Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
BOLU PANDAN


__ADS_3

Sesampainya didepan rumah, Bu Risa segera menggandeng menantu kesayangannya masuk. Romeo yang mengekor dibelakang, senyum senyum sendiri melihat kedekatan dua orang wanita yang paling dia cintai.


Andai saja tak ada masalah besar yang dia simpan, sungguh sempurna hidupnya. Memiliki istri cantik, baik, cerdas, cocok dengan mertua dan sekarang sedang mengandung buah cinta mereka. Tapi sayangnya, kebahagiaan itu masih belum nyata bagi seorang Romeo, karena cepat atau lambat, saat rahasianya terkuak, entah apa yang akan terjadi pada rumah tangganya.


"Wangi sekali Bu bau nya." Ujar Rere begitu dia memasuki rumah dan mencium aroma bolu pandan.


"Hari ini ada pesanan bolu pandan dan beberapa kue lainnya," Sahut Bu Risa sambil terus melangkah masuk bersama Rere.


"Ada jatah buat Meo gak Bu?" Tanya Romeo sambil merangkul bahu ibunya.


"Tentu saja, itukan kue kesukaan kamu."


Mata Rere seketika berbinar mendengar itu. Tiba tiba dia terfikiran sesuatu. "Rere boleh kedapur gak Bu, pengen belajar buat bolu pandan?"


"Cie..cie..yang pengen jadi istri idaman." Ledek Romeo sambil menatap Rere, membuat wanita itu seketika memelototinya karena malu.


"Jangan diledekin." Bu Risa langsung mencubit pinggang Romeo, membuat pria itu langsung meringis kesakitan. "Bagus dong istri kamu mau belajar bikin makanan kesukaan suaminya."


"Iya bagus, bagus sekali. Makanya aku makin cinta." Lagi lagi Romeo menggoda Rere, membuat wanita kesal karena malu.


Mereka bertiga lalu kedapur. Aroma bolu pandan yang baru keluar dari oven begitu menggugah selera.


Baru saja Romeo menyentuh kue warna hijau itu, Bu Risa langsung memukul tangannya. "Sabar, masih panas. Tunggu dipotong dulu."


Rere cekikikan melihat Romeo yang dimarahi ibunya. Dia baru tahu kalau Romeo masih terlihat seperti anak kecil saat bersama ibunya.


Jika tadi Romeo yang mupeng karena bolu pandan, sekarang giliran Rere yang langsung ngiler saat melihat asisten rumah tangga Bu Risa memotong brownis. Dia menatap kue kesukaannya itu sambil menelan ludah.


"Kamu suka brownis kan Re?" tanya Bu Risa. Dia ingat dulu saat masih pacaran dengan Haikal, putranya itu sering membawakan brownis untuk Rere. "Bawa kesini brownisnya mbak," Titah bu Risa pada mbak mbak yang sedang memotong brownis.


Rere tak sabar ingin segera memakan brownis resep buatan mertuanya yang dia tahu enak sekali itu. Tapi begitu kue itu sudah ada didepan mata, Romeo malah menahan tangannya yang hendak mengambil jue coklat tersebut.

__ADS_1


"Kamu gak boleh makan yang manis manis, terutama coklat," Romeo mengingatkan.


"Kenapa?" tanya Bu Risa.


"Biar bayinya gak terlalu gede didalam perut Bu. Kalau bayinya kecil, makin mudah ngeluarinnya. Rere ingin lahiran secara normal Bu."


"Wah bagus itu, ibu dukung sekali. Perbanyak jalan kaki dipagi hari. Senam hamil dan latihan pernafasan. Sering berhubungan suami istri juga da_"


"Huk huk huk." Romeo pura pura tersedak agar ibunya menghentikan kata katanya. Bisa bisanya ibunya keceplosan menyuruh mereka berhubungan badan.


Rere buru buru mengambilkan air lalu memberikannya pada Romeo. "Perasaan kamu gak lagi makan apa apa deh, kok bisa tersedak?" Heran juga Rere dibuatnya.


"Em...i, itu tadi , tadi ada nyamuk atau serangga apa aku gak gak tahu, tiba tiba lewat, eh... masuk kemulut."


Rere hanya geleng geleng mendengarnya.


Bu Risa dan Romeo saling bertatapan. Keduanya bernafas lega karena Rere tak membahas hal itu.


"Iya, tapi dikit aja. Aku suapin." Romeo mengambil sepotong brownis lalu memakannya dalam jumlah besar. Hingga ditanggannya hanya tersisa sebagian kecil saja. "Buruan buka mulutnya."


Rere seketika cemberut. Bisa bisanya Romeo hanya menyisakan sedikit sekali untuknya.


"Mau atau tidak? Kalau enggak, aku habiskan?" Romeo hampir saja memasukkan bronis tersebut kedalam mulut kalau saja Rere tak berteriak.


"Iya aku mau."


Romeo menahan tawa lalu menyuapkan sedikit brownis itu kedalam mulut Rere yang terbuka.


Bu Risa tersenyum sambil geleng geleng melihat kelakuan anak dan mantunya.


Romeo yang tiba tiba kebelet buang air, cepat cepat menuju kamar mandi. Melihat ada kesempatan, Rere langsung bersemangat untuk mengambil sepotong brownis lagi.

__ADS_1


"Jangan coba coba mau ngambil lagi." Teriakan Romeo menghentikan tangan Rere yang sudah menyentuh brownis. Heran juga kenapa satpamnya itu bisa tahu padahal gak sedang noleh kebelakang.


"Makanlah." Bu Risa kasihan menyodorkan sepotong brownis kearah Rere.


"Tapi Bu."


"Ibu gak akan bilang sama Meo. Buka mulutnya."


Tanpa berfikir dua kali, Rere langsung membuka mukut. Brownis yang nikmat tersebut langsung mendarat kemulutnya melalui suapan dari Bu Risa. Cepat cepat dia mengunyah dan menerima suapan lagi sebelum Romeo kembali.


Rere terkejut saat Remeo tiba tiba memeluknya dari belakang. "Kamu gak nakalkan? Gak diam diam ngambil dibelakangku?" Tanya Romeo sambil meletakkan kepala dibahu Rere.


Bukannya menjawab, Rere malah salah tingkah. Tentu saja dia malu karena tak hanya ada mereka berdua disini.


"Malu." Rere berbisik sambil menoleh kearah kepala Romeo. Tangannya juga sibuk membuka belitan tangan Romeo diperutnya.


"Tak perlu malu sama ibu." Bu Risa paham apa yang dirasakan Rere. "Oh iya, ngomong ngomong, calon cucu ibu laki laki apa perempuan?"


"Jagoan Bu," Jawab Romeo masih dengan posisi memeluk Rere.


"Wah...ibu harus kebagian jatah nih buat beliin cucu perlengkapan bayi. Kalian belum belanjakan?"


"Kami sudah belanja Bu," sahut Rere.


"Tapi tetap saja, ibu mau membelikan untuk cucu ibu. Katakan saja apa yang belum, biar ibu belikan?"


"Tenang saja, nanti Meo kasih list apa saja yang belum," Celetuk Romeo sambil melepaskan pelukannya.


"Meo." Desis Rere sambil menoleh kearah Romeo. Tentu saja dia sungkan pada ibu mertuanya.


Melihat art hendak membuat adonan bolu pandan, cepat cepat Rere mendekat untuk melihat prosesnya secara langsung sekaligus belajar. Saking asyiknya belajar membuat kue, Rere sampai tak sadar jika hari sudah sore.

__ADS_1


__ADS_2