryuga bagus, artinya anak pertama dalam bahasa Jepang." Romeo yang lama di Jepang sedikit banyak paham bahasa Jepang.
"Yakin mau pakai nama Ryuga? Benaran abang gak punya ide nama sama sekali?"
"Sebenarnya ada sih. Tapi pakai nama pilihan kamu aja gak papa."
"Apaan?" Romeo tak yakin mau mengatakannya. "Apaan, kok malah diem?"
"Emm....Heaven, surga. Karena dia lahir dari wanita yang memiliki kecantikan luar dalam, seperti bidadari." Ujar Romeo sambil menatap wajah Rere. Wajah yang tidak akan pernah bosan untuk dia tatap. Wajah yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
Rere menunduk ditatap seperti itu. Wajahnya memanas dan memerah karena malu.
"Lihatlah Boy, mama kamu malu hanya karena papa menatapnya," goda Romeo. Dia mengangkat dagu Rere agar wanita itu menatapnya. "Menunduklah dihadapan pria lain, tapi jangan dihadapanku. Jangan membuatku rindu karena tak bisa menatap bidadariku."
__ADS_1