Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MELAMAR


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Haikal, Bu Risa, Romeo dan Rere sudah sejak tadi berputar putar di daerah Paris residence. Berkali kali Romeo yang dipaksa turun untuk menanyakan alamat wanita bersama Rania, tapi sayang tak ada yang mengenalnya. Sampai sampai Romeo ingin mengamuk karena merasa dipermainkan Haikal.


"Pulang, aku capek." Gerutu Romeo yang baru masuk kedalam mobil setelah tadi keluar untuk bertanya pada seseorang yang berdiri didepan rumah.


"Pulang, rumahnya aja belum ketemu," sahut Haikal.


"Pikiran ibu kok makin gak enak gini Kal. Kamu itu mau ngelamar perempuan kok gak tahu alamat rumah, nomor telepon serta nama orang tuanya. Kira kira kita diterima gak nanti pas udah ketemu alamatnya?" Bu Risa jadi gelisah. Dari awal berangkat tadi dia sudah tak begitu yakin. Tapi demi Haikal dan agar dikira tak pilih kasih, dia menyanggupi ajakan putranya tersebut.


"Positif thinking aja dulu Bu, yakin bakal diterima."


Haikal teringat di baby shop hari itu. Saat dia bilang ingin langsung melamar, tanggapan Rania hanya tersenyum. Wanita itu menyangka jika Haikal hanya becanda. Tapi justru karena itu, Haikal ingin membuktikan jika dia tidak sedang becanda.


Romeo yang duduk dibangku depan menoleh untuk melihat Rere dan baby Ryu yang ada dibelakang bersama Bu Risa. Mereka saling menatap lalu sama sama membuang nafas berat. Beruntung baby Ryu sejak tadi anteng, kalau tidak, Romeo pasti udah ngambek dan memilih pulang sendiri daripada nurutin kemauan Haikal yang gak jelas itu.


Padahal harusnya malam ini Romeo dan Rere menikmati malam pertama karena masa nifas Rere telah berakhir. Tapi karena hingga jam 8 malam belum ketemu juga alamatnya, sepertinya mereka harus menunda malam pertama.


"Meo, turun gih. Coba tanya pada bapak bapak berpeci itu, siapa tahu kenal Rania." Haikal menepikan mobilnya didekat pria yang dia maksud.


"Capek Kal, udah ribuan kali aku tanya tapi gak ada yang tahu. Lagian paris residence ini luas, ada banyak blok, susah nyari alamat. Kalau saja kamu tahu nama orang tuanya atau nomor bloknya, mungkin lebih mudah." Keluh Romeo yang sudah terlalu lelah untuk bertanya lagi dan lagi.


"Lebay, ribuan kata kamu. Perasaan baru 12 kali."


"Baru, 12 kali kamu kata baru?" Romeo pengen sekali turun dari mobil, menarik Rere keluar dan meninggalkan Haikal. Tapi sayangnya, dia tak setega itu pada saudara satu satunya. Selian itu, dia ikut senang jika Haikal benar benar menikah. Karena itu artinya, dia sudah 100 persen move on dari Rere.


"Udah, ibu aja yang turun," ujar Bu Risa yang ingin urusan Haikal segera selesai.


"Enggak enggak, Meo aja," cegah Romeo. "Ibu duduk manis aja." Demi ibunya tidak turun, Romeo akhirnya turun dan bertanya pada pria berpeci tersebut.


"Rania?" Pria tersebut tampak mengingat ingat saat Romeo bertanya.

__ADS_1


"Iya Pak, namanya Rania, janda anak satu. Anaknya namanya_"


"Haidar," potong pria berpeci tersebut.


"Ya benar, Haidar." Romeo lega sekali. Rasanya sudah seperti puasa seharian dan akhirnya mendengar suara adzan maghrib. Akhirnya ada juga yang mengenal Rania. Jadi setelah ini dia tak perlu lagi capek capek bertanya. Syukur syukur urusan cepat selesai dan dia bisa malam pertama.


Pria tersebut menunjukkan arah kerumah Rania yang ternyata tak jauh dari situ.


Dari dalam mobil, Haikal tersenyum melihat pria berpeci itu seperti sedang menunjuk arah. Dia yakin kali ini Romeo sudah berhasil menemukan alamat Rania.


"Pokoknya yang pager besinya warna hitam." Pria tersebut memberikan ciri cirinya.


"Terimakasih banyak Pak." Romeo menyalami pria tersebut lalu pamit.


Mendengar Romeo yang sudah tahu alamat Rania, membuat semua yang ada didalam mobil seketika lega. Tak mau berlama lama, Haikal segera melajukan mobilnya sesuai petunjuk Romeo. Hingga berhentilah mereka didepan rumah yang cukup besar, berlantai dua dan perpagar besi warna hitam.


Sesampainya disana, bukannya langsung masuk, semua malah pada terbenngong, sibuk dengan isi kepala masing masing. Tiba tiba datang melamar tanpa pemberitahuan, tentu saja kemungkinan yang paling utama adalah ditolak.


Romeo iseng meletakkan telapak tangannya didada Haikal.


"Paan sih." Sambil melotot, Haikal menyingkirkan tangan tersebut.


"Pegangin terus Kal, aku takut tuh jantung copot. Detakannya cepet banget." Masih sempat sempatnya Romeo membuat candaan disaat semua orang sedang tegang seperti ini.


"Udah ayo," seru Bu Risa.


"Bang, kamu gendong Ryu ya, biar aku bantu ibu bawa kue." Romeo buru buru turun. Mengambil alih baby Ryu dari gendongan Rere.


Jangan dikira hanya Haikal saja yang nerveous, Bu Risa juga sama. Pintu gerbang yang terbuka setengah membuat mereka bisa langsung masuk dan sampai dipintu utama.

__ADS_1


Bu Risa tak henti hentinya berzikir dalam hati. Berharap Haikal bisa segera mendapatkan kebahagiaannya seperti Romeo.


Tok tok tok


"Assalamualaikum." Ucap Bu Risa sambil mengetuk. Tak segera dibuka, membuat Romeo membantu ibunya dengan mengetuk lebih kuat sambil mengucap salam.


"Waalaikum salam."


Mendengar sahutan dari dalam, membuat jantung Haikal makin berdebar. Perlahan tapi pasti, keringat dingin mulai keluar dari pori pori kulitnya.


Ceklek


Muncul seorang wanita cantik dengan gamis dan hijab warna biru. Ya, Rania sendiri yang membuka pintu. Dia yang awalnya bingung dengan kedatangan beberapa orang yang tak dikenal, mendadak kaget saat melihat Haikal.


"Ha, Haikal." Rania sedikit syok. Melihat dua wanita membawa kotak besar, dia jadi teringat dulu saat kedatangan keluarga Hanafi yang secara tiba tiba ingin mengkhitbahnya. "Si, silakan masuk."


Setelah mereka berempat masuk, Rania mempersilakan mereka untuk duduk.


"Ini yang namanya Rania?" bisik Romeo didekat telinga Haikal. Haikal yang sedang nerveous hanya mengangguk saja. "Cakep gini, pantesan kamu buru buru pengen ngehalalin."


Suara Romeo yang sedikit keras tak sengaja terdengar Rania. Membuat wanita itu langsung menutup mulutnya karena dugaannya ternyata benar.


Bu Risa dan Rere meletakkan barang bawaan mereka diatas meja.


"Boleh kami bertemu dengan orang tua kamu?" ujar Bu Risa.


Rania mengangguk sambil tersenyum. "Saya panggilakan dulu."


Lima menit kemudian, sepasang suami istri yang tampak masih muda keluar menyambut mereka. Tak mau buang buang waktu, setelah berkenalan, Bu Risa langsung menyatakan niat kedatangannya mereka.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya jika kedatangan kami mengganggu istirahat Rania sekeluarga. Kami kesini, ingin melamar Rania untuk putra saya, Haikal." Bu Risa menunjuk ke arah Haikal.


__ADS_2