
Pagi ini, kantor termpat kerja Haikal dan Gina heboh. Apalagi kalau bukan karena foto syur Gina yang tersebar digrup wa.
"Ini bener Gina gak sih?"
"Kenapa bisa ada foto seperti ini?"
"Gila, mantep juga bodinya si Gina."
Dan masih banyak lagi komentar teman teman Gina yang sedang berkumpul membicarakannya sambil melihat foto tersebut.
"Ini asli." Ujar Dodit yang baru saja mengecek keaslian foto tersebut. "Gila sih, padahal aku kira Gina cewek baik baik, tapi kenapa dia pose kayak gini didalam mobil."
Yang lain sepemikiran, pasalnya Gina dinilai baik dimata teman temannya. Selain itu, dia juga berasal dari keluarga terpandang, bahkan ibunya adalah salah satu calon anggota dewan periode ini.
"Coba lihat bener bener, kayak ada tangan yang megangin dia." Sisca menunjuk jari yang terlihat sedikit disamping pinggang Gina. "Tangan siapa ya?"
Tiba tiba semua mata menatap kearah Haikal. Haikal yang awalnya tak berkomentar apa apa langsung angkat suara.
"Hei, kenapa semua melihat kearahku? Kalian gak sedang mengira itu aku kan?" ujar Haikal.
"Bwa ha ha ha ha." Suara tawa teman temannya seketika meledak.
"Ya elah Kal, kita cuma mau tanya doang, kan kamu yang paling deket dengan dia. Kira kira kamu tahu gak itu tangan siapa, bukan nuduh. Beperan amat, lagi dapet ya?" Edo menyenggol lengannnya.
"Sialan." Haikal langsung memukul lengan Edo karena kesal.
Roki, salah satu diantara mereka yang terkenal paling mesum tiba tiba mengzoom diarea sensetif. Matanya tak berkedip sedikitpun. Jakunnya terlihat naik turun, berkali kali dia menelan ludah.
"Ngomong ngomong, dia open bo gak? Kayaknya legit?" celetuk Roki.
__ADS_1
"Anjim." Teman temannya langsung kompak memelot sambil memukulnya.
Haikal yang mendapatkan kiriman foto tersebut dari temannya mengirimkannya pada Febbi dan Romeo.
Disaat mereka masih sibuk membicarakan Gina, orang yang dibicarakan tiba tiba datang. Tak ayal semua orang seketika melihat kearahnya. Gina tak ubahnya seperti artis yang berada dired karpet, dimana semua mata tertuju padanya.
Merasa tatapan semua temannya terarah padanya, Gina mulai merasa cemas. Jangan jangan yang dia takutkan terjadi. Semalaman dia tak bisa tidur karena kejadian di rumah sakit kemarin. Dia takut jika sampai ada orang yang mengenalnya mendapatkan foto itu.
"Dia datang, dia datang." Mereka saling berbisik bisik.
"A, ada apa ini?" tanya Gina dengan suara bergetar.
"Berapa semalam Gin, kayaknya legit?" Dengan pedenya Roki langsung bertanya seperti itu.
"Huuu...." Pertanyaan itu seketika disambut dengan sorakan teman temannya.
Tubuh Gina seketika lemas dan gemetar. Wajahnya pucat pasi. Dia yakin teman temannya sudah tahu perihal foto tersebut.
Haikal menatap Gina yang mematung dengan badan gemetar. Wanita itu menunduk dalam saking malunya. Dia tak bisa tetap disini, segera berbalik badan lalu lari menuju pintu keluar. Melihat itu, cepat cepat Haikal mengejarnya. Dia ingin tahu seperti apa peradaan Gina saat sesuatu yang dia rencanakan pada Rere malah berbalik padanya.
"Lepas." Seru Gina sembari berontak saat Haikal berhasil menahan bahunya. Mereka berdua ada dihalaman kantor saat ini.
Bukannya melepas, Haikal malah membalikkan badan Gina menghadap kearahnya.
"Semua ini gara gara kamu, gara gara kamu Kal." Teriak Gina tepat didepan wajah Haikal. Nafasnya terlihat memburu, dan wajahnya menegang. "Kalau saja kamu tidak meninggalkanku di bar malam itu, aku tidak akan mendapatkan pelecehan dan tidak akan ada foto foto syurku."
Haikal terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka jika malam itu, terjadi sesuatu yang buruk pada Gina.
"Kamu yang menyebabkan ini Kal, kamu." Gina makin berteriak histeris, hingga beberapa orang melihat kearah mereka berdua. "Gara gara kamu meninggalkaku dibar, aku diperkosa malam itu. Kamu jahat Kal, kamu jahat, kamu penyebab semua ini."
__ADS_1
Haikal memejamkan mata, kesal dengan Gina yang terlihat sengaja berteriak untuk memancing perhatian. Dia tahu Gina sengaja ingin menyudutkannya, membuatnya menjadi pihak tersalahkan.
"Astaga, jahat sekali Haikal."
"Jadi semua ini gara gara Haikal."
Suara suara sumbang itu mulai terdengar dan membuat Haikal muak.
"Kamu harus tanggung jawab kalau aku sampai ha_"
"Cukup Gin," bentak Haikal. "Cukup dengan sandiwaramu. Ini bukan salahku, tapi ini karma. Tapi sepertinya, kamu belum menyadarinya. Atau mungkin tak akan pernah menyadarinya karena kamu manusia tak berhati."
Kerumunan yang melihat mereka makin banyak lagi. Tontonan seperti itu memang lebih menarik daripada tayangan tv dengan rating tertinggipun.
"Apa kau lupa apa yang telah kau lakukan pada Rere, pada calon istriku? Kuharap kau tak lupa jika pernah menyuruh seorang pria untuk memperkosa calon istriku." Kedua telapak tangan Haikal mengepal kuat dan rahangnya mengeras. Rasanya dia ingin meledak jika mengingat kembali Ginalah yang telah membuat hubungannya dengan Rere hancur.
Orang orang yang menonton tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Haikal. Setelah dulu pernikahan Haikal tiba tiba batal tanpa diketahui alasannya, sekarang sedikit demi sedikit mereka mulai tahu penyebabnya.
"Menuduhnya berselingkuh dan mengambil foto dan video syurnya setelah dia kamu bius. Ya, aku memang meninggalkanmu di club malam. Tapi aku tak sehajat dirimu dengan menyusun rencana buruk. Jika malam itu kamu benar benar diperkosa, itu diluar kendaliku. Berbeda dengan yang kamu lakukan pada Rere, sudah kamu rencanakan dengan matang. Dasar wanita keji, tak punya hati."
Haikal sadar secara tidak langsung telah membuka aib Rere. Tapi semua orang harus tahu sejahat apa wanita didepannya ini. Rere hanya korban, dia yakin semua orang paham itu.
"Huuuu...." Banyak sekali yang menyoraki Gina.
"Tak menyangka jika luarnya baik, ternyata hatinya busuk." Satu persatu cercaan mulai diberikan teman temannya mereka, bahkan yang tidak kenal dengan Gina juga ikut menghujat.
"Itu yang namanya karma."
"Karma dibayar kontan."
__ADS_1
"Dia tak pantas disebut manusia."
Tak kuat mendengar semua hinaan itu, Gina berlari menerobos kerumunan orang lalu masuk kedalam mobilnya. Mengenudikannya dengah ugal ugalan meninggalkan parkiran kantor.