Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
SEPERTINYA MAU MELAHIRKAN


__ADS_3

Haikal yang belum paham apa yang terjadi, hanya diam saja saat Rere menggenggam tangannya hingga di luar cafe. Kalau boleh meminta, dia ingin seperti ini terus, seperti dulu. Tapi harapannya langsung sirna saat Rere melepaskan genggaman tangan mereka.


"Terimakasih sudah mau datang. Maaf jika tanpa izin, aku memegang tanganmu. Tolong jangan salah paham, aku hanya ingin membalas Gina."


Haikal berusaha tersenyum meski sebenarnya, dia sangat kecewa. "Ya, aku tahu."


Rere meringis sambil memegangi perutnya yang tiba tiba terasa sakit, seperti kontraksi.


"Ada apa Re?" Haikal terlihat cemas.


"Tidak apa apa." Rere lega karena sakit itu hanya sebentar. "Aku pulang dulu," pamitnya.


"Aku antar."


Rere menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa naik taksi." Dia tak mau terlihat memberi harapan pada Haikal. Dan seperti apapun hubunganya dengan Romeo saat ini, statusnya dengan Haikal tetaplah ipar.


"Baiklah." Haikal tak mau memaksa, sepertinya jalan untuk kembali pada Rere memang sudah tertutup rapat. Saat Rere hendak pergi, tiba tiba Haikal melihat Gina yang keluar dari cafe.


"Ada Gina." Ujar Haikal sembari memberi kode lewat mata. "Aku antar saja."


Rere melirik dari sudut matanya. Benar, ada Gina yang berdiri tak jauh dari pintu masuk cafe. Sepertinya dia memang harus menerima tawaran Haikal agar Gina makin sakit hati lagi.


"Baiklah."


Senyum Haikal langsung mengembang. Segera dia berjalan beriringan dengan Rere menuju mobilnya yang terparkir dihalaman cafe. Seperti kebiasaannya dulu, dia membukakan pintu untuk Rere. Menutup kembali setelah Rere duduk nyaman lalu mengitari mobil menuju bagian kemudi.


Mobil melaju keluar dari halaman cafe. Rere bisa melihat betapa berantakan dan kesalnya wajah Gina. Tapi masalahnya sekarang, dia harus terjebak bersama Haikal berdua dimobil. Dia tak nyaman dengan situasi ini.


"Bisa turunkan aku dihalte depan?" Ujar Rere begitu mobil sudah agak jauh dari cafe.

__ADS_1


"Apa segitu tak nyamannya bersama aku?"


"Kita sudah tak seperti dulu Kal. Dan saat ini, status kita adalah ipar. Apa kamu pernah mendengar istilah ipar adalah maut? Aku tak ingin ada salah paham apalagi sampai fitnah. Ada hati yang harus kita jaga."


"Romeo?"


Rere hanya diam mendengar Haikal menyebut namanya. Sepertinya dia tak perlu memperjelas jawaban yang sudah jelas.


"Apa hubunganmu dan Romeo sudah membaik?"


"Bagaimanapun hubungan kami saat ini, dia masih suamiku. Statusku, masihlah istri dari Romeo."


Haikal makin menyesal telah melepaskan Rere. Melepaskan wanita yang meski kondisi rumah tangganya sedang tak baik baik saja, masih menjaga batasan dengan laki laki lain, masih memikirkan perasaan suaminya.


"Apa kau masih marah padaku? Sekali lagi, aku minta maaf atas semua tuduhan dan kata kasarku waktu itu. Saat itu a_"


Haikal seketika terdiam. Seperti permintaan Rere, dia menghentikan mobilnya didepan halte.


"Sekali lagi terimakasih." Rere membuka pintu, tapi saat hendak turun, dia kembali merasakan kontraksi.


"Kau baik baik saja Re?"


Rere diam, dia masih merasakan perut bagian bawah serta pinggangnya yang sakit.


"Aku antar sampai rumah saja."


Rere yang takut terjadi sesuatu pada kandungannya akhirnya mengangguk. Dia kembali menutup pintu lalu menyandarkan punggungnya, mencari posisi ternyaman.


"Jangan jangan kau mau melahirkan?" tebak Haikal.

__ADS_1


Rere juga berfikiran kesana. Tapi hpl nya masih lumayan lama, masih 20 hari lagi.


"Mungkin hanya kontraksi palsu. Perkiraan melahirkan masih lama," sahut Rere.


Haikal yang belum pernah menikah dan menghadapi wanita hamil, jelas tak paham tentang itu. Apa itu kontraksi palsu, dia juga tak tahu. Jadi dia hanya diam saja.


Mobil yang mereka tumpangi kembali menyusuri jalan raya. Harusnya jam istirahat Haikal sudah selesai. Tapi dia tak peduli itu. Dia lebih memilih mengantar Rere sampai rumah dan memastikan wanita itu baik baik saja. Hingga tibalah mereka didepan rumah Rere.


"Apa orang tuamu ada dirumah?" Haikal melihat rumah Rere begitu sepi.


"Sepertinya mereka belum pulang. Mungkin sebentar lagi."


"Apa tidak apa apa kamu dirumah sendirian? Aku takut jika kamu akan segera melahirkan."


Meski Rere juga cemas akan hal itu, tapi bersama Haikal bukanlah pilihan yang tepat.


"Tidak apa apa, aku akan menghubungi mamaku agar segera pulang. Aku keluar dulu." Rere lalu keluar dari mobil Haikal dan menutupnya kembali.


Sementara Haikal, perasaannya tak tenang. Dia takut Rere akan melahirkan sementara wanita itu hanya dirumah sendirian. Menemaninya dirumah, jelas tak mungkin karena mereka hanya berdua saja. Bingung harus bagaimana, akhirnya Haikal menghubungi Romeo. Mengabaikan rasa marahnya pada pada adiknya itu. Karena bagaimanapun, yang paling berhak bersama Rere jelas Romeo, suaminya.


"Apa kau yakin?" Tanya Romeo saat Haikal mengatakan Rere akan segera melahirkan.


"Tidak begitu yakin sih, tapi kemungkinan."


Romeo yang tak pernah lupa kapan hpl Rere segera melihat kalender. "20 hari lagi," gumamnya pelan. Tapi kata dokter, bisa maju atau mundur. Jadi bisa saja, Rere memang mau melahirkan.


"Bisakah kau tunggu disana sebentar, aku akan segera kesana. Tolong jaga istriku sampai aku datang."


Belum juga Haikal memberi jawaban, Romeo sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon. Segera dia membereskan meja kerja dan meminta izin pulang dulu.

__ADS_1


__ADS_2