
"Apapun yang tengah kau rencanakan dengan Haikal, please, tolong aku Feb. Jangan sampai video itu dilihat Haikal." Romeo bicara melalui telepon dengan nada memohon. Saat ini, dia begitu cemas memikirkan nasibnya yang berada diujung tanduk.
"Aku akan usahakan Haikal tak melihat video itu Rom, tenanglah." Febbi juga tak tega jika kebahagiaan Rere hancur karena tahu semuanya. "Tapi doakan kami berhasil. Saat ini, Haikal dan Gina sedang otw kesini." Febbi sudah berada dibar saat ini.
"Ya, aku akan tetap berdoa supaya misi kalian sukses. Meskipun resikonya, aku akan kehilangan Rere."
"Meo."
Romeo kaget saat mendengar Rere memanggilnya. Begitu dia menoleh, ternyata Rere berada tak jauh darinya. Segera dia mematikan sambungan telepon. Entah sejak kapan Rere berada disana, tapi semoga saja, dia tak mendengar obrolannya dengan Febbi barusan.
"Kamu nelfon siapa malam malam begini?" Rere menghampiri Romeo yang duduk dikursi dapur.
"I, i, itu, teman aku di Jepang."
Rere mengernyit melihat kegugupan Romeo.
"Kamu gak lagi nelpon selingkuhan kamukan?"
Romeo tersenyum lalu memeluk Rere. "Saat seluruh ruang dihatiku terisi olehmu, masih mungkinkah ada tempat untuk wanita lain?" Romeo mengecup kening Rere beberapa kali.
Rere mengeratkan pelukannya. Dia tak serius dengan tuduhannya tadi. Dia sangat percaya pada Romeo. Percaya bahwa pria itu tulus mencintainya.
"Kenapa kamu bangun? Mau ke toilet?"
Rere mengangguk. Awalnya dia memang terbangun karena hendak buang air, tapi melihat Romeo tak ada disebelahnya, dia jadi mencari pria itu.
"Ayo aku antar."
Rere tergelak mendengar itu. "Buat apa kamu mengantar, bahkan pintu toilet saja, terlihat dari sini." Rere menunjuk dagu kearah pintu toilet yang memang ada di sebelah dapur.
"Tak masalah meski dekat, aku tetap ingin mengantar. Aku takut besok besok tak bisa mengantarmu ke toilet lagi."
"Kamu ngomong apa sih?"
"Udahlah ayo." Romeo menggendeng tangan Rere menuju toilet. Dan dengan setia dia menunggu sampai Rere selesai buang air lalu kembali menuju kamar.
Romeo membantu Rere naik keatas ranjang. Menarik selimut hingga menutupi setengah tubuh Rere lalu ikut naik dan berbaring disebelah Rere.
Romeo menahan tubuh Rere saat wanita itu hendak memunggunginya. "Hadap sini saja."
Rere mengernyit heran, pasalnya biasanya Romeo lebih suka memeluknya dari belakang. Karena jika dari depan, sedikit susah karena terhalang perut.
__ADS_1
"Aku ingin sepanjang malam ini, menatap wajahmu." Romeo membelai wajah Rere menggunakan punggung tangannya.
"Sepanjang malam menatap wajahku, yakin tidak mau tidur?" Rere menyebikkan bibirnya, mencibir Romeo.
Tak mungkin aku bisa tidur disaat nasibku sedang dipertaruhkan. Aku takut tak bisa lagi menatapmu Re.
"Hei, kamu kenapa nangis?" Rere kaget melihat cairan bening keluar dari sudut mata Romeo.
"Aku merindukanmu Re, aku sangat merindukanmu." Romeo mencium setiap inci wajah Rere.
"Meo, ada apa denganmu?" Rere makin bingung lagi. Mereka sedang bersama, bagaimana mungkin Romeo bilang merindukannya.
Romeo mengabaikan pertanyaan Rere, bibirnya maju untuk mencium bibir Rere. Ciuman itu terasa sangat lembut dan tulus, sangat berbeda dengan ciuman karena nafsuu semata.
"Re." Romeo meraih tangan Rere lalu menggenggamnya erat. "Apapun yang terjadi, kamu cukup yakin satu hal, bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
"Meo, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Perasaan Rere mendadak tak tenang. Tak mungkin Romeo tiba tiba berubah seperti ini, dia yakin telah terjadi sesuatu. "Apa kamu mau ninggalin aku?" Rere sampai kepikiran jauh kesana.
Romeo menggeleng. "Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Walaupun semesta meninggalkanmu, aku satu satunya orang yang akan selalu ada untukmu."
"Aku merasa kamu berbeda Meo, tolong jangan buat aku takut. Kamu kenapa?" Rere tak bisa menahan laju airmatanya. Dia yakin ada yang disembunyikan Romeo. Dan itu bukan sesuatu yang kecil.
"Kamu boleh membenciku Re, tapi tolong, jangan pernah benci anak kita." Romeo mengusap perut Rere. Menggeser posisinya lebih kebawah lalu mencium beberapa kali perut buncit itu.
"Hai boy, papa sangat menyayangimu nak." Romeo kembali mencium perut itu beberapa kali.
"Meo, jangan buat aku takut, ada apa sebenarnya?" Rere semakin terisak, dia gelisah melihat tingkah aneh Romeo.
Romeo kembali menggeser posisinya sejajar dengan Rere. Mengusap air mata istrinya sambil tersenyum. "Tidurlah, mimpi yang indah. Aku mencintaimu Renata Ishani." Romeo mengecup seluruh bagian wajah Rere.
"Enggak, aku gak mau tidur sebelum kamu bilang ada apa?" Rere menggeleng kuat. Meski baru saja diseka Romeo, air matanya kembali turun dan membasahi pipi.
"Tidak ada apa apa, tidurlah. Aku akan menjagamu sepanjang malam." Romeo kembali menyeka air mata Rere.
"Ta_"
Romeo meletakkan telunjuknya dibibir Rere. "Jangan pikirkan apa apa. Cukup kamu yakin satu hal, aku mencintaimu dan tak akan pernah meninggalkanmu. Tidurlah. Ibu hamil gak boleh begadang." Romeo kembali mengecup kening Rere.
.
.
__ADS_1
.
Sementara ditempat lain, mobil yang ditumpangi Haikal dan Gina sampai didepan sebuah club malam. Gina memang kerap masuk club, tapi bukan ini tempat dia biasanya clubbing.
Baru masuk saja, kepala Haikal langsung pusing. Selain karena suara musik yang sangat keras, ditambah lagi aroma minuman beralkohol yang sangat menyengat. Dia sampai heran, bisa bisanya orang orang suka ketempat seperti ini, padahal baru masuk saja, dia sudah merasa tak nyaman, bahkan sampai mual dan pusing.
"Mana teman kamu?" Tanya Gina setengah berteriak.
"Sebentar aku chat dulu."
Sebenarnya tak ada teman yang janjian mau ketemu. Haikal hanya pura pura saja. Dan saat ini, dia sedang mengirim pesan pada Febbi jika posisinya sudah ada didalam.
"Sialan," umpat Haikal.
"Ada apa?" tanya Gina.
"Dia ternyata baru saja pulang. Katanya ceweknya tiba tiba sakit." Haikal pura pura kesal.
"Oh..." Gina manggut manggut. Dia justru merasa senang. Karena itu artinya, mereka hanya akan berdua saja malam ini. "Karena udah disini, masak kita mau pulang lagi. Kesana yuk, pesan minum." Gina menunjuk ke meja bartender.
Haikal mengangguk. Padahal dia baru saja hendak mengajak Gina kesana, tapi malah Gina yang mengajak duluan. Ini lebih mudah dari perkiraannya.
"Aku gak ngerti jenis minuman disini, bisa gak kalau kamu aja yang mesenin," Haikal berbisik ditelinga Gina.
Gina tersenyum senang. Rencananya akan makin mudah jika seperti ini. Dia akan memesankan minuman dengan kadar alkohol tinggi untuk Haikal.
Sambil berjalan menuju meja bar, Haikal mengedarkan matanya mencari keberadaan Febbi. Dia bernafas lega saat melihat dimana cewek itu berada. Bagaimanapun, penyusun rencana adalah Febbi, dia hanya menjalankan saja karena tak terlalu paham tempat ini.
Keduanya lalu duduk dimeja bar. Heran juga Haikal melihat bartendernya ternyata seorang perempuan.
"Hai." Bartenter tersebut menyapa Haikal sambil tersenyum ramah. "Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya?" Wanita itu tampak sedang mengingat ingat.
Haikal mengernyit bingung. Ini pertama kalinya dia masuk ketempat seperti ini, mana mungkin mereka pernah bertemu.
"Sepertinya kamu salah orang. Ini pertama kalinya aku masuk kesini," sahut Haikal.
"Bukan, bukan disini, tapi ditepi jalan. Dulu kamu kan yang bantuin saat mobil aku mogok tengah malam. Hujan gerimis, kamu ingat?" Bartender itu adalah Alin, wanita yang pernah ditolong oleh Romeo. Wajah Romeo dan Haikal yang memang mirip, membuat Alin yang lupa lupa ingat, mengira jika Haikal adalah Romeo.
Gina tampak kesal melihat bartender yang sok kenal dengan Haikal.
"Sepertinya kamu salah orang. Aku tak pernah membantu memperbaiki mobil mogok ditepi jalan."
__ADS_1
"Oh..." Alin garuk garuk kepala. "Mungkin aku salah orang."
Gina segera memesan dua gelas minuman agar kedua orang itu tak lagi sibuk mengobrol. Sengaja dia memesankan minuman dengan kadar alkohol tinggi untuk Haikal.