
Selesai belajar membuat kue dan membantu memasukkan kue kue pesanan kedalam box, Romeo mengajak Rere bersantai diruang keluarga. Disana, dia mengajak Rere bermain PS. Rindu sekali dia bermain game. Kesibukannya di kantor membuatnya tak ada waktu untuk sekedar bermain game.
"Aku gak bisa," tolak Rere.
"Main yang gampang aja. Gimana kalau balap mobil?"
Rere memutar kedua bola matanya. Sudah dibilang gak bisa, masih saja ngeyel.
"Nanti aku ajarin." Romeo masih saja terus membujuk.
"Baiklah." Rere merasa tak ada pilihan lain lagi selain mengiyakan.
Romeo mulai menyalakan TV dan PS. Memberikan stick pada Rere lalu memberitahunya fungsi dari masing masing tombol di stick. Setelah paham, mereka lalu mulai bermain. Rere tak menyangka jika semenyenangkan ini bermian PS.
"Udah jago nih kayaknya?" Ujar Romeo yang beberapa kali berhasil dikalahkan oleh Rere. Sebenarnya bukan kalah, tapi Romeo sengaja mengalah agar Rere bersemangat. "Gimana kalau pertandingan nanti, yang menang dapat hadiah?"
"Hadiah, apaan?" Rere mengernyit menatap Romeo.
"Emm...apa ya?" Romeo memikirkan hadiah apa yang kiranya cocok. "Gimana kalau hadiahnya dipijit. Badanku lagi pegel pegel nih Yang." Romeo memijit mijit sendiri bahu dan tengkuknya.
Rere tersenyum mendengar itu. Padahal jika Romeo meminta dipijat, tak perlu memang game, dia juga mau melakukannya. Itung itung nyari pahala dan menyenangkan suami.
"Baiklah aku setuju." Sahut Rere bersemangat.
"Yes! Udah gak sabar banget pengen ngerasain pijitan istri cantik."
Permainanpun dimulai. Rere tampak sangat bersemangat, begitupun Romeo. Tak hanya mata dan tangan mereka saja yang sibuk. Tapi mulut mereka juga berteriak teriak gak karuan. Sampai sampai suaranya terdengar oleh Bu Risa dan art yang ada didapur.
Romeo tak mengira jika Rere cepat sekali belajar. Hampir saja dia benar benar kalah. Tak sampai itu terjadi, dia memikirkan cara untuk mengalahkan Rere.
Cup
Rere kaget saat bibirnya tiba tiba dikecup oleh Romeo.
"Yee...menang."
Rere kaget melihat mobil Romeo sudah sampai difinish, sedang mobilnya, malah menabrak pembatas jalan.
"Ish, curang." Rere yang geram langsung meletakkan stick nya dan memukul lengan Romeo. "Kamu curang."
__ADS_1
"Siapa suruh kehilangan fokus," ledek Romeo.
"Itu gara gara kamu nyium aku."
Suara gaduh mereka terdengar sampai ruang tamu. Haikal yang baru memasuki rumah, menghantikan langkahnya mendengar suara yang tidak asing.
"Rere," gumam Haikal. Langkahnya terasa berat saat telinganya mendengar dengan jelas suara canda tawa Rere dan Romeo.
Begitu suasana hening, tak terdengar lagi suara mereka, Haikal melanjutkan langkahnya. Tapi keputusannya untuk melangkah ternyata sangat salah. Heningnya Romeo dan Rere, disebabkan karena dua insan yang sedang dimabuk asmara itu tengah berciuman.
Haikal memejamkan mata melihat pemandangan yang menyesakkan itu. Tapi meskipun dia telah menutup mata, tapi suara kecipak dari bibir Romeo dan Rere terdengar dengan jelas ditelinganya. Bahkan suara nafas mereka yang terengah bisa terdengar oleh Haikal.
Romeo yang menyadari kehadiran Haikal, segera mengakhiri ciumannya.
"Haikal."
Mendengar Romeo menyebut nama itu, segera Rere mengikuti arah pandang suaminya itu. Dia kaget melihat Haikal berdiri tak jauh dari tempatnya dan Romeo.
"Aku kekamar dulu." Haikal segera pergi dari sana. Dia tak sanggup melihat kemesraan Romeo dan Rere.
Bugh
Sesampainya dikamar, Haikal melampiaskan rasa sakitnya dengan memukul dinding sekuat kuatnya. Punggung tanggan kanannya memerah, sementara telapak tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sakit. Sakit sekali hingga dia tak bisa menahan laju air matanya.
.
.
Rere memegang lengan Romeo, membuat pria itu seketika menoleh padanya.
"Aku makan dikamar saja," ujar Rere pelan.
Romeo menggeleng, tak mengijinkan istrinya itu beranjak dari meja makan. Bagaimanapun, Haikal harus membiasakan diri dengan kehadiran Rere, begitupun sebaliknya.
"Itu Haikal sudah turun." Ujar Bu Risa yang meliha putra sulungnya berjalan menuruni tangga.
Sebenarnya Haikal memang sengaja turun agak telat. Dia berharap semua orang sudah selesai makan saat dia ada dimeja makan, sayangnya, semua orang malah sedang menunggunya.
"Maaf membuat kalian menunggu." Haikal menarik kursi lalu duduk tepat didepan Romeo.
__ADS_1
Suasana mendadak canggung hingga Bu Risa mencairkannya dengan segera memulai makan dan membuka percakapan.
"Biasanya ibu hanya makan dengan Haikal. Makan malam kali ini rasanya berbeda, terasa spesial karena ada Romeo dan Rere." Dia tersenyum sambil menatap Romeo dan Rere bergantian.
Rere hanya menanggapi dengan senyuman, beda dengan Haikal dan hanya memasang ekspresi datar. Terlihat sekali jika pria itu merasa tak nyaman.
Setelah Bu Risa dan Haikal mengambil nasi, Rere berdiri mengambilkan nasi untuk Romeo. Hal tersebut tak lepas dari perhatian Haikal, bahkan sampai Rere mengambilkan lauk untuk Romeo, Haikal masih diam diam memperhatikannya.
"Mau ini juga?" Rere menunjuk tumis buncis.
"Tidak perlu, sudah cukup." Mendengar itu, Rere meletakkan piring milik Romeo lalu mengambil untuk dirinya sendiri.
Melihat Rere yang hanya mengambil sedikit makanan, Romeo mengambil ikan lele lalu menaruh dipiring Rere. "Ikan bagus untuk ibu hamil."
"Rere tak suka lele."
Celetukan Haikal membuat Romeo langsung terdiam. Dia merutuki dirinya sendiri, bisa bisanya dia tak tahu kalau Rere tak makan lele. Pantas saja selama tinggal dirumah Rere, mertuanya tak pernah memasak lele.
Romeo hendak mengambil kembali lele tersebut tapi ditahan oleh Rere. "Aku akan memakannya." Ujar Rere sambil tersenyum. Dia sedang ingin membersarkan hati Romeo, tak mau pria itu merasa jika Haikal lebih memahaminya.
Meski sedikit jijik dengan lele, Rere mencoba mencicipinya. "Ternyata enak juga rasanya."
"Jangan dipaksa." Romeo hendak mengambil ikan itu tapi lagi lagi Rere mencegahnya.
"Aku hanya tak terbiasa makan selama ini. Tapi setelah aku cicipi, rasanya lumayan juga." Rere tetap melanjutkan memakan ikan tersebut hingga habis setengah.
Selesai makan, Rere dan Romeo membereskan meja makan. Art sudah pulang jam segini, jadi mereka berdua yang membereskannya. Sengaja Romeo menyuruh ibunya istirahat karena seharian ini sudah banyak kesibukan.
"Biar aku saja yang mencuci piringnya." Romeo sudah bersiap didepan wastafel, tapi tiba tiba ponselnya berbunyi. Ternyata dari atasannya. "Aku tinggal bentar ya."
Rere mengangguk. Setelah Romeo keluar dari dapur, Rere segera mencuci piring piring kotor tersebut.
Menyadari ada seseorang berjalan mendekatinya, Rere langsung menoleh. Dia pikir Romeo, ternyata Haikal. Berduaan saja dengan Haikal dalam satu ruangan, membuat Rere canggung sekaligus tak nyaman.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Ti, tidak perlu." Rere mempercepat mencuci piring. Dia ingin segera pergi dari tempat tersebut. Tapi bukannya segera selesai, piring yang dia letakkan kedalam rak dengan terburu buru malah jatuh dan pecah. Kondisi perut yang besar membuat Rere susah berjongkok, dia menunduk untuk mengambil pecahan yang besar dengan niatan yang kecil akan dia bersihkan menggunakan sapu.
"Aww.." Tak sengaja jarinya malah terkena pecahan beling.
__ADS_1
Melihat darah yang menetas kelantai. Haikal langsung menyadari jika jari Rere terluka. Dengan cepat pria itu menarik jari Rere yang berdarah lalu menghisapnya.
"Lepas, tolong jangan seperti ini." Rere menarik kasar tangannya.