
Jika didalam rumah terdengar suara gelak tawa dari kedua orang tua Rania dan keluarga Haikal, diteras rumah justru kebalikannya. Hening, Rania menunduk sambil meremat jemarinya. Kalau dua kali pertemuan terdahulu dia bisa bicara santai dengan Haikal, lain halnya dengan malam ini. Dia gugup, jantungnya berdebar dan lidahnya terasa kelu.
Situasi ini mengingatkan dia pada Hanafi. Mantan suami yang juga melakukan hal yang sama. Tiba tiba datang untuk mengkhitbahnya.
Haikal, jangan ditanya lagi. Dia sama saja, gugup dan gelisah takut lamarannya ditolak.
"Aku tak menyangka kamu serius dengan ucapanmu dulu," ujar Rania.
"Masa depan bukan sesuatu yang bisa dibuat untuk becandaan. Aku serius, bahkan sangat serius untuk meminangmu."
"Tapi kita belum lama kenal?" Rania masih saja menunduk.
"Bukankah kita bisa saling mengenal setelah ini. Aku kesini memang berniat untuk meminangmu, tapi bukan berarti aku mengajakmu langsung menikah besok. Kita masih ada waktu untuk saling mengenal."
Sebenarnya bukan hanya saling mengenal yang Rania pikirkan, melainkan Haidar. Dia bukan lagi single yang hanya memikirkan kebahagiaannya, tapi sekarang, ada Haidar yang menjadi prioritas utamanya.
"Aku janda beranak Kal, ada Haidar."
Haikal terkekeh pelan mendengarnya. "Aku sudah tahu sejak awal kita bertemu. Kau tak perlu menanyakan kesiapanku untuk menjadi ayah Haidar. Aku siap menggantikan peran alm. suamimu untuk menjadi sosok ayah buat Haidar. Aku siap menafkahi kalian berdua."
Rania menggeleng lalu menoleh kearah Haikal. "Bukan itu yang aku pikirkan. Kebutuhan Haidar sudah dijamin oleh keluarga alm. suamiku. Aku menginginkan suami yang bisa tulus menyayangi Haidar, menganggapnya seperti anak sendiri meski bukan darah dagingnya."
"Isyaallah aku bisa melakukannya," jawab Haikal mantap. "Bahkan nanti saat aku memiliki anak kandungpun, aku tak akan membedakan mereka."
Rania melihat ketulusan dimata Haikal. Setelah dia melahirkan, banyak sekali pria yang mulai mendekatinya. Kalau boleh jujur, statusnya ini membuatnya tak nyaman. Seperti yang dikatakan mama dan mertuanya, tak baik lama lama menjanda.
"Apa masih ada yang ingin kau katakan, jika tidak, lebih baik kita masuk. Aku tak bisa mengambil keputusan sepihak. Aku harus meminta persetujuan orang tuaku."
Haikal menganggak, keduanya lalu kembali masuk kedalam. Pantas saja didalam terdengar begitu berisik, ternyata ada Haidar yang sedang tertawa terbahak bahak dipangkuan Romeo. Haidar terlihat gemas melihat baby Ryu, bahkan beberapa kali tangannya berusaha menggapai Ryu yang ada digendongan Rere.
__ADS_1
"Pa, pa pa..." Celoteh Haidar saat melihat mamanya dan Haikal masuk. Bayi gembul itu merentangkan tangan, minta digendong Haikal.
Haikal mendekatinya lalu mengambil alih Haidar yang berada dipangkuan Romeo.
"Baru dua kali bertemu, tapi Haidar bisa langsung suka gitu sama kamu," tutur mama Rania. Dia tersenyum, rasanya senang sekali jika cucunya yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, bisa merasakan hal itu meski dari pria lain.
"Maaf, kami tinggal masuk sebentar," pamit papa Rania. Mereka bertiga lalu masuk kedalam untuk berbincang.
"Gimana Kal, apa yang kamu bicarain sama Rania tadi? Kemungkinan ditolak apa diterima?" Romeo ikut merasa tegang.
Haikal menggeleng. "Belum jelas."
"Sudahlah, jodoh itu sudah diatur yang diatas. Kalau memang jodoh, ya jadi. Kalau enggak, meski usaha seperti apapun, tetap saja tak akan jadi," Bu Risa menimpali.
Sekitar 15 menit kemudian, Rania dan kedua orang tuanya keluar. Saat ini, situasinya menjadi lebih tegang dari awal tadi.
Haikal duduk disebelah Bu Risa. Ketegangan tampak jelas diwajahnya, membuat Aiden, papa Rania ingin sekali tertawa.
"Sebelumnya, kami ingin mengucapkan terimakasih atas kedatangan dan niat baiknya kesini. Kami minta maaf jika sambutan kami hanya seadanya. Dan untuk lamarannya_"
Penjedaan kalimat itu membuat jantung Haikal sekeluarga jadi jedag jedug.
"Kami terima lamarannya."
"Alhamdulilah," seru Haikal lantang. Tak pelak perhatian semua orang langsung tertuju padanya. Romeo, sekuat tenaga dia menahan tawa, begitupun Rere.
"Tapi, Rania butuh waktu. Dia masih ingin lebih mengenal Haikal, dan sebaliknya. Jadi kalau tidak keberatan, Rania masih meminta waktu beberapa bulan sebelum menikah. Selain itu, kami juga perlu membicarakan ini dengan keluarga alm. suami Rania. Bagaimanapun, Haidar cucu mereka. Jadi mereka berhak tahu seperti apa pria yang akan menjadi ayah sambung Haidar."
Haikal mengangguk, begitupun dengan Bu Risa. Rona bahagia terlihat diwajah keduanya. Rania, saat pandangan matanya tak sengaja bersitatap dengan Haikal, segera dia menunduk karena malu. Bahkan pipinya langsung terlihat bersemu merah.
__ADS_1
.
.
Haikal sekeluarga pulang dengan perasaan lega. Ternyata tak sia sia bu Risa membuat kue dan Romeo bertanya hingga 13 kali. Usaha mereka berbuah manis.
"Gimana kalau kita mampir kerestoran, aku traktir makan enak," ujar Haikal yang sedang bahagia. Dia ingin membalas kebaikan keluarga yang sudah mendukung dan mau dia repotkan.
"Aku udah kenyang, langsung anterin kita pulang aja," sahut Romeo.
Rere melongo mendengar ucapan Romeo. Perasaan belum makan, tapi kenapa udah kenyang. Padahal saat ini, Rere tengah kelaparan.
"Emang makan apa kenyang?" tanya Bu Risa. "Ibu lapar, Rere pasti juga lapar, dia kan menyusuii." Bu Risa menoleh kearah Rere.
"Kita makan dirumah aja Yank. Kasihan mama kamu udah masak tapi kita malah makan diluar. Udah, anterin kita pulang aja." Romeo kekeh minta cepat pulang.
Rere sampai heran, ada apa dengan suaminya. Ngebet sekali minta cepat cepat pulang. Padahal ada tawaran traktiran, sayang jika dilewatkan.
.
.
.
Hai hai hai
Author ada novel baru nih, judulnya KUTUKAN MANTAN ( istri jelekku ) Genre komedi romantis. Novelnya ringan, seringan kapas. Jangan lupa mampir dan langsung dimasukkan favorit. Terimakasih.
__ADS_1