Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MEREKA HARUS MEMBAYAR SEMUANYA


__ADS_3

Romeo bernafas lega melihat taksi yang ditumpangi Rere berhenti didepan rumah. Dengan tergesa gesa, dia memarkir mobil ditepi jalan lalu menyusul masuk. Sementara Haikal, dia tetap didalam mobil, tak ikut masuk karena merasa bukan ranahnya lagi.


Dia ikut mengejar karena khawatir dengan kondisi Rere. Ditambah lagi Rere sedang mengandung, dan bagaimanapun, itu keponakannya. Karena merasa Rere sudah aman, dia kembali memutar mobilnya lalu pulang.


Rumah masih dalam keadaan kosong saat Rere masuk. Entah kemana orang tuanya, sejak pagi sudah tak tampak batang hidungnya. Sambil memegangi perutnya yang terasa kencang, Rere masuk kedalam kamar lalu menguncinya dari dalam.


Tok tok tok


"Rere, buka pintunya Re." Romeo berteriak sambil menggedor pintu. "Please, buka. Banyak yang harus aku jelaskan padamu."


Rere tak bergeming. Dia duduk diatas ranjang sambil memeluk bantal dan menangis. Dia merasa takdir seolah sedang bercanda dengannya. Sedang menertawakan kebodohannya karena mencintai pria yang telah merenggut paksa kesuciannya.


"Re, aku mohon buka pintunya." Romeo masih terus berteriak didepan pintu. Entah sudah berapa kali dia memohon, tapi Rere sama sekali tak tergerak hatinya untuk membukakan pintu.


"Mungkin kau tak bisa memaafkanku, tapi setidaknya, dengarkan penjelasanku." Romeo terduduk dilantai, menyandarkan bahunya dipintu sambil terisak. Dia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mengabaikan rasa sakit akibat pukulan bertubi tubi yang dilakukan Haikal tadi. Baginya, rasa sakit itu tak ada artinya dibanding sakitnya dibenci Rere.


Romeo kembali teringat malam itu, malam dimana dia mengambil paksa kehormatan Rere. Dia sangat menyesal. Andai saja waktu bisa diputar kembali, dia tak akan menyentuh Rere malam itu.


"Mungkin ribuan kali kata maafku, tak akan bisa mengubah apa yang telah terjadi. Tapi aku sama sekali tak ada niat untuk menghancurkan hidupmu Re. Bukan kamu yang harusnya aku perkosa malam itu, tapi wanita lain. Ya, kamu benar, aku memang bajingan, aku seorang pemerkosa, aku memang seburuk itu. Tapi aku bersumpah, aku tidak tahu jika gadis yang aku nodai malam itu adalah calon kakak iparku." Romeo mengepalkan telapak tangannya, menggunakan kepalan itu untuk memukul mukul keningnya sendiri.


"Aku bodoh Re, aku sangat bodoh hingga bisa diperdaya Gina. Dia mengatakan padaku jika kamu adalah anak tiri ayahku. Dia yang telah merencanakan semua ini Re. Dan aku yang gila karena dendam dan bodoh ini, tanpa pikir panjang langsung memperkosamu malam itu."


"Apa maksudmu?"


Deg


Romeo kaget saat mendengar suara papa Rere. Entah kapan datangnya, Tomas dan Jia sudah berdiri tak jauh dari Romeo.

__ADS_1


"Apa maksud ucapanmu tadi, memperkosamu? Siapa yang kamu perkosa hah?" Bentak Tomas sambil mendekati Romeo lalu menarik bajunya hingga berdiri.


"Memperkosa? Rere?" Ujar Jia tak percaya.


"Maafkan Romeo Pah, Mah." Romeo hanya bisa tertunduk dengan rasa bersalah.


Bugh


Sebuah pukulan keras langsung mendarat dirahang Romeo. Darah yang baru saja mengering, kembali lagi menetas dari sudut bibirnya.


"Jadi kamu yang memperkosa Rere?" Tomas melotot tajam sambil menarik kerah kaos yang dipakai Romeo.


"Maaf." Sekali lagi, hanya itu yang keluar dari bibir Romeo.


Bugh bugh bugh


"Dasar bajingan, manusia laknat. Apa salah putriku hingga kau melakukan perbuatan keji itu padanya?"


Bugh bugh bugh


Tomas terus terusan menghajar Romeo. Ayah mana yang tak sakit hati melihat pria yang sudah menghancurkan putrinya. Putri satu satunya yang sangat dia sayang, yang dia jaga bak berlian, tapi dengan tak tahu dirinya dirusak oleh bajingan. Tomas merasa bersalah karena selama ini, menyangsikan penuturan Rere jika dia hamil karena diperkosa.


Romeo tersungkur dilantai dengan darah yang menetes dari beberapa bagian wajahnya. Pandangannya berkunang kunang, seluruh tulang tulangnya terasa remuk.


Didalam kamar, Rere memegangi dadanya yang sakit. Dia tahu diluar sana Romeo tengah menjadi bulan bulanan papanya. Entah kenapa, setiap erangan yang keluar dari bibir Romeo dan setiap kali tersengar suara pukulan, dia seperti ikut merasakan sakitnya.


Kenapa harus Romeo? Mungkin dia tak akan sesakit ini jika pelakunya orang lain. Dia hanya perlu membenci, menjebloskannya ke penjara serta mengumpatnya dengan sumpah serapah. Tapi kenapa harus Romeo, kenapa harus pria yang dia cintai?

__ADS_1


"Maafkan Romeo Pah. Romeo tak berniat melakukan ini semua pada Rere. Romeo ditipu oleh Gina."


"Gina," gumam Jia. Dia jelas kenal dengan teman putrinya itu. Pantas saja kejadian perkosaan itu terdengar janggal sampai sampai dia berfikir Rere diperkosa jin. Ternyata ada yang telah menyusun rencana sebaik ini. Memutar balikkan fakta hingga membuat Rere seperti seorang pembohong ulung.


Tomas menunduk lalu menarik Romeo hingga berdiri. Segera dia seret pria yang babak belur itu keluar dari rumahnya.


"Pergi dari sini. Bersiaplah untuk segera mendekam dipenjara." Tomas mendorong Romeo keluar lalu mengunci pintu.


Sementara Jia, dia mengetuk kamar Rere dan membujuknya untuk membuka pintu.


"Mamah." Rere langsung menghambur kepelukan mamanya setelah dia membuka pintu. Ditumpahkannya tangisnya didekapan mamanya.


Jia menuntun Rere menuju ranjang lalu duduk disana. Didekapnya putrinya itu sambil mengusap punggungnya. Dia tahu jika Rere sangat terpukul saat ini.


Tomas yang baru masuk kamar, langsung mengalihkan pandangan kearah lain. Dia tak sanggup menatap dua wanita yang dia cintai menangis. Dadanya sedak, matanya memanas, dan beberap detik kemudian, cairan bening mengalir dari sudut matanya.


"Gina, kenapa Romeo menyebut nama Gina?" Jia masih belum paham.


"Gina yang telah merencanakan semua ini Mah. Karena dia terobsesi pada Haikal. Kenapa mereka tega melakukan ini sama Rere Mah, kenapa? Mereka semua orang terdekat Rere mah. Gina, Febbi, dan_" Rere tak sanggup menyebutkan nama Romeo. Terlalu menyakitkan baginya.


"Jangan khawatir, papa akan menuntut keadilan untukmu. Mereka semua akan membayar semua yang telah mereka lakukan padamu dengan mendekam di penjara." Tomas mengepalkan kedua tangannya.


"Jangan gegebah Pah," sahut Jia.


"Gegabah mama bilang? Tindakan yang mereka lakukan itu kriminalitas, dan putri kita yang jadi korbannya. Jadi mama jangan coba coba membela menantu kesayangan mama itu." Sahut Tomas geram.


"Bukan mama membelanya Pah. Tapi kita harus memikirkan anak dalam kandungan Rere, cucu kita. Apa papa sanggup menjawab jika kelak dia bertanya dimana papanya? Apa Papa bisa mengatakan jika papanya mendekam dipenjara?"

__ADS_1


Tomas terdiam, benar juga apa yang dikatakan Jia. Dia tak mau cucunya kelak mendapat bullian karena anak seorang napi. Bagaimanapun, pernikahan Rere dan Romeo sah dimata hukum, semua orang tahu jika anak itu anak Romeo. Dan saat anak itu lahir nanti, semua orang akan langsung mengecapnya sebagai anak narapidana.


__ADS_2