
Pagi pagi sekali, Haikal sudah mengetuk pintu rumah temannya. Tak pelak, pria yang masih tidur itu uringan uringan tak jelas. Padahal hari ini minggu, semalam dia main game hingga tengah malam dengan harapan hari ini tidur hingga siang. Tapi ternyata, Haikal sudah mengusiknya dipagi buta.
"Gue masih ngantuk banget Kal. Letak aja diatas meja, entar gue kerjain. Kalau udah selesai, gue hubungin lo." Ujar Dodit, teman satu kantor Haikal.
"Gue mau sekarang juga," tekan Haikal.
"Tapi gue masih ngantuk banget, baru sekitar 2 jam tidur."
"Gue gak minta gratis." Haikal mengambil dompet yang ada disaku celananya lalu melempar kesofa sebelah Dodit duduk.
Dodit memutar kedua bola matanya malas. Mengambil dompet disebelahnya lalu mengecek isinya. Melihat banyak uang merah disana, ngantuknya seketika hilang. Tak tanggung tanggung, dia langsung mengambil semua uang didompet Haikal lalu memasukkannya kedalam kantong celana kolornya.
Segera dia memperbaiki posisi duduknya lalu melakukan tugasnya. Dengan skill diatas rata ratanya, Dodit berhasil membuka laptop milik Gina. Karena Haikal masih di toilet, dia membuka buka laptop tersebut. Dia kaget melihat video syur yang pemainnya meski tak terlihat jelas, dia seperti mengenalnya.
"Lihat apa lo?" Haikal yang baru kembali dari toilet, gegas mendekati Dodit saat mata pria itu fokus menatap laptop. Dia pikir Dodit tengah menatap foto bugil Rere. Meski dia dan Rere sudah berakhir, tetap saja dia tak rela tubuh Rere dinikmati pria lain.
"Kal, gue gak salah lihatkan. I, ini Rere kan?" Dodit menunjuk video seorang wanita yang sedang digagahi oleh seorang pria. Wajah pria itu tak tampak karena menghadap bawah.
Tubuh Haikal langsung lemas melihat video itu. Dia menjatuhkan bobot tubuhnya disebelah Dodit dengan mata tetap menatap laptop. Segera Haikal menarik laptop tersebut, membawa kepangkuannya agar Dodit tak ikut melihat. Karena wajah si pemerkosa tak kelihatan, dia mengulang video dari awal dengan harapan bisa melihat wajah bajingan itu dan bisa mengenalinya.
"Ja, jadi ini yang buat pernikahan lo sama Rere batal?" Dodit masih merasa sedikit syok.
Haikal tak mempedulikan ucapan Dodit, dia masih fokus memperhatikan video itu. Ingin tahu seperti apa wajah si pemerkosa tersebut. Tapi lebih dari rasa ingin tahu itu, hati Haikal rasanya seperti dicabik cabik melihat wanita yang dia cintai sedang terbaring tak berdaya dan tubuhnya dinikmati oleh seorang bajingan.
Haikal memejamkan mata setiap kali melihat bajingan itu menghentakkan tubuhnya. Dan diakhir video, Haikal melihat pria itu mengecup kening Rere sebelum melepaskan penyatuan mereka.
Saat pria tersebut bangkit dari atas tubuh Rere lalu turun untuk memunguti pakaiannya, saat itulah Haikal dibuat syok. Tak mau sampai salah lihat, dia mempause video tersebut dan memperhatikan betul betul wajahnya.
"Meo." Tubuhnya seketika lemas seperti tak bertulang. Dia tak bisa lagi menyangkal jika pria divideo itu adalah Romeo, adiknya.
Bagaimana jika pria itu adalah aku?
Ucapan Romeo tempo hari kembali berputar diingatan Haikal.
.
__ADS_1
.
.
Romeo mengecup pipi Rere saat wanita itu tengah berdiri didepan kaca almari sambil memakai make up. Tak puas hanya sekali, Romeo mengulanginya terus menerus hingga Rere kesal. Menahan wajah Romeo agar tak lagi mendaratkan bibir diwajahnya.
"Meo, aku gak bisa pakai bedak kalau kamu kayak gini," omel Rere.
"Udah cantik meski gak pakai bedak." Romeo menangkup kedua pipi Rere lalu mencium bibirnya. Untung Rere belum memakai lipstik, kalau tidak, wanita itu pasti akan kembali mengomel karena lipstik nya hilang.
"Apa aku tidak diizinkan memakai make up?" Tanya Rere sambil mengangkat loose powder ditangannya.
"Kalau aku tak mengizinkan?"
"Aku tak akan memakainya. Bukankah seorang istri hanya dianjurkan cantik didepan suaminya saja?"
Romeo tersenyum mendengar jawaban Rere. Jarang jarang ada wanita yang rela tak memakai make up demi suami.
"Beruntung sekali aku punya istri spek bidadari kayak kamu." Puji Romeo sambil mengusap pipi Rere dengan punggung tangannya.
"Lebih segalanya itu lebih apa? Lebih jelek, lebih gendut, lebih cerewet atau lebih apa?"
"Meo." Rere melotot mendengar pertanyaan Romeo. Dia yakin Romeo paham lebih yang dia maksud, hanya saja pria itu sedang menggodanya.
Romeo menangkup kedua pipi Rere lalu menempelkan dahi mereka. Jantung Rere berdebar kencang, dia bisa merasakan hangatnya nafas Romeo dari jarak sedekat ini.
"Aku tidak butuh dan tidak mau yang lebih apapun itu. Karena aku hanya mau kamu, hanya butuh kamu, dan hanya ingin menua bersamamu."
Rere terharu mendengar kata kata itu. Romeo selalu bisa membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung dimuka bumi ini.
Rere memejamkan matanya saat merasakan bibir kenyal Romeo menempel dibibirnya. Tak hanya menempel, tapi mulai mengulum bibirnya. Mulut Rere perlahan terbuka, memberikan akses kepada Romeo untuk mengeksplor bagian dalam. Keduanya larut dalam ciuman yang lembut dan dalam. Sampai sampai, Rere merasakan suhu tubuhnya perlahan mulai meningkat.
Romeo menarik wajahnya menjauh setelah cukup lama mereka berciuman. Kalau diteruskan, takutnya malah kebablasan, meski sebenarnya, tak ada larangan baginya untuk menggauli Rere.
Meski ciuman itu sudah berakhir, tapi Rere masih saja terlihat gugup dan malu malu. Degup jantungnya juga masih tak beraturan.
__ADS_1
Romeo mengusap bibir Rere menggunakan ibu jarinya. Menyeka sisa saliva yang ada disana.
"Pakailah make up, tapi jangan berlebihan. Setelah itu kita berangkat ke toko."
"Terimakasih sayang."
Romeo terbengong mendengar Rere memanggilnya sayang. Sedangkan Rere, dia malah cengengesan sembari memoles bedak lalu mengaplikasikan lip tint dibibirnya.
Keduanya berangkat menuju juliet florist. Setiap hari minggu, Romeo memang selalu menemani Rere berjualan, sedangkan asisten Rere, diliburkan dihari ini.
Romeo kaget saat mereka tiba di juliet florist, sudah ada mobil Haikal terparkir dihalaman. Perasaan Romeo langsung tak enak. Firasatnya mengatakan, jika inilah saatnya. Karena tak mungkin pagi pagi Haikal sudah ada disini tanpa alasan.
"Kok ada mobil Haikal?" tanya Rere. Dia masih sangat ingat dengan mobil mantannya itu.
Romeo yang pikirannya kacau, tak mendengar pertanyaan Rere tersebut. Dia memarkir mobilnya disebelah mobil Haikal.
"Kamu kenapa tegang gitu Yang?" tanya Rere.
"Ti, tidak." Romeo melepaskan seatbeltnya.
Melihat mobil Romeo, Haikal yang ada didalam mobil langsung keluar. Dengan wajah penuh emosi dan kedua tangan terkepal, dia berjalan menuju pintu bagian kemudi mobil Romeo.
"Kalian gak sedang ada masalahkan?" Rere bisa melihat wajah Haikal yang seperti sedang emosi jiwa.
"Enggak kok." Romeo meraih tangan Rere lalu menggenggamnya. "Kamu ingatkan, apapun yang terjadi, cuma ingat satu hal, aku mencintaimu."
"Ya, aku tahu itu. Dan aku juga mencintaimu Sayang."
Romeo mencium tangan Rere lalu melepaskannya. Menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
Diluar, Haikal sudah sangat tak sabar menunggu Romeo keluar. Dan begitu Romeo keluar,
Bugh
Haikal langsung menonjok wajahnya dengan sangat keras. Tak puas sekali pukul, dia langsung menghajar Romeo.
__ADS_1
Rere yang baru keluar dari mobil, langsung menjerit melihat itu.