
Melihat Romeo berdiri disamping Rere, ada rasa tak terima dihati Haikal. Menyesal dia datang kesini jika ujung ujungnya hanya sakit hati. Kalau saja Gina tak memaksanya datang, dia tak ada niat sama sekali untuk datang.
Gina menyodorkan paperbag berisi kue kepada Rere. "Dari aku dan Haikal."
Kalimat itu terdengar seperti penegasan hubungan bagi Rere. Tidak, dia tak boleh sakit hati. Seperti kata Febbi, dia harus fokus pada Romeo saat ini. Dan Haikal, dia juga layak untuk bahagia. Mungkin Gina bisa menyembuhkan luka yang dia torehkan dihati Haikal, setidaknya seperti itu yang Rere pikirkan.
"Harusnya tak perlu repot repot." Sahut Rere sambil menerima kue tersebut.
Bu Risa yang awalnya mengobrol dengan Jia, mengerutkan kening melihat kedangan Haikal. Bukannya dia tak suka putra sulungnya itu datang, tapi wanita disisi Haikal yang membuat geram. Ditambah lagi dengan pakaian mereka yang sama, membuat darahnya langsung mendidih. Bu Risa masih ingat dengan jelas cerita Romeo malam itu. Meski Romeo juga salah, tapi Gina, dia lebih salah lagi.
"Haikal." Panggil Bu Risa sembari berjalan menghampiri putranya. Disebelahnya, ada Jia yang juga ikut menghampiri.
Haikal segera meraih tangan ibunya dan menciumnya takzim, setelah itu berganti pada Jia.
Gina, dia melebarkan senyumnya dihadapan Bu Risa. Bukankah untuk mendapatkan anaknya, dia harus mengambil hati ibunya?
Dengan percaya diri, Gina meraih tangan Bu Risa. Niatnya ingin mencium tangan, tapi sayang seribu sayang, Bu Risa menepis tangan Gina sebelum dia berhasil meraihnya. Ditambah dengan tatapan tajam Bu Risa, Gina jadi yakin jika wanita itu tahu sesuatu. Gina berusaha tersenyum meski hatinya dongkol.
Jia, wanita itu tak sengaja melihat perlakuan Bu risa pada Gina. Cukup kaget juga dia melihat Bu risa yang terang terangan menepis tangan Gina. Dia mengenal Risa dengan baik, wanita itu berhati lembut. Dia masih ingat seperti apa Bu Risa membatalkan pernikahan Rere dan Haikal, tak ada emosi didalamnya, tidak ada mengolok olok Rere atau apapun. Bahkan setelah peristiwa tersebut, dia masih merestui pernikahan Romeo dan Rere. Jadi melihat perlakukan Bu Risa pada Gina, dia agak heran.
"Setelah ini, antar ibu pulang ya Nak," pinta Bu Risa.
"Tapi Haikal harus mengantar Gina pulang lebih dulu Bu. Apa ibu tidak apa apa?"
Bu Risa beralih menatap Gina. Meski dia tersenyum, tapi senyuman itu terlihat seperti seringai menakutkan bagi Gina. "Kamu bisa pulang sendirikan?"
"Tapi Bu, Gina datang ke_"
"Iya, saya akan pulang sendiri." Gina sengaja memotong ucapan Haikal. Bukan tanpa alasan, tapi supaya Haikal merasa bersalah dan bersimpati padanya.
"Tapi Gin." Seperti dugaan Gina, Haikal merasa tak enak hati.
"Ibumu lebih penting Kal. Aku gak papa kok, bisa pulang sendiri."
__ADS_1
Mendengar itu, Febbi rasanya ingin muntah. Sungguh pintar Gina mengambil hati Haikal. Sok sok an menjadi wanita super baik padahal hatinya busuk.
"Biar Haikal makan dulu Bu. Dia baru datang, masa mau diajak pulang," ujar Jia.
Bu Risa mengangguk, dia menyuruh Haikal makan dulu sebelum mereka pulang.
Gina, wanita itu makan dalam keadaan tak tenang. Dia harus minta penjelasan pada Romeo tentang sikap Bu Risa padanya.
"Kamu kenapa?" tanya Haikal yang melihat Gina sejak tadi celingukan. Sebenarnya wanita itu sedang memperhatikan Romeo, ingin mendapatkan kesempatan untuk ngobrol berdua dengannya.
"Gak papa. Aku ke toilet dulu ya Kal." Gina langsung pergi setelah mengatakan itu.
Bukan toilet, tapi Romeolah tujuaannya. Dia menarik lengan pria itu sambil berbisik. "Kita harus bicara."
Tak ingin ada kecurigaan dari Rere maupun keluarganya, Romeo mengiyakan saja kemauan Gina. Dia mengikuti wanita itu keluar menuju depan ruko kosong disebelah toko Rere.
"Apa saja yang sudah kau ceritakan pada ibumu?" Gina sedang tak ingin berbasi basi.
"Jangan bilang kamu telah menceritakan semuanya?" Gina mengepalkan kedua telapak tangannya sambil memelotot.
"Kenapa, takut?" tantang Romeo.
"Kau jangan macam macam Meo." Sentak Gina tertahan. Dia tak mau ada yang mendengar obrolannya dengan Romeo. "Ingat, kartu AS ada ditanganku."
"Aku tak peduli," tekan Romeo. Jangan dikira itu benar, jelas Romeo peduli dan masih takut dengan ancaman Gina. Tapi dia tak boleh memperlihatkan itu. Dia tak mau membuat Gina seolah olah berada diatas angin.
"Yakin kau tak peduli?" Gina mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto bugil Rere yang tersimpan disana.
Romeo sigap merampas benda itu dan langsung menghapusnya. Bukannya marah, Gina malah tertawa ngakak. "Aku masih punya banyak Meo."
"Dasar iblis." Romeo mencengkeram rahang Gina saking emosinya.
Meski kesakitan dan kesulitan untuk bicara, Gina masih berusaha untuk tersenyum. "Iblis teriak iblis. Kita sama Romeo."
__ADS_1
Romeo makin emosi mendengarnya. Dia menurunkan tangannya dari rahang Gina menuju leher dan mencekiknya. Wajah Gina seketika merah padam karena sulitan bernafas. Dia berusaha mendorong Romeo karena tak ingin mati konyol.
Huk huk huk
Gina terbatuk batuk saat Romeo melepaskan cekikannya. Segera dia menghirup udara sebanyak mungkin.
"Aku tak akan pernah memaafkanmu jika sampai kau menyakiti Rere lagi." Romeo tak bisa membayangkan seperti apa hancurnya Rere jika sampai foto itu tersebar. Dia pasti akan sangat malu.
Seringai Gina langsung muncul mendengar itu. "Aku lihat, sepertinya kau sudah mulai mencintai Rere."
Romeo membuang nafas kasar sambil menatap Gina tajam.
"Jika sampai Rere tahu siapa yang telah memperkosanya, dia pasti akan membencimu Meo. Jika kau tak ingin kisah cintamu berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet, simpan baik baik rahasia ini."
Romeo mengepalkan kedua telapak tangannya. Sepandai pandainya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Tidak mungkin dia bisa menyimpan rahasia ini selamanya.
"Kalau kau tak mau cintamu yang baru mekar itu kandas, bantu aku untuk mendapatkan restu ibumu. Kalau tidak, rahasia ini akan aku ungkap. Aku tak peduli meski dipenjara jika tak bisa mandapatkan Haikal. Tapi kamu, apakah kamu siap dipenjara?" Gina menyeringai lebar. "Dan apakah kamu juga sudah siap dibenci Rere seumur hidup. Bahkan mungkin, anakmu juga akan membencimu." Gina melenggang sambil tersenyum lebar meninggalkan Romeo.
Bugh
Romeo memukul tembok ruko sangat keras hingga punggung tangannya berdarah. Kenapa harus seperti ini kisahnya dan Rere. Sumpah demi apapun, dia tak mau kisahnya berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet.
"Romeo." Suara panggilan dari Rere membuat Romeo terkejut. Segera dia menyeka air mata yang menetas dari sudut matanya.
Rere terkejut melihat punggung tangan Romeo yang berdarah. "Kenapa bisa begini? Ayo aku obati." Rere memegang tangan Romeo yang terluka.
"Tidak perlu, hanya luka ringan."
"Tetap harus diobati."
Romeo menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata. Jantungnya berdebar setiap kali berada didekat Rere. Apalagi saat Rere menyentuhnya seperti ini, darahnya seketika berdesir. Dia yakin apa yang dia rasakan itu cinta. Dia tak akan mampu hidup dengan kebencian dari Rere. Apalagi jika sampai kehilangan Rere, sungguh, dia tak akan sanggup.
"Jangan tinggalkan aku Re." Mata Romeo berkaca kaca saat mengatakan itu.
__ADS_1