Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
KITA TETAP SAUDARA


__ADS_3

Begitu Rere tertidur, Romeo keluar untuk menemui Haikal. Tak menemukan Haikal dikamarnya, Romeo mencari kebawah. Ternyata pria itu ada di halaman belakang, dengan sebuah rokok ditangannya.


Romeo menghampiri Haikal yang ada disebuah bangku panjang lalu duduk disebelahnya.


"Maaf." Itu kata pertama yang keluar dari bibir Haikal. "Aku tadi terbawa perasaan. Tidak akan kuulangi lagi. Kau tak perlu khawatir, aku cukup tahu diri."


"Bagus kalau seperti itu. Tapi aku datang bukan untuk membahas itu."


Haikal langsung menoleh ke arah Romeo mendengar itu.


"Apa saja yang kau tahu tentang Rere? Maksudku tentang peristiwa perkosaan itu?"


Haikal menjatuhkan puntung rokok ditangannya lalu menginjaknya dengan kasar hingga apinya padam. "Semua ini karena aku." Haikal menatap nanar langit malam. Hatinya sakit sekali saat tahu Rere adalah korban obsesi Gina padanya.


"Apa maksudmu?" Romeo menoleh kearah Haikal.


"Karena obsesi Gina padaku, Rere jadi korban. Dan bodohnya.." Haikal tak sanggup melanjutkan kata katanya.


"Kamu malah menuduhnya selingkuh dan membatalkan pernikahan kalian,"


Haikal mengangguk. Dadanya sesak sekali jika ingat semua tuduhannya pada Rere. Rasanya dia terlalu kejam saat itu.


"Apa aku memalukan?" Haikal menyeka air mata yang lolos begitu saja dari sudut matanya sambil tertawa.


"Ya, sangat memalukan. Sejak kapan Haikal biasa menangis?" Ejek Romeo sambil tersenyum getir.


Haikal seketika tertawa. "Bukankah biasanya sipenakut Romeo yang kerap kali menangis. Menangis saat ditinggal ibu kepasar, saat jatuh dari sepeda, bahkan saat lampu tiba tiba mati, menjijikkan." Cibir Haikal sambil terus menyeka air mata.


"Hei, itu saat aku masih kecil." Romeo membela diri.


"Benar, dan setelah beranjak dewasa, kau sama sekali tak pernah menangis, bahkan saat ayah mencambukmu dengan sabuk." Haikal tak akan pernah lupa hari itu, dimana Romeo yang dicambuk, tapi dia yang menangis karena tak tega.


"Masa kecil kita sangat indah Kal." Romeo menatap hamparan rumput dihalaman belakang. Tempat dimana mereka biasa bermain berdua. "Tapi semua itu berangsur menghilang saat kita beranjak remaja. Dan setelah kita dewasa, kita bagai hidup didunia masing masing. Kita jarang sekali berkomunikasi, bahkan bertukar cerita."


Haikal menepuk bahu Romeo beberapa kali. "Itu karena kau sudah tak pernah lagi membutuhkan aku. Kau bukan lagi Meo kecilku yang akan berlari meminta perlindunganku saat dibully teman temanmu."

__ADS_1


"Tapi kita masih saudarakan Kal?"


Haikal tergelak mendengar pertanyaan konyol itu.


"Tentu saja."


"Bahkan saat kita mencintai wanita yang sama?" Romeo menoleh ke arah Haikal.


Tawa Haikal berubah menjadi senyum getir. Dia juga tak menyangka jika akan jatuh cinta pada wanita yang sama dengan Romeo.


"Kata orang, darah lebih kental dari air. Bagaimanapun jalan takdir kita, kita tetap saudara Meo. Bagitu pula dengan ayah. Seperti apapun kelakuannya, dan sedalam apapun kita membencinya, dia tetap ayah kita." Haikal ikut menoleh pada Romeo. Keduanya saling bertatapan sebentar lalu kembali menatap kedepan.


Gara gara obrolan itu, Romeo jadi hampir lupa jika tujuannya menemui Haikal adalah untuk membahas tentang Rere.


"Oh iya, darimana kamu tahu jika Gina yang merencanakan perkosaan pada Rere?" tanya Romeo.


"Febbi, dia yang memberitahuku."


Jantung Romeo langsung berdebar kencang jika membahas ini. "Apa saja yang diceritakan Febbi?" Romeo sangat ingin tahu, apakah namanya juga disebut oleh Febbi?


"Jadi kau belum tahu, siapa pria yang memperkosa Rere?" Bibir Romeo bergetar saat menanyakannya.


Haikal menggeleng. "Sayangnya aku belum tahu. Tapi aku akan mencari tahu secepatnya. Pria itu tak boleh lolos begitu saja. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan mendekam dipenjara. Yang dia lakukan bukan hanya tindakan kriminal, tapi juga menghancurkan masa depan seorang wanita. Aku tidak akan memaafkannya." Tangan Haikal mengepal kuat dan rahangnya mengeras karena emosi.


"Bagaimana jika pria itu adalah aku?" Dengan nafas tercekat, Romeo mengatakan itu.


"Sekarang bukan saatnya untuk becanda." Haikal menanggapinya sebagai sebuah cadaan. "Lagipula kau ada di Jepang kala itu. Apa menurutmu bisa memperkosa secara online? Ayolah Meo, aku sedang bicara serius." Haikal malah kesal jadinya. "Oh iya, aku lupa belum bilang pada Rere untuk jangan bertindak gegabah. Tolong katakan padanya, aku yang akan mengurus Gina."


"Maksudmu?"


"Aku dan Febbi merencanakan sesuatu. Doakan saja berhasil." Haikal menepuk bahu Romeo beberapa kali.


"Ya, semoga berhasil. Aku akan bersiap siap."


"Bersiap siap?" Haikal tak paham.

__ADS_1


Romeo hanya menjawabnya dengan senyum getir.


"Ah iya." Haikal menepuk dahinya. "Bersiap siaplah menjadi sandaran bagi Rere. Dia pasti akan sangat terguncang saat tahu siapa penanam benih dirahimnya. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada anak kalian. Aku tahu kamu sudah menganggap anak itu seperti anakmu sendiri. Aku bangga memiliki adik berhati luas seperti. Setidaknya, masa depan Rere tak hancur berkat dirimu."


.


.


.


Malam ini, Febbi dan Haikal akan menjalankan rencana mereka.


"Ingat akting yang bagus." Pesan Febbi saat mereka sampai didepan gedung apartemen Gina.


"Bawel." Haikal turun dari mobil Febbi lalu masuk.


Akting bukanlah kebiasaan Haikal, tapi kali ini, dia harus bisa keluar dari zona nyaman.


Tarik nafas, buang, dia melakukan itu berkali kali sebelum menekan bel apartemen Gina. Setelah beberapa kali menekan bel, akhirnya pintu didepannya terbuka.


"Haikal." Gina terkejut melihat Haikal tiba tiba ada didepan pintu apartemennya malam malam seperti ini. Ditambah penampilannya yang kusut dan masih memakai pakaian kerja, Gina jadi bertanya tanya, ada apa dengannya?


"Boleh aku masuk?"


"Tentu saja." Gina minggir dari pintu untuk memberi jalan pada Haikal. Menutup kembali pintu lalu mengekor dibelakang Haikal.


Haikal menjatuhkan bobot tubuhnya disofa sambil memijit mijit kepalanya.


Gina mengambil air mineral didalam kulkas lalu memberikannya pada Haikal. "Ada apa Kal?"


Haikal tak menjawab, memejamkan mata sambil terus memijit kepalanya.


Yakin Haikal sedang ada masalah, Gina duduk disebelahnya lalu menggenggam tangannya. Saat seperti inilah, saat terbaik mengambil hari Haikal.


Haikal tiba tiba menangis lalu menjatuhkan kepalanya dipangkuan Gina.

__ADS_1


__ADS_2