Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
KABAR MENGEJUTKAN


__ADS_3

Oek oek oek


Mendengar suara tangis Ryu, Romeo yang ada didapur bergegas menuju kamar. Dia geleng geleng kepala melihat Rere yang masih pules, tak terganggu sedikitpun dengan tangisan Ryu. Segera dia angkat Ryu dari dalam box, membawanya kedekat Rere sambil menepuk nepuk lengan istrinya.


"Sayang, Ryu nangis nih. Re, sayang, bangun."


Rere yang terbangun langsung kaget mendengar tangis Ryu. "Sayangnya mama lapar ya? Taruh sini Bang, biar aku nenenin." Rere menepuk ranjang sebelahnya. Tubuhnya terasa remuk, berat sekali hendak duduk untuk sekedar menggendong Ryu.


Bayi mungil itu langsung diam begitu mendapatkan yang dia mau. Sedangkan Rere, kembali memejamkan mata karena masih ngantuk.


"Capek banget ya?" tanya Romeo sambil membelai rambut panjang Rere.


"Hem, capek, ngantuk, badanku rasanya remuk."


Romeo tertawa ringan mendengar keluhan Rere. Semalam dia terlalu bersemangat, malakukan beberapa ronde hingga pagi.


"Maaf ya, udah bikin kamu capek."


"Apaan sih Bang pakai minta maaf segala. Udah jadi kewajiban aku untuk melayani kamu." Meski matanya tertutup, Rere masih menyahuti ucapan Remoe.


"Benar juga. Lagian kamu juga menikmatikan? Bahkan minta nambah terus," goda Romeo.


"Ish, orang Abang yang minta terus."


"Masak sih, perasaan kamu deh Yank."


"Abang."


"Kamu."


"Abang." Rere mendengus sebal.

__ADS_1


"Iya, iya, abang yang minta nambah terus. Tapi kamunya juga gak nolak, malah kamu yang minta coba coba berbagai macam gaya."


"Abang ih...." Rere mencubit lengan Romeo karena kesal. Bisa bisanya suaminya itu terus menggodanya.


"Ampun sayang, ampun, sakit, lepas." Cubitan Rere ternyata sakit juga, bahkan sampai meninggalkan bekas kemerahan dilengan Romeo. "Ya udah abang kedapur dulu, mau lanjut bikinin sarapan buat kamu."


"Emang mama kemana?"


"Kamu kayak gak tahu aja. Kalau minggu gini, mama sama papa jadwalnya quality time, pacaran mereka." Rere sampai lupa kalau sekarang hari minggu.


Romeo mencium pipi Ryu dan kening Rere lalu kembali ke dapur untuk lanjut membuat sarapan.


Bak chef profesional, Romeo membuat nasi goreng ala hotel bintang lima. Sengaja dia membuat sarapan spesial sebagai ucapan terimakasih pada Rere karena semalam. Dia senyum senyum sendiri jika ingat seperti apa semalam.


Selesai masak, dia kembali menuju kamar, menyuruh Rere mandi sementara dia memandikan baby Ryu.


"Yakin Abang bisa mandiin Ryu?" Rere masih khawatir.


Sementara Rere mandi kamar mandi dilantai dua, Romeo memandikan Ryu dibawah. Meski sedikit gemetaran dan gerakannya sangat kaku, tapi Romeo berhasil melakukannya hingga selesai. Bahkan saat Rere masuk kekamar, dia melihat baby Ryu sudah tampan dan wangi.


"Masyaallah, anak mama udah ganteng aja." Rere mencium pipi gembul Ryu. Bau khas bayi yang tercium membuat Rere terus terusan mencium Ryu hingga bedak diwajahnya habis.


"Pinterkan abang ngurusin Ryu?" tanya Romeo.


"Hem, pinter banget."


Romeo memeluk Rere dari belakang. Mengendus aroma sabun dan sampo yang menguar dari badan Rere.


"Setelah tadi babynya, kayaknya sekarang giliran mamanya." Tangan Romeo bergerak untuk melepaskan tali bath robe yang dikenakan Rere.


"Abang mau apa?" Rere menahan tangan Romeo.

__ADS_1


"Bantuin kamu ganti baju, biar gak iri sama Ryu."


"Apaan sih Abang." Rere terkekeh geli. "Aku udah gede, bisa sendiri." Tapi Romeo tak peduli, dia tetap menarik tali bath robe lalu menjatuhkan benda itu kebawah hingga tampaklah tubuh polos Rere. Dibalikkannya badan Rere lalu didekapnya erat sambil mencium bibirnya.


Rere tak bisa berkutik. Dia pasrah saja menerima perlakuan Romeo.


"Abang." Rere melototi Romeo saat ciuman mereka terlepas. "Jangan seperti ini, malu dilihat Ryu." Rere melihat kearah bayi yang sedang asik sendiri diatas ranjang.


"Iya, iya maaf. Abang ambilin baju ya." Romeo melepaskan pelukannya lalu membantu Rere ganti baju. Tak hanya sampai disitu, dia juga menyisir rambut basah Rere lalu mengeringkannya menggubakan hair dryer.


Disaat bersamaan, ponsel Rere berdering, ada panggilan masuk dari Febbi.


"Ya, Feb." Ucap Rere setelah telepon tersambung.


"Udah baca berita yang aku share ke kamu?"


"Berita apa?" Rere memang belum mengecek ponselnya sejak pagi.


"Gina Re, Gina meninggal."


Mulut Rere seketika terbuka lebar karena syok. Segera dia memutus sambungan telepon lalu membuak link berita yang dikirim Febbi.


Seorang gadis berinisial GF ditemukan meninggal disebuah klinik aborsi ilegal. Tubuh Rere gemetar saat membaca berita itu. Saat dia membuka internet, ternyata berita Gina sangat viral. Tampak ibunya yang tak terima mengamuk didepan wartawan. Anak seorang anggota dewan yang bulan lalu foto bugilnya tersebar luas, hari ini ditemukan meninggal, jelas berita itu langsung viral.


Berita lainnya tak kalah membuat Rere syok, orang yang menyebarkan foto Gina sudah tertangkap. Dari pengakuan tersangka dia dan 2 orang temannya sudah memperkosa Gina.


Romeo yang ikut membaca berita tersebut ikut kaget. Meski dia membenci Gina, tapi dia tetap kasihan melihat nasib tragis yang menimpanya.


"Kau mau kerumah duka?" tanya Romeo.


Rere mengangguk. "Kita kesana Bang. Apapun yang pernah dia lakukan padaku, aku sudah memaafkannya."

__ADS_1


Romeo mencium kening Rere, bangga pada istrinya yang berhati besar.


__ADS_2