Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
YANG SEMPAT TERTUNDA


__ADS_3

Baby Ryu yang biasanya anteng, mendadak rewel malam itu. Dia selalu menangis saat nen nya dilepas, membuat Rere tak kuasa melakukan apapun. Tidur sambil menyusui hingga baby Ryu mau melepaskan sendiri nen nya.


Romeo yang dalam kondisi tanggung, hanya bisa berdoa supaya baby Ryu lekas melepaskan mamanya. Tapi sayang doa Romeo tak terkabul. Bersamaan dengan Ryu yang melepas nen nya, Rere sudah tertidur pulas. Mau membangunkan, rasanya tidak tega.


"Sabar, masih ada hari esok." Ujar Romeo sambil menatap nanar miliknya.


Dini hari Rere terbangun karena Ryu menangis. Dan saat itu pula, dia sadar jika semalam ketiduran sebelum dia dan Meo sempat melanjutkan apa yang tertunda. Dia menatap Romeo yang sedang tidur dengan rasa bersalah.


Setelah menyusuii Ryu dan memastikannya sudah tidur, Rere memindahkannya kedalam box. Kembali keranjang lalu merebahkan badan tepat disebelah Romeo sambil melingkarakan lengan dan menyandarkan kepala didada bidangnya.


"Bang." Dipanggilnya pelan sambil diusapnya dada polos Romeo. "Abang." Kembali memanggil didekat telinga agar Romeo terbangun. Ternyata berhasil, Romeo menggeliat pelan sambil membuka matanya.


"Sayang, ada apa? Ryu rewel? Atau saatnya ganti popok ya?" Papa siaga itu hendak bangun tapi badannya ditahan oleh Rere.


"Ryu anteng, udah pules."


"Oh....ya udah, ayo tidur lagi." Romeo kembali memejamkan mata, membuat Rere menjadi sebal. Bukannya tadi dia yang bersemangat, kenapa sekarang malah tidur lagi disaat ada kesempatan emas.


"Yakin mau tidur lagi?" Jemari Rere bergerak manja didada polos Romeo. Sengaja memancing agar menuntaskan yang tertunda tadi.


"He eh, Abang ngantuk banget." Romeo mencium puncak kepala Rere lalu memejamkan mata.

__ADS_1


Rere dibuat kesal karena itu. Padahal sudah dikasih kode dengan rabaan di dada, suara dibuat mendayu dayu, eh ujung ujungnya ditinggal tidur.


Sepertinya kamu mau balas dendam karena tadi aku ketidurankan?


Rere melepaskan pelukannya lalu membalikkan badan memunggungi Romeo. Tapi tak lama kemudian, Rere mendapati Romeo memeluknya dari belakang.


"Cie...ngambeg." Rere geram karena Romeo malah meledeknya. "Mau lanjut yang tadi ya?" bisiknya dengan nada menggoda didekat telinga Rere. "Mau lanjut sekarang, nanti malam, atau besok?"


"Tahun depan." Sahut Rere dengan bersungut sungut. Dia mengurai pelukan Romeo, membalikkan badan lalu mendorong suaminya itu agar menjauh. Bibirnya yang manyun kedepan membua Romeo gemas. Sesungguhnya Romeo juga sangat ingin, bahkan sudah tidak tahan. Tapi belum lengkap rasanya jika dia tidak menggoda Rere lebih dulu.


Tapi mengingat Ryu yang bisa bangun sewaktu waktu, jadi dia tidak boleh membuang waktu. Segera saja Romeo menggeser badanya kearah Rere lalu menciumnya.


"Emmmpt." Rere langsung melotot mendapat serangan dadakan itu. Tapi tak bisa dipungkiri, ini nikmat. Perlahan, dia mulai membalas ciuman Romeo. Keduanya larut dalam ciuman yang memabukkan. Kondisi Rere yang sudah polos, memudahkan Romeo untuk mengekplor tubuhnya.


Rere yang awalnya menikmati setiap sentuhan Romeo, mendadak tegang saat miliknya akan menerima milik Romeo. Keringatnya mengucur deras dan badannya gemetar.


"Rileks sayang." Romeo kembali mencium Rere agar fokusnya teralihkan. Tapi tetap saja, ciuman itu tak bisa menghilangkan rasa sakit yang Rere rasakan.


"Sakit banget ya?" Romeo bisa melihat itu diwajah Rere.


"Perih."

__ADS_1


"Kuat gak, apa dilanjut besok saja?" Mana tega Romeo melihat Rere kesakitan sedangkan dia keenakan.


Rere tak mengira akan sesakit ini rasanya mengingat ini bukan yang pertama. Tapi mungkin karena hanya pernah dipakai sekali dan sudah lama, jadi rasanya sakit.


"Sekarang saja." Rere tak mau membuat Romeo kecewa. Baginya, tidak apa apa sakit sedikit, yang penting Romeo puas dan mendatangkan pahala bagi keduanya.


Romeo melakukannya sangat pelan, membuat Rere makin lama makin merasa nyaman sekalingus nikmat. Keduanya sama sama berusaha saling memberikan ke puassan bagi pasangan, hingga akhirnya bersama sama meraih puncak.


Romeo mengucapkan mencium kening Rere lalu merebahkan badan disebelahnya. Padahal tadinya dia pikir malam ini bakal gagal, tapi ternyata tidak.


"Apa Abang puass?" tanya Rere sembari memiringkan badananya kearah Romeo. Dia sudah menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


"Tentu saja sayang. Terimaksih." Romeo mengecup sekilas bibir Rere yang masih sedikit bengkak tersebut. Dia tersenyum melihat maha karyanya diseputaran leher dan dada Rere. "Semoga saja besok Ryu gak kaget saat lihat nennya bentol bentol." Ujar Romeo sambil cekikikan.


Rere melihat daerah yang dimaksud Romeo. Matanya membulat sempurna melihat begitu banyaknya tanda merah disana.


"Astaga Abang, kenapa sebanyak ini? Kenapa gak sekalian dibikin penuh sebadan?" sindirnya.


"Oh...jadi nantangin nih." Romeo meringsek maju lalu kembali menyerang dada, perut bahkan hingga paha Rere, membuat Rere tak berhenti tertawa karena geli.


"Ampun Bang, ampun." Rere berusaha mendorong kepala Romeo agar menjauh. Bukannya menjauh Romeo malah semakin bersemangat.

__ADS_1


"Satu kali lagi, please."


Mana mungkin Rere sanggup menolak. Dia menggigit bibir dalamnya sambil mengangguk dan tersipu malu.


__ADS_2