Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MEMAAFKAN


__ADS_3

Haikal dan teman teman sekantor ikut keacara pemakaman. Meski Gina sudah tak lagi datang ke kantor sejak foto bugilnya tersebar, dia tetap teman mereka.


Ada perasaan bersalah dihati Haikal. Kalau saja dia tak meninggalkan Gina dalam kondisi mabuk di club, mungkin semua ini tak terjadi, tapi semua sudah terjadi, tak ada yang bisa merubah takdir.


Melihat jasad Gina yang dimasukkan ke liang lahat, Haikal tak kuasa menahan air mata. Bayangan Gina kecil terngiang dikepalanya. Gadis kecil polos yang selalu ingin ikut dia kemanapun dia pergi.


"Jangan ikut Gina, aku mau bermain bola dengan teman teman, semua laki laki. Kamu main sama Meo saja." Haikal terus membujuk Gina.


"Enggak, aku maunya sama Kak Haikal. Meo nakal, dia selalu ngisengin aku." Gina terus merengek minta ikut Haikal.


*Dan dengan sangat terpaksa, Haikal mengajaknya. Menyuruhnya menunggu dipinggir lapangan sambil melihatnya bermain.


Gina terlihat sangat senang. Dia tak henti henti meneriakkan nama Haikal. Memberinya semangat, dan akan berlari kearahnya untuk memberikan minum saat pertandingan berhenti sebentar*.


"Gak usah merasa bersalah."


Haikal menoleh saat mendengar suara Febbi. Saking terlarut dengan kenangan masa lalu, Haikal sampai tak menyadari jika ada Febbi disebelahnya.


"Kita tetap bersalah Feb. Sedikit banyak, semua ini karena kita." Haikal mengusap matanya yang merah.


"Aku yang salah, bukan kamu. Aku yang merencanakan semuanya." Jangan dikira Febbi tak merasa bersalah, dia juga sama. Dia tak mengira semua akan berakhir seperti ini. Mengingat Gina yang sudah sering keluar masuk club malam, dia sama sekali tak risau meninggalkannya disana malam itu.


Obrolan itu terhenti saat doa bersama. Apapun yang pernah dilakukan Gina, banyak yang menangis saat dia tidak ada. Pemakamannya juga sangat ramai, mungkin karena kematiannya viral. Warga yang tidak kenalpun, ada yang datang ke pemakaman. Tak hanya itu, ada juga beberapa wartawan yang meliput acara pemakaman.

__ADS_1


Setelah semua prosesi pemakaman selesai, para pelayat pulang satu persatu, tapi tidak dengan Haikal dan Febbi. Mama Gina tampak sangat terpukul, dia tak mau meninggalkan makan putri ke-2 meski suami dan anak tertuanya sudah memaksa.


Haikal dan Febbi menghampiri papa Gina, mengulurkan tangan untuk mengucapkan bela sungkawa serta permohonan maaf.


"Maafkan kami Om." Haikal menunduk, begitupun dengan Febbi.


Tepukan dipundak membuat Haikal mengangkat wajahnya.


"Sudahlah, mungkin ini memang takdir Gina. Om sudah tahu semuanya. Ada yang cerita pada om tentang pertengkaran kalian didepan kantor." Papa Gina menyeka air matanya. "Om yang salah disini, tak bisa mendidik Gina dengan baik. Terlalu sibuk mencari uang hingga tak sempat memberikan kasih sayang pada Gina." Papa Gina teringat 3 hari yang lalu, dia murka saat tahu Gina hamil. Bukannya merangkul dan membantunya mencari solusi, dia malah mengusir Gina karena dianggap memalukan keluarga. Sekarang dia hanya bisa menyesal.


"Ayo kita pulang Pah." Ujar kakak perempuan Gina yang sedang memapah mamanya. Dia menatap Haikal dan Febbi bergantian. "Tolong maafkan Gina." Tangisnya pecah setelah mengatakan itu. Dia merasa gagal menjadi kakak. Sibuk dengan hidupnya sendiri tanpa tahu masalah yang dihadapi adiknya.


Setelah keluarga Gina meninggalkan pemakaman, Haikal dan Febbi juga ikut pergi.


.


.


"Terimakasih Romeo." Ujar papa Gina sambil menjabat tangan dan menepuk bahu Romeo. Dia lalu menatap Rere. "Kamu, Rere?" Rere mengangguk.


Papa Gina menyeka air matanya yang turun terus menerus.


"Yang sabar Om," ujar Romeo. Dia bisa melihat duka mendalam dari mata papa Gina.

__ADS_1


"Maafkan Gina." Papa Gina menyentuh puncak kepala Rere. "Om mewakili Gina meminta maaf padamu." Dia masih ingat cerita teman Gina tentang apa yang telah diperbuat Gina pada Rere.


"Saya sudah memaafkannya Om." Rere ikut menangis.


"Terimakasih Nak." Papa Gina mengusap kepala Rere. "Oh iya Meo, apa kamu sudah menjenguk ayah kamu?" Dia beralih menatap Romeo. "Dia sudah beberapa hari di rumah sakit. Meskipun hubungan kalian tidak baik, dia tetap ayah kamu. Datanglah bersama Haikal, dia selalu menanyakan kalian setiap aku menjenguknya."


Romeo mengalihkan pandangannnya kearah lain. Haris, dia masih enggan untuk menyebutnya ayah. Baginya ayahnya sudah meninggal sejak memutuskan menikah lagi.


"Tak ada yang namanya mantan anak. Jangan sampai kamu menyesal seperti om setelah kehilangan. Om tak bisa menjaga Gina dengan baik, tak bisa mendidiknya dengan benar. Bahkan diakhir hidupnya, om malah memakinya, mengusirnya." Papa Gina kembali menyeka air mata dan menyusut hidung. "Sekarang om hanya bisa menyesal."


Pulang dari rumah Gina, Romeo tampak berbeda, sepanjang perjalanan kerumah, dia hanya diam saja.


"Apa Abang tak ingin menjenguk ayah?" Tanya Rere sambil menoleh kearah Romeo yang sedang mengemudi.


"Dia bukan ayahku."


"Tak ada yang namanya mantan ayah. Cobalah untuk berdamai dengan keadaan Bang. Abang orang baik." Rere mengusap lengan Romeo. "Saling memaafkan itu indah Bang. Hati akan menjadi lebih lega."


"Aku bukan kamu. Aku tak memiliki hati yang lapang sepertimu, yang bisa memaafkan kesalahan orang lain."


"Besok aku temani ya Bang. Kita jenguk ayah bersama sama."


"Aku bi_"

__ADS_1


"Bang, please. Seperti kata papa Gina, jangan sampai Abang menyesal setelah kehilangan. Kita jenguk ayah ya besok?"


Romeo akhirnya mengangguk, membuat Rere seketika tersenyum.


__ADS_2