Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
TETAP AKU YANG MENANG


__ADS_3

Disebuah cafe yang tak jauh dari tempat kerja Gina, Rere duduk seorang diri sambil menikmati segelas jus mangga. Sengaja dia memilih tempat ini untuk janji temu dengan Gina karena ramai. Terlalu beresiko bertemu wanita licik itu ditempat sepi.


Rasanya sudah lama sekali dia tidak keluar sejak siapa penanam benih dirahimnya terungkap. Bahkan juliet florist sudah beberapa hari ini tutup.


Rere melihat jam diponselnya, harusnya Gina sudah datang. Tapi entah kenapa, wanita itu belum sampai juga. Mungkin masih menyelesaikan pekerjaan sebelum istirahat. Tapi tak apa, dia masih akan setia menunggu hingga Gina datang.


"Apa aku membuatmu menunggu?"


Rere yang sedang sibuk membaca artikel diponsel seketika mendongak mendengar suara Gina. Seperti yang dia bayangkan, Gina datang dengan senyum lebarnya, seolah tak terjadi apa apa diantara mereka. Sungguh luar biasa wanita itu, disaat Febbi menangis sambil berlutut memohon ampun karena takut dipenjara, Gina justru kebalikannya. Tak ada ekspresi takut sedikitpun diwajahnya.


"Tidak masalah. Lagian kita teman baik, jangankan hanya menunggu 10 menit, 1 jam pun aku tak masalah." Sahut Rere tak kalah tenang dari Gina.


Gina menarik kursi lalu duduk dihadapan Rere. Wajah tak bersalahnya membuat Rere makin geram. Terbuat dari apa hati perempuan didepannya itu.


"Lama tak bertemu, perutmu tiba tiba sudah sebesar ini. Jangan lupa mengabariku saat melahirkan. Aku akan membawakan kado yang besar untuk menyambut anak haram itu."


Byurr


Jus mangga yang baru diminum seperempat gelas itu berpindah kewajah Gina. Gina hanya terkekeh, mengambil tisu diatas meja lalu mengelapnya pelan.


"Mas." Rere memanggil seorang pelayan yang sedang membawa dua jus gelas diatas nampan. Dia berdiri, mengambil salah satu gelas berisi jus lalu mendekati Gina dan menyiramkan pelan pelan tepat diatas kepalanya. Anehnya, meski tahu, Gina tak menghindar. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


Justru pelayan itu yang tampak kaget sekaligus bingung. Pasalnya jus itu pesanan orang. "Tenang, aku akan membayarnya." Ujar Rere pada pelayan tersebut.


"Masih ada satu gelas lagi kalau dirasa masih kurang." Tantang Gina sambil menunjuk dagu kearah segelas jus yang masih ada dinampan yang dibawa pelayan. Dia seperti tak keberatan sama sekali harus mandi jus, padahal beberapa orang sudah mulai melihat kearah mereka berdua.


"Kurasa sudah cukup. Sayang kalau aku harus mengeluarkan uang untuk membayar jus itu hanya untuk mencuci sampah sepertimu. Karena sekali sampah, tetaplah sampah meski sudah dibasuh dengan air atau jus berkali kali." Sahut Rere sambil menyeringai lebar.

__ADS_1


Telapak tangan Gina mengepal kuat. Sepertinya emosinya mulai terpancing disebut sampah. Melihat pelayan yang hendak pergi, dia segera berdiri dan menyaut segelas jus yang dia bawa.


Pyar


Gelas yang dipegang Gina lebih dulu mendarat dilantai sebelum isinya mengenai wajah Rere. Ya, Rere berhasil membaca gerakan Gina dan menampik tangannya hingga gelas berisi jus itu jatuh dan pecah.


Plak


Saat Gina masih kaget, Rere sudah melayangkan tamparan diwajahnya. Kejadian itu membuat semua mata langsung tertuju pada mereka. Bahkan ada yang terang terangan merekam kejadian itu.


Gina tersenyum sembari memegangi pipinya yang terasa kebas. "Ternyata berani juga kau. Kupikir kau hanya bisa me_"


"Menangis?" Sahut Rere cepat. "Aku bukan wanita lemah, tapi aku wanita baik. Mungkin kebaikanku itulah yang membuatmu perfikir aku lemah. Kau salah Gina. Aku bisa melakukan lebih dari yang kau bayangkan."


"Benarkah?" tantang Gina.


Plak


"Dasar pelakor, berani beraninya kamu menggoda suamiku," teriak Rere. Dia sengaja berteriak agar semua orang melihat kejadian itu.


"Jadi dia itu pelakor?"


"Oh, dia pelakor."


Tak hanya 1 atau 2 orang, rata rata perempuan disana langsung berkomentar dan menatap Gina geram.


"Apa apaan, kamu?" Gina kelihatan mulai panik. Dia menarik tangannya dari cekalan Rere sambil memperhatikan sekeliling.

__ADS_1


"Dimana hati nuranimu sebagai sesama wanita. Apa kau tak lihat aku sedang hamil besar." Rere menunjuk perutnya. "Bisa bisanya kau malah merayu suamiku." Rere ingin menunjukkan pada Gina, kalau bukan hanya wanita itu yang bisa berakting, dia juga bisa.


Mendengar itu, para wanita dicafe makin geram. Hujatan demi hujatan langsung tertuju pada Gina.


"Dasar wanita gila. Bicara apa kamu? Dia bohong, aku bukan pelakor." Gina mencoba membela diri.


"Mana ada penjahat yang ngaku," teriak seseorang.


"Udah, gak usah berkelit," orang lain menyahuti.


Rere tersenyum miring melihat orang orang disana berpiha padanya. Senang sekali melihat Gi na yang mulai panik. Saat wanita itu hendak pergi meninggalkan cafe, Rere menarik rambutnya hingga Gina hampir terjengkang kebelakang.


"Mau kemana kau pelakor? Aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja," bentak Rere.


"Kurang ajar." Gina balas menjambak Rere. Melihat kejadian itu, orang orang disana langsung membantu Rere. Mereka ada yang menarik tangan Gina agar melepaskan jambakannya. Ada juga yang menyiram kepala Gina dengan minuman. Kepala, wajah dan baju Gina sampai basah saking banyaknya yang menyiram minuman padanya.


"Dasar pelakor tak tahu diri." Dan masih banyak lagi sumpah serapah yang dialamatkan pada Gina.


"Ingat, karma itu ada." Ujar Rere sambil menatap Gina tajam. "Berdoalah agar kau tak merasakan apa yang aku rasakan. Tapi aku, aku akan selalu berdoa agar kau merasakan lebih dari yang aku rasakan." Rere menekankan kata katanya.


Disaat bersamaan, Haikal yang tadi dihubungi Rere datang. Dengan senyum mengembang, Rere langsung menghampiri Haikal yang masih kaget melihat kondisi Gina yang berantakan. Rere hanya memintanya untuk datang, tanpa memberitahu apapun.


Rere melingkarkan tangannya mesra ke lengan Haikal. "Lihatlah, tetap aku yang menang." Ujar Rere sambil tersenyum puas. "Ayo kita pergi sayang."


Haikal bingung kenapa Rere tiba tiba memanggilnya sayang. Sebelum Haikal bersuara dan merusak semuanya, cepat cepat Rere menarik pria itu keluar cafe.


"Mampus. Lihatlah, pria itu lebih memilih pergi dengan istrinya daripada menolongmu," cibir seseorang. "Dimana mana, pelakor itu memang hanya selingan saja. Tetap istri sah yang akan menang."

__ADS_1


Gina mengepalkan telapak tangannya sambil menatap nyalang genggaman tangan Rere dan Haikal.


__ADS_2