Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
PERGILAH, KAMI TAK BUTUH KAMU


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Romeo melaju kencang membelah jalan raya yang padat. Mendengar Haikal bilang jika Rere sedang dirumah sendirian, membuatnya sangat cemas. Ingin sekali dia sampai dirumah detik ini juga untuk melihat kondisi Rere, sayangnya itu tak mungkin karena jarak tempat kerjanya dengan rumah Rere cukup jauh, 30 menit lebih perjalanan.


Dirumah, Rere menghubungi mamanya, meminta wanita itu untuk segera pulang.


"Berapa menit sekali kontraksinya?" tanya mama Jia.


"Rere gak lihat jam Mah. Agak lama jedanya, dan gak terlalu sakit. Tapi Rere tetap takut kalau sendirian begini." Sebagai orang yang belum pernah melahirkan, Rere jelas takut. Dia tak punya pengalaman apapun.


"Mama akan segera pulang. Kamu jangan panik, rileks saja. Saat kontraksi, tarik nafas dalam lalu buang perlahan. Kamu perbanyak jalan kaki saja sekarang."


Rere mengangguk meski mamanya tak bisa melihat. Setelah itu sambungan telepon terputus. Rere teringat Romeo, haruskah dia menghubungi pria itu sekarang?


Tidak perlu, kamu bisa tanpa dia Re.


Rere meyakinkan dirinya sendiri. Meski dia ingin melahirkan ditemani suami, tapi saat melihat wajah Romeo, dia masih merasa benci. Dia belum bisa sepenuhnya memaafkan apa yang diperbuat Romeo padanya. Dia memang sudah yakin untuk tidak melaporkan kasus ini ke polisi, tapi untuk melupakan kejadian itu dan memaafkan Romeo, dia belum bisa.


Sesuai arahan mamanya, Rere berjalan kaki mondar mandir didalam rumah. Mendengarkan musik agar lebih rileks sambil membaca artikel diinternet tentang proses melahirkan.


Ceklek

__ADS_1


Mendengar suara pintu dibuka, Rere pikir mamanya yang pulang. Tapi ternyata, malah orang lain yang datang.


"Rere, Re." Teriak Romeo sambil memasuki rumah mencari keberadaan Rere. Dia bernafas lega melihat Rere berada diruang tengah dalam kondisi baik baik saja. "Ayo kita ke rumah sakit." Dengan langkah lebarnya, Romeo menghampiri Rere dan hendak memegang tangannya, tapi belum juga kesampaian, Rere lebih dulu mundur dan menepis tangan Meo.


"Ayo kita ke rumah sakit. Bukankah kamu mau melahirkan?"


"Dari mana kamu tahu?" Rere mengernyit bingung. Perasaan dia hanya memberitahu mamanya saja.


"Haikal yang memberitahu. Ayo berangkat sekarang."


"Aku masih nunggu mama."


"Biar nanti mama nyusul. Aku takut terjadi sesuatu jika tak segera kerumah sakit. Ayo berangkat sekarang. Apa kau bisa jalan, apa perlu aku gendong?" Kepanikan Romeo justru melebihi Rere.


"Apakah sakit lagi? Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?" Romeo panik melihat Rere meringis menahan sakit. Dia ingin menjadi suami siaga, suami terbaik untuk Rere, tapi dia bingung harus bagaimana karena Rere tak mau disentuhnya sama sekali.


"Aku tidak apa apa pulanglah."


Romeo berdecak kesal. Bisa bisanya Rere menyuruh pulang setelah dia menyetir seperti orang kesetanan saking cemasnya memikirkan kondisinya.

__ADS_1


"Please, ayolah Re. Disaat seperti ini, tolong abaikan sebentar rasa marahmu." Remeo tak tahu harus berkata apa lagi. "Aku akan menemanimu melahirkan, apapun yang terjadi."


Diluar rumah, Tomas langsung emosi melihat mobil Romeo terparkir didepan rumahnya. Segera dia turun dan masuk kedalam rumah dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Jia tergopoh gopoh menyusul suaminya, dia tak mau ada acara hajar menghajar lagi.


"Ngapain kamu disini?" Suara lantang Tomas mengagetkan Romeo dan juga Rere. Keduanya langsung menoleh ke arah Tomas yang sedang terlihat emosi. "Pergilah, kami tak butuh bantuanmu."


"Ta_"


"Aku bilang pergilah. Biar kami yang mengurus Rere. Meski Rere menolak melaporkanmu ke polisi, tetap saja aku tak bisa menerima menantu seorang kriminal sepertimu. Aku tak rela putriku hidup dengan pria sepertimu."


"Sudah Pah, sudah. Jangan urusin lainnya dulu, lebih baik kita kerumah sakit sekarang," ujar Jia.


Romeo tak bisa berbuat apa apa. Melawan hanya akan membuat keluarga Rere makin membencinya. Dia membiarkan kedua orang tua Rere membawa Rere kerumah sakit, sedangkan dia mengikuti mobil mereka dari belakang.


"Ngapain dia masih ngikutin kita?" Gumam Tomas sambil melihat mobil Romeo dari spion.


Rere menoleh kebelakang, dia bisa melihat mobil Romeo yang masih terus mengikut dibelakang.


Begitu sampai dirumah sakit, Romeo langsung mendekati Rere yang berjalan bersama kedua orang tuanya menuju pintu masuk. Meraih tangan Rere lalu menggenggannya erat. "Aku akan tetap ada disini. Aku akan menemanimu."

__ADS_1


Rere hanya diam, tapi Tomas langsung mengurai genggaman tangan itu. "Aku bilang kita tak butuh kamu, pulanglah. Biar kami yang urus Rere."


Romeo menggeleng cepat. "Saya tetap akan ada disini meski ribuan kali papa mengusir saya."


__ADS_2