
Sepulang dari kantor, Romeo langsung menuju Juliet florist. Ya, pria itu sudah bekerja sejak dua bulan yang lalu. Disebuah perusahaan yang lumayan bonafit. Semua itu jelas tak lepas dari dukungan dan doa Rere, dan mungkin juga karena rejeki baby.
Senyum Romeo merekah tatkala melihat Rere yang sibuk membuat buket bunga. Semakin hari, istrinya itu terlihat semakin cantik. Bersamaan dengan perutnya yang membuncit dikehamilan 7 bulan, aura kecantikannya juga kian terpancar.
"For my special wife." Romeo menyodorkan setangkai mawar merah yang dia ambil didepan.
Bukannya tersenyum lalu menerima bunga tersebut, Rere malah berdedak sambil memutar kedua bola matanya jengah. "Itu bunga milikku, dasar tidak modal."
Romeo tergelak mendengar ejekan itu. Dia meletakkan bunga diatas meja kasir lalu membuka tas. Mengeluarkan dompet dan mengambil kartu atm.
"Apa ini cukup untuk membayar?" Romeo meletakkan kartu tersebut didepan Rere.
"Yakin isinya banyak?" Rere menyebikkan bibir.
"Silakan dicek nyonya Romeo."
Tiba tiba mata Rere membulat, dia baru ingat jika hari ini akhir bulan, itu artinya Romeo gajian. Dan seperti bulan lalu, malam ini mereka akan makan malam diluar serta jalan jalan. Seperti itulah yang Romeo janjikan beberapa hari yang lalu.
"Aku akan segera menyelesaikan ini lalu menutup toko."
Sekarang giliran Romeo yang menyebikkan bibir. Dia yakin kalau Rere sudah ingat jika hari ini dia gajian. Dasar perempuan, kalau udah urusan uang, langsung bersemangat.
Setelah menyelesaikan buket dan menyerahkannya pada pelanggan, Rere segera mengemasi meja kasir. Sementara Romeo, dengan dibantu Vani, pegawai Rere, mereka memasukkan bunga yang ada diluar lalu menutup toko.
"Gimana kalau kita ke mall." Ajak Romeo sambil menggandeng tangan Rere menuju mobil.
Mall, Rere tampak tak beminat. Badan yang terasa berat membuatnya malas kalau harus mengitari mall.
"Ayolah, ada sesuatu yang ingin aku beli."
Mendengar itu, dengan terpaksa Rere mengangguk setuju. Keduanya lalu menuju mall yang letaknya tak jauh dari juliet florist.
Tempat pertama yang mereka singgahi adalah restoran. Selesai urusan perut, Romeo mengajak Rere ke toko perlengkapan bayi.
__ADS_1
"Sepertinya kita sudah butuh mulai mencicil perlengkapan bayi." Romeo tampak sangat bersemangat, berbeda dengan Rere, respon wanita itu sangatlah datar.
"Ayolah Re, sudah sebesar ini." Romeo menyentuh perut Rere. "Apa kau masih belum bisa menerimanya?"
"Uhhh..." Rere tiba tiba meringis sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa?"
"Dia menendang." Tendangan yang lumayan kuat dan tiba tiba membuatnya kaget sekaligus nyeri.
Romeo kembali meletakkan tangannya diperut Rere lalu mengusapnya lembut. "Dia pasti senang karena tahu kita akan berbelanja untuknya."
Benarkah itu? Rere tak ingin percaya, tapi mungkin itu memang benar. Dan seperti biasanya, tendangan diperut itu lama kelamaan berhenti saat Romeo mengusapnya lembut.
"Ya udah, ayo kita masuk."
Bibir Romeo melengkung keatas mendengarnya. Dia menggandeng mesra tangan Rere masuk kedalam toko. Romeo menarik Rere menuju bagian baju bayi. Baju baju berukuran kecil itu tampak sangat menggemaskan, terutama baju perempuan, sayangnya anak mereka berjenis kelamin laki laki.
"Aku rasa ini cocok untuk baby R." Romeo menunjukkan jumper warna biru bergambar superman.
Romeo mengambil jumper ditangan Rere lalu memasukkannya kedalam tas plastik. "Kita ambil dua-duanya saja." Rere langsung mengangguk. Selanjutnya, mereka kembali memilih baju, handuk, kaos kaki dan perlengkapan lainnya.
Romeo menatap Rere sambil garuk garuk kepala, bukankah tadi dia tidak mau, tapi kenapa makin kesini, Rere makin bersemangat menguras isi atm nya.
"Meo, lihatlah ini lucu sekali."
Romeo terbelalak saat Rere menunjuk box bayi dengan harga fantastis. Harganya setara dengan 1 bulan penuh gajinya.
Rere mendekati Romeo sambil mengernyit. "Kenapa wajah kamu pucat?"
"Ma, masak sih?" Romeo memaksakan tersenyum meski dia sangat tertekan saat ini.
Rere tiba tiba tergelak, membuat Romeo menatap heran.
__ADS_1
"Sepertinya suamiku ini sangat tertekan." Ledek Rere sambil merangkul pinggang Romeo. "Aku hanya becanda Meo." Rere menutup mulutnya menahan tawa.
"Ish, menyebalkan." Desis Romeo sambil memelototi Rere.
Disaat bersamaan, tiba tiba pelayan toko menghampiri mereka. Dengan senyum lebar, dia mulai menjalankan misinya untuk menarik hati konsumen.
"Ayah, Bunda, tertarik dengan box ini. Lagi ada diskon."
Romeo yang awalnya lemas langsung bersemangat mendengar kata diskon.
"Ada diskon 10 persen pembelian box bayi setelah belanja diatas 1 juta."
"Enggak Mbak, kita cuma lihat aja, belum tertarik." Sekarang malah gantian Rere yang kalut. Dia menarik lengan Romeo yang sedang fokus melihat box.
"Ada diskon Re, lumayan."
Rere langsung nyengir. Baginya meskipun sudah didiskon, tetap saja masih mahal.
"Itu ayahnya tertarik Bun." Mbak mbak spg kembali mengompori.
"Kita gak butuh ini Meo. Box hanya berguna sebentar saja, tak terlalu penting. Nanti baby nya tidur dikasur aja."
"Terus aku tidur dimana?"
Deg
Rere langsung teringat saat itu juga. Setelah dia melahirkan dan habis masa nifas, itu artinya Romeo sudah boleh memperlakukaannya seperti suami istri yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin dia lupa itu.
Romeo mendekati Rere lalu berbisik. "Jangan terlalu tegang, aku hanya becanda. Aku akan menunggu hingga kamu siap."
Rere menatap Romeo sambil tersenyum. Mana mungkin dia tega membuat Romeo terus menunggu. Menunggunya dari hamil hingga melahirkan sudah cukup lama. Bahkan dia yakin tak semua pria bisa melakukan itu.
"Mbak, bisa bantu pilihin gak, box yang harganya agak miring tapi kualitasnya bagus."
__ADS_1
Romeo kaget mendengar Rere mengatakan itu. Apa ini artinya.....