
Tak lama kemudian, Romeo datang dengan sekeresek besar aneka makanan dan minuman. Mengambil satu buah roti dan susu uht lalu meletakkan lainnya diatas meja.
"Kesukaanmu belum berubahkan, roti isi keju?" Tanya Romeo sembari membuka pembungkus roti. Berniat menyuapi Rere tapi wanita itu tegas menolak.
"Aku bisa sendiri."
"Baiklah." Romeo menyerahkan roti tersebut pada Rere dan membiarkannya makan sendiri. Dia membuka plastik sedotan susu, menancapkannya lalu meletakkan diatas nakas agar Rere tinggal meminum saja.
Jia yang sedang mengambil roti diatas meja, diam diam memperhatikan gerak gerik Romeo. Sejak awal bertemu, dia memang sudah menyukai Romeo. Dia suka cara pria itu memperlakukan Rere.
"Romeo, kamu tidak makan?" tanya Jia.
"Meo belum lapar Mah," sahut Romeo.
"Kau yakin tak lapar? Bukankah kau belum makan sejak kemarin siang?" Tomas menimpali. Dia tahu jika sejak siang kemarin, Romeo belum makan. Pria itu tak mau pergi dari ruang persalian. Hanya pergi sebentar untuk menunaikan kewajiban pada Tuhan, setelah itu kembali lagi. "Makanlah, jangan sampai kamu pingsan lalu merepotkan kami," lanjutnya dengan ketus.
Mendengar itu, Rere yang kasihan langsung mencuil sebagian roti yang dia pegang lalu menyodorkannya kedepan mulut Romeo. Dia tak tahu meski berada diluar, tapi Romeo tak menyempatkan diri untuk makan.
"Makanlah, siapa yang akan menjagaku dan baby boy jika kamu sakit?"
Romeo seketika terperangah mendengar itu. Apakah ini lampu hijau?
"Apa itu artinya_" Ucapan Romeo terhenti saat Rere memasukkan paksa cuilan roti kedalam mulutnya. Segera dia mengunyahnya cepat lalu menelan karena ingin segera bicara. "Aku boleh terus menemanimu disini?"
Dan melihat anggukan kepala Rere, membuatnya benar benar bahagia. Reflek dia berdiri lalu memeluk Rere yang duduk diatas brankar. Tak terkira begitu bahagianya dia. Meski dia tahu Rere belum benar benar memaafkannya, tapi diizinkan menemani, itu sudah lebih dari cukup. Karena baginya, tak ada yang lebih membahagiakan daripada berada didekat Rere dan baby boy.
Hem hem
Deheman Pak Tomas menyadarkan Romeo. Segera dia melepaskan pelukannya lalu duduk kembali. Bisa bisanya karena terlalu bahagia, dia lupa jika masih ada kedua mertuanya diruangan itu.
Romeo meraih tangan Rere, mengarahkan roti yang ada ditangan wanita itu kedalam mulutnya dan menggigitnya besar.
"Aku sangat lapar." Ujar Romeo sambil mengunyah roti didalam mulutnya.
__ADS_1
Rere tergelak, bisa bisanya bilang sangat lapar padahal belum ada 5 menit yang lalu bilang belum lapar.
"Padahal aku yang baru melahirkan, tapi kenapa kamu yang kelihatan lebih kelaparan?" sindir Rere.
Romeo tertawa ringan sambil mengarahkan roti kedepan mulut Rere.
"Makanlah sebelum aku lebih dulu menghabiskannya."
Tomas geleng geleng melihat kelakuan absurd menantunya itu. Karena hari ini dia ada rapat penting disekolah, jadi dia pamit untuk pulang. Sedangkan Jia, demi memberi waktu berduaan Rere dan Romeo, dia memilih pulang bersama suaminya meski sebenarnya masih ingin bersama baby boy.
"Makasih Pah." Ujar Rere dengan mata berkaca kaca saat mencium tangan papanya.
Tomas mengusap puncak kepala Rere sambil menatap putri semata wayangnya itu. "Papa hanya ingin melihatmu bahagia. Tapi jika seseorang yang kamu percaya bisa membuatmu bahagia itu berkhianat," Tomas melirik tajam ke arah Romeo. "Kamu tak perlu sedih. Karena itu artinya, dia memang tak pantas untukmu." Ucapnya penuh penekanan.
"Saya akan membuktikan jika saya pantas untuk Rere," sahut Romeo.
"Ck, siapapun bisa bicara seperti itu, karena sejatinya bicara itu sangat mudah."
Romeo terdiam, bingung harus bicara seperti apa.
"Rere udah kurus lah Mah sekarang." Sahut Rere sambil tertawa ringan. "Lihatlah, perut Rere sudah tak buncit seperti beberapa jam yang lalu."
Ucapan Rere seketika disambut tawa oleh yang lain.
Begitu Tomas dan Jia meninggalkan ruangan, tinggalah Romeo, Rere dan baby disana. Ruangan seketika hening, sampai Rere meminta Remeo mengambil baby boy dari dalam box.
"Kamu ingin menyu suinya?" Tanya Romeo sambil pelan pelan mengambil tubuh mungil itu dari dalam box.
"Apa semenyenangkan itu melihatku menyu sui?" ledek Rere. "Aku hanya ingin menggendongnya."
"Jadi aku salah ya, sayang sekali." Romeo pura pura kecewa. Dia terkekeh sambil membawa baby yang ada digendongannya lalu memberikannya pada Rere.
"Lihatlah, anak kita sangat tampan seperti papanya." Ujar Romeo dengan bangga.
__ADS_1
Rere memperhatikan wajah putranya sambil mengusap pipinya yang kemerah merahan.
"Tidak, dia jauh lebih tampan darimu."
"Ish, jahat sekali."
Romeo kembali duduk dikursi disebelah brankar. Bertopang dagu dengan meletakkan siku diatas brankar. Senyum senyum sendiri sambil memperhatikan Rere dan anak mereka.
"Jangan menatapku seperti itu."
"Aku tak sedang menatapmu, tapi menatap anak kita."
Rere reflek memutar kedua bola matanya malas.
"Aku hanya becanda, jangan marah. Iya, aku sedang menatapmu. Menatap istriku, menatap ibu dari anakku dan menatap wanita tercantik didunia setidaknya menurutku."
Rere menyebikkan bibirnya mendengar ucapan Romeo.
"Jangan meniru papamu yang suka gombal itu." Rere menatap baby boy sambil menyentuh bibir mungilnya.
"Hahaha..."
Oek oek oek
Bayi yang tidur itu terbangun karena suara tawa Romeo.
"Ish, gara gara kamukan, dia jadi bangun," geram Rere. Dia menepuk nepuk pantat bayinya agar diam.
"Mending kamu susu in aja."
"Ck, bilang saja kalau kamu pengen ngintip."
"Enggak, cuma pengen ikutan ngi_".
__ADS_1
"MEO," Pekik Rere tertahan.
Romeo seketika tergelak. Kenapa rasanya lucu sekali. Rere begitu malu padanya. Mungkin wajar karena selama menikah, mereka tak pernah melakukan lebih dari berciuman. Dan malam itupun, Rere tak sadar apa yang telah dilakukan Meo pada tubuhnya. Dia dia sangat malu pada pria yang berstatus suaminya itu.