Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
TAK MAU KEHILANGAN LAGI


__ADS_3

Hari ini, Rere, Romeo, Haikal dan Rania menjenguk Haris dirumah sakit. Pertama kali masuk keruang rawatnya, pemandangan yang terlihat sangatlah mengenaskan. Haris sangat kurus, tubuhnya terlihat seperti tulang yang terbungkus kulit keriput.


Bukan istri atau anak tirinya yang menemaninya, melaikan Ranti, adiknya.


"Akhirnya kalian datang," ujar tante Ranti. "Ayah kalian setiap hari menanyakan kalian. Dia pasti senang melihat kalian datang." Ranti menepuk nepuk pelan lengan Haris, mencoba membangunkan kakaknya yang sedang tidur. "Haikal dan Romeo datang." Ucapnya saat mata Haris mulai terbuka.


Tubuh lemah yang posisinya miring itu mencoba untuk telentang. Haris tersenyum melihat kedatangan kedua putranya.


Haikal, matanya berkaca kaca melihat kondisi ayahnya, begitupun dengan Romeo. Meski rasa benci itu ada, tapi dia tetap merasa kasihan melihatnya.


"M, ma, maafkan ayah." Haris bicara dengan suara bergetar. Tubuhnya sangat lemah, bahkan bicara saja terasa sulit karena penyakit komplikasi yang dideritanya.


"Jangan pikirkan apapun, kami sudah memaafkan ayah," sahut Haikal.


Berbeda dengan Haikal yang tampak lapang, Romeo masih menyimpan rasa sakit hatinya. Hal itu terlihat jelas dari sorot mata dan perilakunya yang hanya diam sejak tadi.


"Ayah tak pantas dimaafkan. Ayah terlalu banyak salah, terutama pada kamu Meo." Haris menatap putra bungsunya sambil menitikkan air mata. Dia teringat kembali bagaimana dulu menghardik dan memukuli Romeo. Bahkan Haris selalu memanggilnya anak nakal. "Maafkan ayah Nak." Haris mencoba meraih tangan Romeo, tapi seolah tak peduli, Romeo sama sekali tak menggerakkan tangannya untuk menyambut uluran tangan Haris.


"Bang." Rere menepuk lengan Romeo. Memintanya melalui tatapan mata agar suaminya itu mau berdamai dengan masa lalunya.


"Meo sudah memaafkan." Romeo menyambut uluran tangan Haris, tapi masih saja, dia enggan memanggil Haris ayah.


Ranti tak kuasa menahan tangis harunya. Kalau memang umur kakaknya tak lama lagi, setidaknya dia tidak meninggal dalam kondisi belum termaafkan.


"Dua hari yang lalu Mbak Risa datang kesini," ujar Ranti. Seperti kedua putranya, Risa juga mencoba untuk memaafkan meski itu sulit. Terlalu banyak luka yang dibuat Haris. Tapi bagaimanapun, menikah dengan Haris adalah pilihannya sendiri. Dan semua luka itu, adalah konsekuensi dari pilihan hidupnya.


"Ibu sudah cerita," sahut Haikal.

__ADS_1


Haris menatap Rania, diantara semua yang ada disana, hanya Rania yang tidak dia kenali.


"Dia calon istriku Yah." Haikal memperkenalkan. "Bulan depan kami akan menikah. Ayah harus sembuh agar bisa datang kepernikahan kami."


Air mata Haris turun kian deras. Setelah semua yang dia lakukan pada Haikal dan Romeo, ternyata dia masih ada tempat dihati mereka.


"Semoga kalian bahagia, maaf jika Ayah tak bisa datang. Ayah rasa umur ayah sudah tak lama lagi."


"Jangan bicara seperti itu," ujar Haikal. "Jangan mendahului ketetapan Allah. Ayah harus semangat. Apa ayah tak ingin menghabiskan masa tua bersama anak cucu?"


Haris seketika teringat anak Romeo. Cucu pertamanya itu, dia bahkan belum pernah melihatnya. Risa sudah menceritakan semuanya, tentang Romeo yang merupakan ayah kandung bayi Rere.


"Meo, ayah ingin sekali melihat anak kamu."


Setelah dulu dihina anak haram, sekarang ingin melihat. Cih, memalukan sekali. Kalau saja tak kasihan melihat tubuh renta ayahnya, ingin sekali Romeo memaki seperti itu.


"Ini foto cucu ayah." Rere menunjukkan foto tersebut. "Namanya Ryuga."


Romeo tak habis pikir dengan Rere. Selapang apa hatinya hingga bisa bersikap biasa seperti ini setelah saat itu dihina habis habisan oleh Haris.


Haris menatap foto baby Ryu dengan mata berkaca kaca. Wajahnya sangat mirip dengan Romeo. Dia jadi teringat saat saat dulu awal kelahiran Haikal dan Romeo. Dia sangat bangga dan bahagia dengan wajah putra putranya yang mirip dengannya.


"Dia sangat tampan, seperti Meo." Haris melihat kearah Romeo. Sedangkan Romeo, dia malah mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia tak sanggup beradu tatap dengan Haris.


.


.

__ADS_1


Selesai dari rumah sakit, Haikal dan Romeo pulang dengan mobil masing masing. Jika tadi Romeo lebih banyak diam, tangisnya pecah saat dia sudah sampai dirumah, didalam kamar.


Rere memeluk Romeo, merebahkan kepala pria itu keatas pangkuannya.


"Kau tahu Re, dulu, aku selalu iri pada teman temanku yang terlihat bahagia dengan ayahnya. Saat aku mengikuti pertandingan beladiri, teman temanku medapatkan dukungan dari ayahnya. Ayah mereka datang ke gor untuk melihat, meneriakkan nama putra mereka, tapi ayahku. Jangankan meneriakkan namaku untuk menyemangati, datang saja dia tidak pernah.


"Disaat teman teman yang lain menceritakan kehebatan ayah mereka, aku hanya bisa menunduk, karena bagiku, ayah adalah penjahat, bukan pahlawan yang patut dibanggakan."


Rere mengusap kepala Romeo sambil sebelah tangannya menyeka air mata. Hanya mendengar ceritanya saja, rasanya sudah sesak, apalagi menjadi Romeo.


"Disaat teman yang lain akan berfoto dengan kedua orang tua dihari kelulusan, aku hanya bisa berfoto dengan ibu. Aku punya ayah, tapi rasanya seperti tak punya. Aku kehilangan ayahku, kehilangan sosoknya padahal dia ada. Aku bukan anak yang pintar, tapi aku berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa kuliah. Karena apa? Karena aku terlalu muak padanya. Pada pria yang selalu berkata. Hei anak nakal, jangan berani menentang ayahmu. Bagaimanapun, aku yang menghidupimu, memberimu makan dan membayar biaya sekolahmu. Aku muak Re, aku muak mendengar kalimat seperti itu diulang terus menerus."


Rere tak bisa menahan air matanya. Sekali lagi, dia membayangkan berada diposisi Romeo. Seperti apa masa kecilnya dan ketidak bahagiaannya karena memiliki ayah seperti Haris. Dulu saat dia menjalin cinta dengan Haikal, pria itu tak terlalu membenci ayahnya, tapi hanya menganggapnya tak penting. Bahkan tak pernah mencoba mengenalkan Rere padanya.


"Tapi hari ini, melihat dia terbaring tak berdaya diatas ranjang, hatiku juga sakit Re. Aku tak bisa bahagia melihat penderitaannya, aku kasihan Re." Ujar Romeo sambil terisak.


"Itu karena Abang orang baik. Orang yang tak akan pernah bisa bahagia diatas penderitaan orang lain, meski orang itu telah banyak membuat luka." Rere terus membelai kepala Romeo, menyalurkan rasa cinta padanya.


Romeo mengangkat kepalanya, menggenggam tangan Rere sambil menatap kedua netranya.


"Aku sudah pernah merasakan sakitnya kehilangan Re. Yaitu kehilangan sosok ayah. Sejak saat itu, aku takut jatuh cinta, aku takut kecewa dan kehilangan. Sampai akhirnya, aku jatuh cinta padamu. Aku tak mau kehilangan lagi Re. Itu sangat sakit." Romeo memegangi dadanya yang terasa sesak.


Rere menyeka air mata Romeo dengan kedua ibu jarinya. "Jangan takut, aku tak akan meninggalkan Abang. Aku tak akan menorehkan luka yang sama seperti yang ayah Abang lakukan."


Romeo meraih tangan Rere lalu menciumnya berkali kali.


"Aku mencintamu Re, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku akan berusaha menjadi suami terbaik dan papa yang hebat bagi Ryu. Kalian adalah segalanya bagiku." Romeo menangkup kedua pipi Rere lalu menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2