
Karena lahiran normal dan tak ada masalah pada ibu maupun bayinya, siang ini Rere sudah boleh pulang. Sementara Romeo menyelesaikan administrasi, Rere mengemasi barang barang. Sedangkan baby boy, dia tampak terlelap dalam tidurnya.
"Lagi ngapain kamu?" Romeo yang baru kembali dari tempat administrasi, kaget melihat Rere sedang sibuk berkemas.
"Ngemasin barang barangnya baby, takut ada yang ketinggalan." Sahut Rere sambil memasukkan perlengkapan bayi yang ada diatas nakas kedalam tas.
Segera Romeo menghentikan pekerjaan Rere. Memegangi lengannya lalu menuntunnya kesofa.
"Biar aku yang kerjain."
"Tapi ini bukan kerjaan berat, aku bisa." Rere hendak kembali berdiri tapi Romeo menahannya.
"Aku bilang duduk ya duduk."
Rere memutar kedua bola matanya malas. Kalau sudah seperti ini, percuma ditentang, yang ada hanya akan timbul perdebatan yang tak ada habisnya.
Romeo mengambil baby boy yang ada didalam box lalu menyerahkannya pada Rere.
"Tugas kamu cuma duduk sambil nenenin dia. Yang lainnya tugas aku semua."
"Dia udah nen tadi. Lagian sekarang juga lagi tidur pules gini."
"Kalau dia udah, berarti tinggal aku yang belum." Romeo menaikkan alisnya menggoda Rere.
"Meo." Pekik Rere tertahan, tak mau sampai baby boy terbangun.
Romeo terkekeh melihat ekspresi kesal Rere. Tak mau dapat pelototan tajam, dia segera pergi untuk kemas kemas.
__ADS_1
Rere tersenyum melihat Romeo yang sibuk berkemas. Inikah yang dimaksud mamanya dulu? Kebahagiaan wanita adalah saat dia diratukan oleh suaminya. Dan benar saja, tak hanya berlian, tapi perhatian kecil seperti ini mampu membuat wanita bahagia.
Hari ini, tak ada yang menjemput mereka. Pak Tomas ada seminar diluar kota, sedangkan Jia dan Bu Risa berada dirumah, sibuk menyiapkan selamatan brokohan menyambut baby boy pulang kerumah.
Selesai mengemasi barang, Romeo lebih dulu membawa barang tersebut kedalam mobil sekaligus mengambil kursi roda.
"Ayo kita pulang sayang." Romeo menyempatkan mencium pipi baby boy sebelum membantu Rere pindah ke kursi roda. "Papa udah kangen banget sama rumah, rasanya udah lamaaa ....banget gak pulang."
Merasa tersindir karena telah mengusir Romeo, Rere seketika menatapnya tajam. "Apa nih maksudnya?"
"Becanda sayang." Romeo terkekeh sambil menarik pipi Rere yang sedang cemberut. "Baperan amat sih emak emak satu ini. Entar makin cantik loh." Rere hanya menyebikkan bibir mendengar itu.
Romeo mendorong Rere yang duduk dikursi roda sambil menggendong baby boy. Tapi tiba tiba, mereka bertemu dengan seseorang yang paling tak ingin dilihat, siapa lagi kalau bukan Gina. Wanita itu datang sambil membawa bingkisan bayi.
"Untung aku cepat datang, kalau tidak, pasti gak ketemu kalian." Ujarnya sambil tersenyum riang. Sungguh orang yang pandai sekali berakting. "Ini untuk baby kalian." Gina menyodorkan bingkisan yang dia bawa kehadapan Rere.
"Sepertinya tempat sampah lebih cocok menerimanya." Pria yang masih kesal pada Gina itu membuang bingkisan ke tempat sampah.
"Astaga Meo, kamu baperan amat sih. Kenapa, lagi kesel ya karena kalah saing sama Haikal? Oh, iya, ngomong ngomong mana Haikal, calon papa si jabang bayi?"
Rere terkejut mendengar Gina mengatakan itu. Dia jadi tahu apa maksud kedatangan Gina kali ini, yaitu memprovokasi Romeo.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Romeo makin geram saja.
"Loh, bukannya Rere balikan lagi ya sama Haikal?"
Dahi Romeo langsung mengkerut. "Hari itu dicafe, bukannya kamu bilang balikan ya sama Haikal?" Gina beralih menatap Rere. "Bahkan kamu juga memanggilnya sayang dan memegang tangannya mesra."
__ADS_1
Gina tersenyum miring sambil menatap Rere. Tujuannya kesini memang untuk memanas manasi Romeo. Mendapati Haikal tetap bekerja saat berita Rere melahirkan tersebar, dia jadi yakin jika kejadian di cafe dulu hanya upaya Rere untuk balas dendam saja.
Rere hanya tersenyum. Dia sama sekali tak khawatir dengan apa yang baru diucapkan Gina. Dia menoleh kebelakang, menatap Romeo.
"Kamu masih percaya dengan omongannya?"
Mendapati pertanyaan seperti itu, Romeo seketika tergelak.
"Astaga sayang, mana mungkin aku percaya padanya. Bahkan jika dia yang bilang gula itu manis, aku juga tak akan percaya begitu saja" sahut Romeo.
Rere kembali manatap Gina penuh kemenangan, berbeda dengan Gina yang tampak murka karena gagal memprovokasi Romeo.
"Tidak akan ada yang percaya pada mulut pembohong sepertimu," cibir Rere. "Ayo sayang kita pergi dari sini."
Romeo mengangguk, sedikit membelokkan kursi roda agar tak menabrak Gina lalu pergi begitu saja.
Gina yang kesal langsung melampiaskannya pada tempat sampah. Menendang benda mati tak berdosa itu hingga jatuh dan menimbulkan bunyi. Tak pelak beberapa orang melihat kearahnya.
Melihat Gina, seorang pria langsung mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah gambar pada teman disampingnya.
"Lihat, ini bukannya dia ya?" Pria tersebut menunjuk kearah Gina.
Mata pria disebelahnya melotot melihat foto bugil wanita didalam mobil yang wajahnya sama persis dengan perempuan yang baru menendang tong sampah.
"Mbak, ini kamu kan?" Pria itu menghadapkan layar ponselnya kearah Gina. Tapi jarak yang lumayan jauh, membuat Gina tak bisa melihat jelas. "Open BO ya, berapa semalam? Kalau didalam mobil gini, tarifnya sama gak kayak dihotel?"
Deg
__ADS_1
Mendengar kata dimobil, perasaan Gina seketika tak tenang. Dia mendekat untuk melihat foto tersebut lebih jelas. Jantungnya terasa jatuh ke perut saking syoknya melihat foto bugilnya malam itu tersebar.