
Sesampainya dirumah, karena lapar Rere langsung makan setelah meletakkan baby Ryu didalam box. Kedua orang tuanya sepertinya sudah tidur, terbukti rumah yang tampak sepi.
"Bang, kamu makan gak?" Tanya Rere saat melihat Romeo berjalan hendak menuju kamar mandi.
"Enggak, aku masih kenyang. Kamu makan yang banyak, biar kuat." Romeo mengedipkan sebelah mata lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Aneh banget sih, terakhir makan siang tadi, ya kali masih kenyang aja." Rere geleng geleng lalu lanjut makan.
Mendengar suara guyuran air dari kamar mandi, membuat Rere heran. Hampir jam 11 malam, Romeo mandi, apa gak kedinginan?
"Bang, kamu mandi?" tanya Rere setengah berteriak. Tapi sayang karena suara pompa air dan guyuran dari gayung, membuat Romeo yang berada di kamar mandi tak mendengar.
Selesai makan, Rere mencuci piring serta gelasnya. Disaat bersamaan, sepasang lengan melingkar dipinggangnya. Tubuhnya langsung terasa dingin karena badan Romeo yang masih sedikit basah.
"Dingin banget Yang." Ujar Romeo sambil mencium leher dan belakang telinga Rere.
"Abang geli." Rere menggeliat sambil berusaha menjauhkan lehernya dari serbuan Romeo.
"Ke kamar yuk, dingin. Bikin abang panas dong." Ujar Romeo dengan nafas yang mulai memburu.
Deg
Rere akhirnya sadar, sepertinya suaminya akan meminta hak nya malam ini. Jantungnya langsung berdebar kencang. Mungkin memang bukan yang pertama bagi Romeo, tapi baginya, ini adalah yang pertama.
Melihat Rere yang mendadak diam seperti patung, Romeo melepas pelukannya lalu mengambil piring yang ada ditangan Rere.
__ADS_1
"Kalau cuma dipegangin, kapan selesainya?" Romeo terkekeh lalu meneruskan mencuci piring.
Rere menggigit bibir bawahnya. Gara gara tegang, dia sampai lupa kalau sedang mencuci piring.
"A, aku mandi dulu ya Bang." Rasanya malu jika dia tak mandi sedangkan Romeo mandi. Ini yang pertama, dia harus memberikan yang terbaik.
"Udah gak usah, lagian dingin banget airnya." Larang Romeo sambil menaruh piring dan sendok kedalam rak.
"Gak papa, aku mandi bentar." Rere hendak pergi tapi Romeo lebih dulu menahan pergelangan tangannya. "Aku bilang gak usah. Aku mandi karena gerah. Kamu masih wangi, udah gak usah mandi."
"Ya udah kalau gitu aku bersih bersih dulu sebentar dikamar mandi."
Romeo mengangguk lalu menunggu Rere dimeja makan.
Gegas Rere masuk kekamar mandi. Gosok gigi, cuci muka, dan membersihkan **** *************, jangan sampai bau hingga Romeo ilfeel.
Begitu pintu kamar mandi dibuka, gegas Romeo bangkit dari duduknya dan menghampiri Rere.
"Abang masih disini dari tadi?" Rere pikir Romeo menunggunya didalam kamar.
Bukannya menjawab, Romeo malah mengangkat Rere ala bridal style, membuat Rere langsung memekik karena kaget.
"Abang sudah tak sabar." Romeo menatap kedua netra Rere, membuat pipi wanita itu bersemu merah karena malu.
Sesampainya dikamar, Romeo menurunkan Rere diatas ranjang. Mengungkungnya dengan kedua lengan lalu mencium bibirnya. Suara ciuman keduanya menggema diseluruh kamar. Lagi dan lagi seolah tak ingin berhenti menyatukan bibir dan saling membelit lidah.
__ADS_1
"Bang, pintunya belum dikunci." Rere ingat tadi Romeo hanya mendorongnya hingga tertutup tanpa menguncinya.
Romeo bangkit dari atas tubuh Rere lalu berjalan untuk mengunci pintu. Kembali lagi menghampiri Rere diperaduan lalu menatap wajah cantiknya yang selalu membuat Romeo jatuh cinta lagi dan lagi.
Disentuhnya sengan punggung tangan setiap inci wajah Rere sambil mengagumi kecantikannya. "Kamu cantik sekali sayang."
Rere tersipu malu mendengar pujian seperti itu. Dan saat Romeo kembali menciumnya, Rere langsung membalas dengan lembut. Perlahan ciuman Romeo mulai turun kebawah. Menyusuri telinga dan leher jenjang Rere.
Rere merasakan darahnya berdesir. Tubuhnya seperti tersengat listrik saat lidah Romeo menyapu belakang telinganya. Bagian sensitif yang membuatnya merasa geli sekaligus nikmat yang luar biasa.
Tangan Romeo mulai melucuti pakaian Rere, begitupun sebaliknya, Rere malukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Romeo.
Meski Romeo sudah terbiasa melihat dada Rere ketika menyusui. Tapi malam ini, terlihat lebih indah, membuatnya tak sabar ingin segera menikamati.
Oek oek oek
Tangis baby Ryu tiba tiba pecah saat Romeo hendak mendaratkan bibirnya di pabrik asi.
"Astaga, padahal papa hanya ingin pinjam sebentar saja sayang." Romeo menggaruk garuk kepalanya karena frustasi. Sementara Rere menahan tawa sambil menarik selimut untuk menutupi badannya yang polos.
"Dia kayaknya lapar Bang. Bawa sini aku nenenin dulu."
Romeo yang masih memakai celana kolor bangkit dari ranjang lalu menghampiri baby Ryu yang ada didalam box. Setelah memastikan popoknya masih belum terlalu penuh, Romeo mengangkatnya dan membarikannya pada Rere.
"Anak mama lapar ya?" Dan benar saja, bayi mungil itu langsung menyu su dengan rakus.
__ADS_1
"Yaelah, beneran gak boleh minta nih papanya. Dua duanya dikuasain semua." Romeo menghela nafas saat melihat tangan Ryu yang memegangi sebelah dada Rere.