
Romeo bernafas lega saat melihat juliet florist buka. Kemarin dia kesini tapi tutup. Gegas dia memarkir mobilnya lalu masuk. 3 hari tak bertemu Rere, dia sangat merindukan istrinya itu.
"Selamat datang di juliet florist." Sapa Vani yang tengah sibuk melayani seorang pembeli. Dia tak fokus melihat siapa yang datang.
"Rere mana Van?"
"Oh, Mas Romeo." Vani baru nggeh jika yang masuk barusan adalah Romeo.
"Mbak Rere gak ke toko. Aku sendirian hari ini."
"Apa Rere sakit?" Romeo seketika panik. Pasalnya dia tahu seperti apa Rere. Semangat kerjanya sangat tinggi. Bahkan Rere tak pernah mengambil libur dalam seminggu full.
"Kok tanya saya, mas kan suaminya."
Romeo langsung malu mendapat jawaban telak itu. Pasti Vani tak tahu jika mereka pisah rumah, tak seharusnya dia bertanya seperti tadi.
"Van, boleh pinjam ponselnya sebentar. Aku mau nelfon Rere. Ponselku baterinya habis." Sebenarnya bukan habis, melainkan nomornya diblock oleh Rere.
Karena Romeo termasuk bosnya, tanpa fikir panjang Vani segera memberikan ponselnya.
Tut tut tut
Panggilan tersambung, tapi belum juga diangkat oleh Rere, membuat Romeo makin cemas. Dia takut istrinya itu sakit atau terjadi sesuatu.
"Hallo Van, ada apa?"
Mata Romeo seketika berkaca kaca mendengar suara Rere. Saat ini, dia sungguh sungguh sangat merindukan istrinya itu. Suara Rere yang terdengar lemah, membuatnya khawatir Rere sedang tidak baik baik saja saat ini.
"Van, ada apa? Apa ada masalah di toko?" Rere kembali bertanya karena orang diseberang sana hanya diam.
Romeo setia dengan diamnya. Dia takut saat mendengar suaranya nanti, Rere akan langsung memutus sambungan telepon.
"Van."
"Aku merindukanmu."
__ADS_1
Rere kaget saat mendengar suara Romeo. Dia kembali melihat ponsel, memastikan ulang apa benar Vani yang meneleponnya atau bukan.
"Aku merindukanmu Re, sangat merindukanmu."
Air mata Rere hampir menetes mendengar itu. Tidak, dia tak boleh lemah. Romeo yang telah membuat hidupnya berantakan, Romeo orang jahat yang telah mengambil kesuciannya. Dengan segera Rere memutus sambungan telepon.
Tak berhasil menemui Rere di toko, tak membuat Romeo putus asa. Dia pergi kerumah Rere, berharap bisa melihat Rere yang mungkin saja ada diteras. Tapi harapannya pupus saat tak melihat istrinya itu didepan rumah. Bahkan rumah Rere tertutup rapat hingga pagar depannya.
Romeo tak langsung pulang, dia tetap memarkir mobilnya diseberang rumah Rere. Berharap nanti, Rere akan keluar, tapi hingga tengah malam, dia tak mendapati Rere keluar dari rumahnya.
.
.
.
Pagi pagi, Rere dikejutkan dengan kedatangan ojek online yang mengantarkan sesuatu yang dibungkus paperbag.
"Saya tidak memesan apa apa Pak?" Rere bingung karena merasa tak memesan apapun melalui ojek online.
Akhirnya Rere menerima paperbag tersebut. Tanpa dia ketahui, Romeo memperhatikannya dari jauh. Dia tersenyum, setidaknya, mengetahui Rere baik baik saja, sudah lebih dari cukup baginya.
Rere membawa masuk paperbag tersebut dengan penuh tanya. Kira kira siapa yang pagi pagi mengirimkan sesuatu untuknya, dan apa isi paperbag yang lumayan berat itu.
Dan saat dia membuka kiriman tersebut, ternyata isinya adalah makanan dan sekotak susu hamil uht. Ada kertas yang direkatkan diatas kotak makan tersebut.
Tumis brokoli dan ayam teriyaki kesukaanmu. Aku membuatnya dengan penuh cinta, semoga kamu dan anak kita sehat selalu.
Karena sekarang aku tidak lagi bisa membuatkanmu susu, semoga susu kotak ini bisa menggantikan tugasku.
Aku mencintaimu my juliet.
Rere meremas kertas tersebut. Meski tak ada nama pengirim, dia yakin itu dari Romeo. Rere tak memakannya, meletakkan begitu saja makanan tersebut diatas meja makan.
Jia yang baru tiba dimeja makan, langsung menatap kotak putih transparan yang ada diatas meja.
__ADS_1
"Kamu pesan makanan Re?" Tanyanya sambil memperhatikan kotak tersebut lalu membukanya. Seketika aroma sedap dari makanan tersebut langsung tercium. Membuat Rere menelan ludah karena teringin sekali mencicipinya.
"Dikasih tetangga Mah."
"Oh...bisa pas gitu ya, masakan tetangga sama kesukaan kamu. Ya udah kamu makan aja."
Rere menggeleng. "Buat mama aja. Siapa tahu mama ingin bawa bekal kesekolah. Rere sedang tak ingin makan itu."
"Ya udah buat papa saja kalau semua pada gak mau." Ujar pak Tomas yang baru datang ke meja makan. Dia mengambil alih makanan yang awalnya dipegang istrinya itu. "Kayaknya enak nih." Dia yang memang hendak sarapan, langsung memakan makanan tersebut.
Rere menelan ludah berkali kali saat melihat papanya memakan masakan Romeo. Sebenarnya dia ingin sekali, tapi rasa marahnya pada Romeo membuatnya enggan memakannya.
"Kamu sekarang minum susu uht Re?" Tanya Jia yang melihat susu uht diatas meja. "Susu bikinan mama gak enak ya? Mama lihat kamu tak pernah meminum susu bikinan mama. Padahal biasanya kalau Romeo yang bikin, selalu kamu habiskan."
Tomas yang sedang mengunyah makanan seketika berhenti mendengar istrinya menyebut nama Romeo.
"Jangan sebut nama itu lagi disini," ujar Tomas.
Jia menghela nafas. Bukannya dia membela Romeo, tapi dia merasa jika Romeo memang tak seburuk itu. Dia bisa menilai selama Romeo menjadi menantunya dan tinggal disini.
"Apa kamu sudah siap untuk ke kantor polisi?"
Rere meremat dasternya. Dia belum yakin akan membawa kasus ini kejalur hukum.
"Apa tak ada jalan lain Pah?" Jia masih tak setuju dengan hal itu.
"Kita tak boleh lemah Mah. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Enak sekali jika mereka lepas begitu saja." Tomas kesal kalau sudah berdebat soal ini dengan Jia. Biasanya dia selalu satu pemikiran dengan istrinya itu, tapi entah kenapa, kali ini berbeda.
"Rere ke kamar dulu." Rere beranjak dari kursi lalu masuk kedalam kamar.
Diatas ranjang, dia memeluk bantal sambil menangis. Satu sisi hatinya, ingin sekali mereka bertiga mendapatkan hukuman yang setimpal, tapi satu sisi hatinya yang lain, tak sanggup jika melihat Romeo di penjara.
Sudah seminggu lebih, paket makanan selalu datang setiap pagi. Sampai suatu ketika, Jia yang menerimanya. Wanita itu akhirnya tahu jika makanan itu bukan berasal dari tetangga, melainkan dari Romeo.
Tak hanya paket makanan, hampir setiap malam, Romeo tidur didalam mobil yang diparkir diseberang rumah Rere. Dan ketika subuh, pria itu baru pulang.
__ADS_1