Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MERENCANAKAN


__ADS_3

Siang ini, Haikal mengajak Febbi bertemu disebuah cafe didekat tempat kerja wanita itu. Dia tak tahu harus minta bantuan kesiapa lagi kalau bukan pada Febbi. Dia yakin Febbi tahu banyak tentang Gina. Selain itu, dia yakin Febbi tahu siapa yang memperkosa Rere, mungkin saja siang ini Febbi mau memberitahunya.


"Udah lama?" tanya Febbi sambil menarik kursi lalu duduk didepan Haikal.


"Enggak kok, aku juga masih baru datang."


Haikal memanggil pelayan lalu mememesan makanan untuk mereke berdua. Sementara Febbi, dia celingukan kesana kemari. Pengalaman dia selama ini, Gina suka sekali menguntit dan muncul tiba tiba.


"Ada apa sih?" tanya Haikal yang bingung dengan kelakuan Febbi.


"Gina gak lagi ngikutin kamukan?"


Haikal tergelak sambil geleng geleng. Heran kenapa Febbi sangat was was seperti ini.


"Jangan tertawa, dia itu suka sekali menguntit. Kamu saja yang tak tahu gimana kelakuan cewek psyco itu."


"Dia ada di kantor, tenang aja. Aku sengaja mengambil jam istirahat berbeda dengan Gina hari ini."


"Pantesan kamu bisa ngajakin aku ketemuan. Biasanyakan kalian selalu makan siang berdua." Febbi memutar kedua bola matanya malas.


"Hei, bukankah kamu yang nyuruh aku baik baik sama dia, biar dia gak curiga."


"Hehehe, iya juga sih. Oh iya, gimana kemarin, sukses masuk apartemen Gina?" Ya, kemarin Haikal memang bercerita pada Febbi tentang rencananya.


"Sukses masuk, tapi gagal mendapatkan apapun." Haikal membuang nafas kasar.


"Maksudnya, kamu gak dapat apapun?"


Haikal mengangguk. "Gina membawa kedua ponselnya saat kerja. Dan laptop, aku juga tak menemukan benda itu."


"Flashdisk?"


Haikal menggeleng. "Aku juga tak menemukannya."

__ADS_1


Febbi membuang nafas kasar. Ternyata susah juga mendapatkan bukti itu. Seperti saat itu Gina merencanakan semuanya dengan sangat matang. Foto dan video itupun, dia simpan dengan sangat hati hati, sampai sampai Haikal tak menemukan apapun meski telah mengacak acak apartemennya.


"Apa aku rampok saja tasnya?" Haikal tiba tiba kepikiran kesana.


"Biar kalau ketahuan, kamu digebukin massa?" Febbi geleng geleng. "Jangan ekstrem seperti itu. Lebih baik kita pikirkan cara lain." Febbi memutar otaknya untuk mencari cara. Sementara itu, seorang pelayan datang membawa pesanan makanan mereka.


Mereka segera makan karena jam istirahat hanya 1 jam. Sembari makan, keduanya terus memikirkan cara untuk mendapatkan ponsel Gina.


"Kau tahukan siapa pria yang memperkosa Rere?"


Febbi langsung berhenti mengunyah makanan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Berusaha tenang meski sesungguhnya, dia gugup juga, takut Haikal terus mendesak.


Febbi tak mau Romeo ketahuan. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah Rere. Rere sering curhat padanya meski mereka sudah tak sekantor. Membuat Febbi tahu jika Rere sedang jatuh cinta pada Romeo saat ini. Rere terlihat sangat bahagia, Febbi tak mau menghancurkan kebahagiaannya.


Kasihan sekali jika sampai Rere tahu, dia pasti akan sangat kecewa. Kalau saja Gina tak menyimpan foto dan video itu, Febbi tak ingin semua ini terungkap, biarlah Rere dan Romeo hidup bahagia selamanya tanpa Rere tahu yang sebenarnya.


"Kenapa kamu setegang itu? Aku jadi makin penasaran, siapa pria itu? Dan kenapa dia mau melakukan apa yang disuruh Gina? Jangan jangan, aku mengenalnya?"


"Jadi benar aku mengenalnya?"


Febbi tak tahu harus menjawab apa. Kalau sampai Haikal tahu, dia pasti akan memberitahu Rere. Dan Romeo, habislah pria itu.


"Maaf, tapi aku tak bisa mengatakannya Kal."


"Tapi kenapa? Aku berhak tahu Feb." Haikal makin penasaran dengan pria itu. Apa dia dekat dengan Febbi sampai sampai wanita itu melindunginya.


"Lebih baik kita fokus saja mencari foto dan video itu."


Haikal kecewa dengan jawaban Febbi, tapi dia tak mau membuatnya tak nyaman karena terus didesak.


"Aku punya ide." Tiba tiba Febbi kepikiran sesuatu.


"Apa?"

__ADS_1


Febbi mengatakan secara detail ide gilanya.


"Tapi aku tak pernah ke tempat seperti itu Feb. Apa tak janggal jika aku tiba tiba mengajak Gina kesana?"


"Itu gampang Kal. Pura pura sedang frustasi karena tak bisa move on dari Rere. Aku yakin Gina tak akan menolak jika kamu yang ngajak. Urusan disana nanti, serahkan semua padaku." Febbi tersenyum miring, dia yakin idenya kali ini akan berhasil. Dia memang sudah tak sabar membalas Gina.


"Baiklah, kita lakukan akhir pekan nanti." Meski tak yakin dengan ide Febbi, Haikal tetap mengiyakannya.


Febbi mengangguk. Keduanya lalu melanjutkan makan karena jam istirahat hampir selesai.


Disaat mereka sedang makan dan menyusun rencana, seorang pria tiba tiba datang dan langsung menarik lengan Febbi.


"Jadi ini alasanmu minta pisah dariku. Jadi karena pria ini?" Pria paruh baya itu menatap nyalang pada Haikal.


"Lepas Om, lepas." Febbi berontak, berusaha melepaskan cekalan pada lengannya. "Dia tak ada urusannya dengan kita. Bukankah aku sudah menjelaskan alasan kenapa kita harus pisah."


"Bulshit, itu alasan klise, tak masuk akal. Dari awal kau sudah tahu aku memiliki istri dan anak, kenapa baru sekarang minta pisah karena itu?"


Suara pria itu lumayan keras, membuat Febbi sangat malu. Beberapa orang mulai melihat kearahnya. Dan Haikal, astaga, dia malu sekali pada pria itu.


"Tolong jangan seperti ini Om. Kasihan anak dan istri Om. Kita sudahi semua ini." Febbi hampir saja menangis mengatakan itu. Sesungguhnya, ini juga berat untuknya. Bertahun tahun menjalin hubungan, tak mungkin dia tak ada perasaan. Jelas cinta itu ada. Tapi dia takut kena karma, bagaimana jika saat ini dia mendapatkan pria itu, kelak dia akan berada diposisi seperti istri sahnya sekarang.


"Ayo ikut denganku, banyak yang harus kita bicarakan." Pria itu berusaha menarik tangan Febbi.


"Aku gak mau Om, lepasin Febbi." Febbi berusaha berontak. Dia takut daddynya itu berhasil meluluhkan hatinya kembali.


"Ayo." Pria itu terus menarik tangan Febbi.


"Tolong lepaskan dia." Haikal yang tadinya tak mau ikut campur, jadi kasihan pada Febbi. "Dia tak mau, jadi jangan dipaksa." Haikal menarik kasar tangan pria itu hingga lepas dari lengan Febbi.


"Tidak usah ikut campur urusan kami." Sahut pria itu dengan emosi.


"Febbi teman saya, urusannya urusan saya juga. Ayo kita pergi dari sini." Haikal menarik tangan Febbi dari tempat itu. Mengabaikan umpatan dari pria paruh baya yang tak lain adalah sugar daddynya Febbi.

__ADS_1


__ADS_2