Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MALAS SEKALI KALAU SAMA DENGAN HAIKAL


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Romeo dan Rere mulai keluar dari halaman rumah sakit, memasuki jalan raya yang lumayan padat. Sementara Romeo sibuk dengan kemudi, Rere sibuk dengan pikirannya sendiri. Meski dia tahu Romeo tak percaya ucapan Gina tadi, tapi dia justru merasa bersalah. Memanggil kakak ipar dengan sebutan sayang serta menggandeng mesra tangannya didepan umum, jelas bukan hal yang patut dilakukan seorang istri.


"Maaf."


Romeo yang menatap kejalanan seketika menoleh kearah Rere. Dilihatnya sang istri yang sedang menunduk dalam.


"Kenapa minta maaf?"


"Meski tak semuanya benar, tapi sebagian cerita Gina tadi benar."


Romeo mengernyitkan dahi, bingung dengan maksud kalimat Rere.


"Hari itu, dicafe saat bertemu Gina, aku memanggil Haikal sayang serta memegang tangannya."


Mata Romeo seketika terbelalak. Padahal tadi dia mengira apa yang dikatakan Gina hanya omong kosong. Tapi ternyata,


"Tapi tak benar jika aku balikan dengan Haikal. Aku hanya melakukan itu untuk membalas Gina, membuatnya marah dan merasa jika perbuatanya padaku hanya sia sia. Sekali lagi aku minta maaf." Rere mengangkat wajahnya, menoleh kesamping menatap Romeo yang masih diam. "Kau marah?"


Romeo menoleh kesamping, menatap kedua netra Rere sebentar lalu kembali fokus kedepan. "Marah."


Kaget juga Rere mendengar Romeo bilang marah. Padahal menurutnya tak perlu marah, karena semua itu hanya pura pura belaka. Dan dia juga sudah minta maaf.


"Marah karena kamu memanggil Haikal sayang, sedang aku, Meo." Romeo memutar kedua bola matanya malas. Pura pura marah padahal aslinya iri, protes, pengen dipanggil sayang juga.


Rere terkekeh pelan melihat ekspresi kesal Romeo. Dia tahu suaminya itu hanya sedang pura pura ngambek.


"Baiklah, kalau begitu aku tak akan memanggilmu Meo lagi, tapi...."


"Tapi apa?" Romeo menoleh kesamping, tak sabar ingin tahu Rere akan memanggilnya apa.


"Ro me o." Sengaja Rere menjada perkata agar Romeo penasaran dan berakhir kesal.


"Ish, menyebalkan. Aku iri pada Haikal, aku cemburu. Bahkan ketika kalian masih berpacaran, kamu sudah memanggilnya sayang, tapi aku. Astaga, menyedihkan sekali nasibku. Bahkan istrikupun tak mau memanggilku sayang."


Rere terkekeh pelan mendengar gerutuan Romeo. Disaat bersamaan, baby boy mulai gelisah, dan tak lama kemudian, dia menangis.

__ADS_1


"Cup cup cup, anak kesayangan mama, kenapa nangis?" Rere menepuk nepuk pantat baby boy sambil sedikit menggoyang goyangkannya agar berhenti menangis. "Kamu lapar ya sayang?"


"Hem...bahkan yang baru lahir saja sudah langsung dipanggil sayang." Rere tak bisa menahan tawanya melihat wajah kesal Romeo. "Kayaknya dia pengen nen deh. Coba dinenenin dulu siapa tahu diam. Aku gak bakal ngintip, tenang aja." Romeo meluruskan pandangan kedepan.


"Boleh lihat kok."


Mata Romeo langsung terbeliak mendengar itu. Senang sekali kalau sudah dapat lampu hijau seperti ini. Dia tersenyum sambil menoleh kesamping. Melihat langsung Rere yang sedang mengeluarkan sebelah dadanya untuk mengasihi baby boy. Jakunnya terlihat naik turun, buru buru dia mengalihkan pandangannya kedepan sebelum imannya tergoda.


"Apa 40 hari itu lama sekali? Astaga, rasanya waktu pengen aku percepat saja."


Rere lagi lagi dibuat tertawa karena Romeo. Pria itu selalu bisa membuatnya tertawa dengan kalimat kalimat absurdnya.


Saat kembali menoleh kesamping, Romeo melihat karet gelang yang kemarin masih ada dijari manis Rere. Ya, Rere memang sedang tak memakai cincin pernikahan mereka. Saat tahu jika Romeo yang memperkosanya, dia langsung melepas cincin tersebut.


"Kenapa karetnya masih dipakai, buang aja."


Rere menggeleng sambil melihat kearah karet yang ada dijari manisnya. "Pria yang aku cintai memberikan ini untuk melamarku, mengajakku menua bersama. Mana mungkin aku membuangnya." Rere senyum senyum sendiri mengingat momen manis mereka kemarin.


"Siapa pria itu, biar aku kasih pelajaran. Melamar wanita cantik tapi gak mau modal, keterlaluan."


Sekitar 10 menit kemudian, Rere menyadari jika jalan yang mereka lewati mulai tak terarah, bukan lagi jalan menuju rumah.


"Loh, ini bukan jalan ke rumah, kita mau kemana?"


Romeo hanya tersenyum sambil terus melajukan mobilnya hingga berbelok kesebuah mall.


"Mall?" Rere rasanya tak percaya Romeo membawanya ke mall disaat baru melahirkan seperti ini.


Romeo memarkirkan mobilnya, tak memberi jawaban apapun saat Rere bertanya kenapa mereka ke mall.


"Tunggu disini sebentar. Aku janji tak akan lama." Romeo mengecup kening Rere dan baby boy lalu turun dari mobil.


Rere yang masih bingung hanya bisa terdiam karena Romeo tak mau menjawab pertanyaannya. Dia mengambil ponsel, menjawab beberapa chat dari teman dan saudara yang mengucapkan selamat padanya. Sambil sesekali matanya melihat kepintu mall, berharap Romeo segera kembali.


Tak berapa lama kemudian, dia tersenyum melihat Romeo yang berlari kearah mobil mereka.

__ADS_1


"Maaf karena membuatmu menunggu." Ujar Romeo begitu dia memasuki mobil lalu menutup kembali.


"Kamu beli apa sih di mall?"


Bukannya menjawab, Romeo malah memegang tangan kiri Rere. Dia sedikit kesulitan melepas karet dijari Rere karena tangan kiri wanita itu dalam posisi menahan kepala baby boy yang berada dalam gendongan.


"Kenapa dilepas?"


"Karena ini tak cocok untukmu."


Romeo mengambil sesuatu dari saku celananya. Ternyata pria itu masuk ke dalam mall untuk membeli cincin. Sebuah cincin emas bermata putih yang sangat cantik.


"Semoga kau suka." Romeo memasangkan cincin tersebut kejari tengah Rere.


"Kenapa ditengah?"


"Karena jari manis tempatnya cincin pernikahan kita. Semoga saja kau belum membuangnya."


Rere menggeleng. "Aku masih menyimpannya." Dia lalu menatap cincin dijari tengahnya dengan mata berkaca kaca. "Makasih sa yang."


"Jadi harus diberi barang mahal dulu supaya mau memanggil sayang?"


"Tidak seperti itu." Cepat cepat Rere menyangkal.


Romeo tergelak melihat Rere yang tiba tiba panik. "Ya, aku tahu. Istriku bukan wanita seperti itu. Aku mencintaimu sayang." Romeo mengecup sekilas bibir Rere. Kalau saja posisi Rere tak sedang menggendong, ingin sekali dia menciumnya.


"Aku juga mencintaimu A bang."


Romeo mengerutkan dahi.


"Apa panggilan itu tidak cocok? Apa kau lebih suka dipanggil sayang?"


Romeo menggeleng. "Aku justru makin senang dipanggila abang. Malas sekali kalau harus sama dengan Haikal."


"Hahaha." Rere langsung tergelak.

__ADS_1


__ADS_2