
Romeo dan Rere sampai dirumah saat sudah malam. Tak ada sesiapa dirumah karena Tomas dan Jia sedang pergi kerumah orang tua Jia yang ada diluar kota.
Romeo mengeluarkan barang belanjaan mereka termasuk box bayi. Rere memilih box dengan harga tejangkau meski Romeo menawarkan yang lebih mahal. Menurut Rere, box tidak terlalu penting karena bayi cepat besar.
Setelah memasukkan semua barang kedalam kamar Rere, Romeo mendekati Rere yang duduk ditepi ranjang. Istrinya itu tampak sangat lelah, membuatnya merasa bersalah karena mengajaknya berputar putar di mall.
"Mau aku pijat kakinya?" tawar Romeo.
Sebenarnya Rere sangat butuh pijatan itu, tapi rasanya sungkan. Romeo terlalu baik, dia tak ingin dianggap memanfaatkan kebaikannya.
"Tak perlu sungkan." Romeo bisa membaca itu diwajah Rere.
Romeo duduk disebelah Rere lalu membantu wanita itu menaikkan kaki kepangkuannya. Pijatan pelan disekitar betis, tungkai dan telapak kaki, rasanya benar benar nyaman, sampai sampai Rere menguap karena ngantuk.
"Kalau ngantuk, sambil rebahan saja." Romeo memberi saran.
"Tidak perlu, seperti ini saja."
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun meski kamu tertidur."
Rere menghela nafas lalu tersenyum. "Aku tak memikirkan sejauh itu. Aku yakin, Romeoku adalah pria yang sangat baik. Yang tidak akan pernah mengambil kesempatan saat wanita sedang tak berdaya."
Pijatan Romeo seketika berhenti. Nyatanya, dia justru kebalikannya.
"Kenapa, apa aku salah bicara?" Rere melihat perubahan diraut wajah Romeo.
Romeo menggenggam sebelah tangan Rere sambil tersenyum padanya. "Jangan terlalu menganggapku baik Re. Aku gak ingin kamu kecewa berat saat tahu aku tak sebaik itu."
"Tapi aku sangat yakin jika Romeoku, memang sebaik itu."
Rere menurunkan kakinya dari pangkuan Romeo. Menggeser duduknya semakin dekat lalu memeluk Romeo dari samping.
Tubuh Romeo membeku. Darahnya berdesir karena pelukan Rere. Ditambah lagi saat Rere menyandarkan kepala didadanya, rasanya Romeo kesulitan bernafas.
Perlahan lahan, Romeo mulai menggerakkan tangannya melingkar dipinggang Rere.
__ADS_1
Rere menarik wajahnya, menatap Romeo sambil tersenyum.
Cup
Mata Romeo seketika terbeliak saat bibir Rere mendarat dibibirnya. Hanya beberapa detik saja bibir itu menyentuh bibirya, tapi respon tubuhnya sungguh berlebihan. Jantungnya berdebar kencang, dan suhu tubuhnya seketika terasa panas. Bayangan malam panas itu menari nari dikepalanya.
Rere tersenyum melihat wajah Romeo yang merah padam. Ditambah lagi tatapan nanar pria itu yang membuatnya ingin tertawa.
"Apa kau tak pernah berciuman?" Rere menutup mulutnya menahan tawa. Padahal yang dia lakukan tadi hanya kecupan sekilas, bukan ciuman, tapi Romeo sampai segugup itu.
"A, aku.." Romeo tak mungkin bilang jika dia sudah pernah berciuman dengan Rere sebelumnya.
Cup
Jantung Romeo seperti berhenti berdetak saat Rere kembali melakukan itu. Segera dia dorong Rere saat wanita itu mulai menggerakkan bibirnya.
"To, tolong jangan seperti ini Re." Romeo menggeser sedikit tubuhnya lalu berdiri. Malam ini mereka hanya berdua dirumah, jangan sampai godaan seperti ini membuatnya khilaf. Merasakan bibir Rere yang mulai bergerak diatas bibirnya saja, rasanya dia sudah panas dingin.
Rere membuang pandangan kearah lain, menggigit bibir dalamnya untuk menahan tangis. Dia pikir Romeo menolak berciuman dengannya karena jijik, karena dia sudah pernah disentuh oleh pria lain bahkan sampai hamil.
Mendengar suara Rere yang bergetar, Romeo segera menarik bahu Rere agar menghadapnya. Dadanya terasa sakit saat melihat air mata Rere.
"Aku wanita kotor Meo, aku menjijikkan." Tangis Rere pecah setelah mengatakan itu.
"Astaga Re, aku tak pernah menganggapmu seperti itu." Romeo langsung mendekap Rere kedalam pelukannya. Berkali kali dia daratkan kecupan dipuncak kepala Rere karena merasa bersalah.
Rere menarik kepalanya lalu menyeka air mata. "Keluarlah aku mau tidur."
Romeo menggeleng. "Aku temani sampai kamu tertidur."
"Tidak perlu." Rere bangkit dari atas ranjang, menuju almari lalu mengambil daster disana.
Romeo mendekati Rere lalu memeluknya dari belakang. "Tolong jangan sakiti hatimu sendiri dengan berfikiran seperti itu Re. Penolakanku bukan karena jijik, tapi aku takut tak bisa menahan diri. Hanya ada kita berdua dirumah Re, aku tak mau sampai khilaf. Kamu masih ingatkan apa yang dikatakan papa?"
Rere melepakan belitan tangan Romeo lalu berbalik menghadap pria itu. Tadi dia pikir, Romeo pasti senang saat dia cium. Setidaknya, hanya itu yang bisa dia berikan pada Romeo sebagai ucapan terimakasih atas semua perhatian dan kebaikan pria itu selama ini. Tapi dia tak kepikiran kesana, tak tahu jika pria mungkin saja tak bisa menahan diri karena itu.
__ADS_1
"Gantilah baju dulu, biar aku kedapur untuk membuat susu."
Romeo keluar dari kamar Rere, membiarkan wanita itu berganti baju sementara dia sibuk didapur membuat susu.
Romeo kembali kekamar dengan segelas susu ditangannya. Rere yang sudah berganti pakaian segera meraih susu tersebut lalu menghabiskannya hinga tak tersisa.
"Sekarang tidurlah." Romeo tersenyum sambil mengusap kepala Rere. "Aku akan menemanimu sampai tertidur."
Rere naik keatas ranjang, merebahkan diri lalu menarik selimut sebatas dada. Baru kali ini Romeo menemaninya tidur. Meski pria itu duduk disisi Ranjang, tapi tetap saja Rere gugup. Dan karena itu, dia jadi tak bisa tidur meski sudah rebahan hampir 30 menit.
"Belum ngantuk ya?" Saat ini, justru Romeo yang sangat ngantuk.
Rere menggeleng. "Gak bisa tidur, baby gerak gerak terus."
"Benarkah?" Romeo meletakkan tangannya diatas perut Rere lalu mengusapnya pelan.
Melihat Romeo yang terus terusan menguap, Rere jadi kasihan. Menyuruhnya pergi rasanya percuma karena Romeo sudah bilang akan menemaninya hingga tertidur.
"Tidurlah disini jika mengantuk." Rere menepuk ranjang disebelahnya.
"Apakah boleh?"
Anggukan kepala Rere membuat Romeo yakin untuk naik keatas ranjang. Awalnya, situasi terasa sangat kaku karena keduanya sama sama gugup, hanya tangan Romeo saja yang bergerak mengusap perut Rere.
"Apa aku boleh tidur miring, aku lelah dengan posisi ini." Rere tak tahu sampai kapan matanya akan terus secerah ini, karena kantuk itu makin hilang saat Romeo naik keatas ranjang.
"Lakukan apapun yang membuatmu nyaman."
Rere berbaring miring membelakangi Romeo. Dia harap, posisi itu bisa membuatnya cepat mengantuk. Jika dia menghadap Romeo, yang ada akan makin gugup dan tak bisa tidur.
Romeo menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Rere. Melingkarkan lengannya dipinggang Rere lalu mengusap perutnya lembut.
"Apakah nyaman seperti ini?"
"Hem." Rere mengangguk. "Sangat nyaman."
__ADS_1