
Rere menarik kasar tangannya dari genggaman Haikal. Rahangnya mengeras dan sorot matanya tajam, menunjukkan pada Haikal jika dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Semua sudah berubah sekarang, tak seperti dulu lagi. Status mereka sudah berubah.
"Jangan diulangi lagi. Aku tidak mau Romeo sampai salah paham," Rere menegaskan.
"Apa Meo sering menyuruhmu melakukan hal hal yang tidak kau sukai?"
Rere mengernyit, tak paham apa maksud pertanyaan Haikal.
"Maksudku, apakah Meo sering memaksakan kehendaknya. Seperti tadi saat sedang makan."
Rere langsung tersenyum saat memahami maksud pertanyaan Haikal. "Sepertinya kau salah paham. Tidak ada pemaksaan atau terpaksa atau apalah istilahnya. Aku sendiri yang mau memakannya. Aku rasa kau sendiri juga tahu jika Meo hendak mengambil kembali makanan itu tapi aku yang bersikeras memakannya."
Menurutnya, menghindar dari Haikal adalah pilihan yang tepat. Daripada berdua seperti ini, takutnya malah timbul fitnah. Cukup sekali dia di fitnah berselingkuh, jangan sampai terulang lagi. Meski masih ada piring yang belum dicuci, Rere tak peduli lagi. Dia segera mencuci tangan lalu beranjak dari tempat itu.
"Apa kau bahagia?" Pertanyaan Haikal menghentikan langkah kaki Rere yang hampir saja keluar dari dapur. "Apa kau mencintai Romeo?"
Rere tak bisa diam saja diberi pertanyaan seperti itu. Segera dia membalikkan badan dan menatap Haikal sambil tersenyum. Dia ingin menunjukkan pada mantannya itu jika dia masih bisa bahagia meski telah dicampakkannya beberapa hari sebelum pernikahan.
"Ya, aku sangat bahagia. Bahkan melebihi bahagiaku saat bersamamu."
Jawaban telak itu membuat kedua telapak tangan Haikal langsung terkepal.
"Aku mencintai Romeo, begitupun dengan dia. Dan sebentar lagi, kebahagiaan kami akan semakin lengkap setelah anak kami lahir." Rere tersenyum miring sambil mengusap perutnya. Dia ingin Haikal tahu, jika didunia ini, masih ada pria sebaik Romeo yang bisa tulus mencintainya dan menerima anak dalam kandungannya.
"Apa kau tak penasaran dengan ayah kandung bayimu?"
Deg
Wajah Rere seketika pucat mendengar itu. Meski dia terkesan tak pernah mencari tahu siapa penanam benih dirahimnya, tapi dalam hati kecilnya, rasa penasaran itu tetap ada. Siapa sebenarnya pria itu? Dan kenapa dia tega melakukan ini padanya?
__ADS_1
"Maaf karena tak mempercayaimu. Sekarang aku sudah tahu yang sebenarnya Re, jika kamu benar benar diperkosa."
Andaisaja dulu Haikal berucap seperti ini, pasti dia bahagia. Tapi sekarang, sudah tak ada artinya lagi.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa tak dari awal dulu?" Rere tersenyum getir.
Haikal mendekati Rere, ingin sekali dia memeluk wanita dihadapannya itu. "Sekali lagi, aku minta maaf Re. Aku sangat menyesal dengan keputusanku saat itu." Dada Haikal terasa sakit sekali. Penyesalan memang selalu datang di akhir, dan perasaan itu sangat menyakitkan.
Rere langsung beringsut mundur saat Haikal hendak memeluknya. "Terlambat Kal, semua udah terlambat. Waktu tak bisa diputar kembali, menyesalpun tak ada gunanya."
"Tapi aku masih mencintaimu Re. Perasaanku masih sama seperti dulu. Bahkan meski aku membencimu, aku tetap mencintamu." Air mata Haikal meleleh saat mengucapkannya.
Rere mengeleng cepat. Haikal tidak boleh menyimpan rasa itu. Bagaimanapun, status mereka sekarang adalah ipar. Dia tak mau hubungan Haikal dan Romeo rusak karena sama sama mencintainya.
"Buang jauh jauh perasaan itu, karena aku sudah menjadi milik Romeo. Dan kami saling mencintai."
Rere menggeleng cepat sambil tersenyum. "Aku yang paling tahu apa yang aku rasakan Kal." Rere menepuk nepuk dadanya sendiri. "Tak peduli apa yang kau pikirkan, rasaku pada Romeo adalah nyata. Aku mencinta Romeo. Jatuh cinta padanya setiap hari, jam, menit bahkan detik. Pada orang yang telah sah menjadi suamiku."
Haikal tersenyum getir sambil memegangi dadanya yang sakit.
"Lagipula, bukankah kau sudah bersama Gina sekarang?" Rere masih ingat saat di cafe dulu, dimana Gina mengatakan jika Haikal menyatakan cinta padanya.
"Gina?" Haikal tersenyum miring.
"Ya, Gina sendiri yang bilang padaku jika kau menembaknya." Rere tersenyum miring, mengejek Haikal yang bilang masih mencintainya tapi menyatakan cinta pada wanita lain.
Haikal seketika tertawa. Makin muak lagi dia pada perempuan bernama Gina itu. Sepertinya selama ini, sudah terlalu banyak skenario yang ditulis sekaligus dimainkan olehnya. Dia tak boleh menunggu lebih lama. Mungkin rencana Febbi terdengar sedikit kejam, tapi sudahlah mungkin hanya itu satu satunya cara menghentikan kegilaan Gina.
"Apa kau percaya?" tanya Haikal.
__ADS_1
"Tidak ada alasan aku tidak mempercayainya."
"Dan jika aku bilang kalau Gina adalah dalang dibalik perkosaan yang menimpamu, apa kau juga percaya?"
Deg
Jantung Rere seperti berhenti berdetak mendangarnya. Gina, sahabatnya sendiri, menjadi dalang perkosaan yang menimpanya. Apa itu mungkin?
"Gina dalang dibalik ini semua Re. Dia wanita licik, wanita yang telah menyusun rencana pemerkosaan itu."
Tubuh Rere seketika terasa lemas. Wajahnya pucat pasi mengetahui fakta mengejutkan itu. Sangat masuk akan sekali jika semua itu ulah Gina, karena wanita itu ada disana. Dan semua kejanggalan yang dia rasakan waktu itu, akhirnya terjawab. Dia memang diperkosa malam itu.
Dan Febbi, apa itu artinya, sahabatnya itu juga termasuk salah satu dalangnya. Tubuh Rere bergetar hebat. Hampir saja dia terjatuh jika Haikal tak menahan bahunya lalu memeluknya.
Tangis Rere pecah dalam pelukan Haikal. Dia tak mengira jika orang terdekatnyalah yang melakukan semua ini. Tapi kenapa? Apa salahnya? Kenapa Gina dan Febbi tega melakukan ini padanya?
"Kenapa mereka sejahat ini padaku Kal, kenapa? Apa salahku?"
Haikal menggeleng cepat. "Bukan salahmu Re, bukan. Tapi Gina saja yang gila, dia psyco. Dia melakukan ini untuk membatalkan pernikahan kita. Dia terobsesi padaku Re."
Tangis Rere makin pecah. Dia tak menyangka ada orang sejahat Gina, tega merusak masa depan sahabatnya sendiri demi obsesinya.
Sementara itu, Romeo yang baru memasuki dapur, kaget melihat pemandangan menyesakkan. Dimana Rere tengah berpelukan dengan Haikal.
"Meo." Rere buru buru melepaskan pelukan Haikal begitu menyadari kedatangan Romeo.
.
Buat pada readers yang bingung atau bertanya tanya kenapa judulnya ganti? Jawabannya hanya satu, itu atas arahan dari editor. Kata editor, judul yang dulu kurang menarik, jadi disuruh ganti. Karya ini ikut lomba terjerat benang merah. Jadi sebisa mungkin, saya bekerjasama dengan baik sama editor.
__ADS_1