Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MENOLONG SI GEMBUL


__ADS_3

"Lebay." Cibir Haikal saat Romeo pamit masuk lebih dulu dengan alasan sudah kangen anak istri. Dia menatap punggung Romeo yang berjalan menuju ruangan Rere. Langkahnya cepat seolah olah sudah setahun tak bertemu, padahal baru beberapa menit.


Haikal kembali melihat kedepan. Dihabiskannya kopi yang tinggal sedikit serta rokok yang sudah terbakar setengah. Dia teringat kembali seperti apa saat pertama jatuh cinta pada Rere, kurang lebih kelakuannya sama dengan Romeo barusan. Rindu, rindu dan rindu. Dan sekarang, rasa itu tak boleh lagi ada dihatinya, dia tak boleh lagi merindukan ataupun memikirkan Rere.


Haikal berdecak pelan melihat cup kopi milik Romeo yang masih ada diatas bangku.


"Sepertinya dia sengaja menyuruhku membuangnya."


Setelah rokok yang terselip diantara dua jarinya habis, Haikal membuang cup kopi ketempat sampah lalu kembali masuk kedalam rumah sakit.


Saat melewati poli anak, suara lengkingan tangis bayi menarik perhatiannya. Seorang wanita tampak sedang kerepotan membuat susu. Menaruh bubuk susu kedalam botol lalu berusaha membuka tutup termos wadah air panas. Sementara gerakannya terbatas karena menggendong bayinya yang menangis.


"Sebentar ya sayang, sebentar."


Meski ada orang lain disebelah wanita itu, tapi tak seorangpun yang berniat membantu. Mungkin pikiran mereka sedang tak ada disini, melanglang buana memikirkan anak mereka yang juga sakit.


"Boleh saya bantu?" Haikal yang kasihan menawarkan bantuannya.


"Apa tidak masalah?" tanya wanita tersebut sambil menatap kearah Haikal. Dan saat itulah, Haikal baru sadar jika wanita berbalut hijab pink itu sangat cantik.


"Ti, tidak."


Astaga, kenapa aku mendadak jadi nerveous gini. Sadar Haikal, dia ini punya anak bayi, sudah tentu dia punya suami.


"Bisa tolong gendong bayiku sebentar, selama aku membuat susu."


"Tentu."


Wanita itu melepaskan gendongannya. Memberikan bayi laki laki montok berusia sekitar 5 bulan kepada Haikal.

__ADS_1


Seketika kulit Haikal terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit bayi yang panas tersebut. Meski sedikit kaku saat menggendong, tapi Haikal berusaha untuk membuatnya berhenti menangis. Menimang nimang sambil mengajaknya becanda. Sesuatu yang luar biasa, bayi itu berhenti menangis. Matanya menatap kearah Haikal dan tangannya memegangi kemeja yang dipakai pria itu.


"Pa, pa, pa ,pa."


Haikal tergelak mendengar bayi itu memanggilnya papa.


"Aku bukan papamu sayang," ujar Haikal gemas.


"Dia bukan memanggil papa, tapi memang hanya itu saja yang bisa dia ucapkan." Ujar ibu si bayi sambil mendekati Haikal. "Terimakasih atas bantuannya." Dia hendak mengambil kembali anaknya, tapi bayi gembul itu seolah tak mau. Tangannya mencengkeram erat baju Haikal. Dan dia kembali menangis saat dipaksa melepaskan genggamannya.


"Sini dotnya, biar saya kasihkan."


Tak mau anaknya kembali menangis dan menimbulkan ketidak nyamanan bagi orang lain, wanita itu akhirnya memberikan dot yang berisi susu pada Haikal.


Bayi tampan itu langsung menyedot botol susunya dengan sangat rakus. Pantas saja pipinya sangat gembul, disaat sakit seperti ini saja, dia masih kuat sekali minum susunya.


"Haikal, anak atas nama Haikal." Terdengar suara panggilan dari suster.


"Sepertinya namaku terlalu pasaran," gerutu Haikal.


Sudah dua kali dipanggil, tapi tak ada satupun yang masuk.


"M. Haikal Athallah. Nama ibu, nyonya Rania."


Wanita yang bersama Haikal baru nggeh jika ternyata anaknya yang dipanggil.


"Haidar sus, bukan Haikal." Wanita tersebut membenarkan. Pantas saja yang ada yang merasa dipanggil.


"Oh, Haidar ya. Maaf Bu ada kesalahan penulisan."

__ADS_1


"Jadi namamu Haidar, kirain ada nama yang ngembarin om tadi." Haikal tersenyum sambil mencubit pelan pipi gembul bayi dalam gendongannya.


Rania mengambil tas bayi berukuran sedang yang ada dikursi tunggu. Melingkarka tas yang tampak berat tersebut kebadan lalu mendekati Haikal untuk meminta bayinya.


Tapi seperti tadi, bayi itu kembali memegang baju Haikal dan tak mau lepas dari gendongannya.


"Ayo sayang, kita harus masuk." Rania berusaha mengambil paksa hingga Haidar kembali menangis.


"Kamu sendirian saja?" tanya Haikal. Meski sejak tadi dia melihat Rania sendiri. Tetap saja dia ingin memastikan, siapa tahu suaminya ditoilet.


"Ya, saya sendiri."


Ada rasa kasihan dihati Haikal. Wanita didepannya ini membawa bayi yang sakit sendirian sambil menenteng tas yang lumayan berat. Dimanakah suaminya, kenapa tak menemani?


"Saya tak keberatan mengantar masuk kedalam. Tapi itu jika anda tidak keberatan saya ikut masuk."


"Baiklah, ayo."


Keduanya lalu masuk kedalam ruangan dokter. Didalampun masih sama, Haidar tak mau lepas dari Haikal. Sampai sampai Haikal sendiri yang memangkunya saat diperiksa lalu menidurkannya diatas brankar sesuai arahan dokter.


"Wah, kayaknya anak papa banget nih. Apa apa maunya sama papa," ujar dokter.


"Em...dia bukan papanya Dok," Rania mengklarifikasi.


"Oh, maaf. Saya pikir papanya, soalnya masuk bersama sama. Pasti papanya kerja ya sayang, makanya kedokter ditemani om."


"Papanya sudah tidak ada." Mata Rania seketika berkaca kaca. Andai saja suaminya, Hanafi masih ada, dia pasti tak akan kerepotan seperti ini saat Haidar sakit.


Haikal menatap nanar bayi yang sedang diperiksa tersebut. Dia tak menyangka jika bayi sekecil ini sudah tak memiliki ayah.

__ADS_1


__ADS_2