Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
I LOVE YOU TOO


__ADS_3

Dering alarm yang berasal dari ponsel membangunkan tidur nyenyak Rere. Dia menguap sambil meregangkan otot ototnya. Sejak memasuki kehamilan trimester ketiga, jarang sekali dia mendapatkan tidur yang nyenyak, tapi semalam, rasanya sungguh nyenyak.


"Romeo." Rere baru ingat jika semalam Romeo tidur disebelahnya. Tapi saat dia menoleh, kosong, tak ada sesiapun disebelah. Rere berfikiran jika tadi malam, Romeo kembali kekamarnya setelah dia tertidur.


Saat hendak ke kamar mandi, Rere melihat Romeo yang sedang sibuk didapur. Ya, mama yang biasanya sudah memasak pagi pagi sekali, tidak ada dirumah. Oleh karena itu, Romeo menggantikan perannya.


"Meo."


Romeo yang sedang sibuk dengan omeletnya seketika menoleh mendengar panggilan Rere.


"Morning sweety, apa tidurmu nyeyak?"


Rere membuang nafas kasar sambil memutar kedua bola matanya malas. "Aku tak suka panggilan itu." ujarnya sambil cemberut. Bukan sekali ini saja Rere komplain, melainkan sudah berkali kali, tapi Romeo tetap saja memanggilnya seperti itu.


"Dan aku suka melihatmu kesal, makanya aku panggil seperti itu terus," Romeo terkekeh. Dia memang suka sekali menggoda Rere.


"Kamu mau mandi dulu apa sarapan?"


"Aku mandi dulu."


Romeo mengangguk. Itu lebih baik, karena dia punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkan sarapan romantis ala Romeo.


Romeo menggulung omelet lalu memotongnya menjadi beberapa bagian. Menyusun potongan omelet gulung diatas piring menjadi bentuk love.

__ADS_1


Dia ingin membuat tulisan I love you menggunakan saos dipinggiran piring. Tapi lubang botol saos yang sedikit besar membuatnya kesulitan. Berkali kali dia terpaksa menghapus menggunakan tisu lalu mencoba membuat ulang hingga setengah botol saus habis terbuang sia sia.


"Perfect." Senyumnya mengembang saat melihat hidangan yang sangat indah itu. Usahanya berbuah manis. Tulisan I love you terukir indah diatas piring keramik berwarna putih


Selesai mandi, Rere tak langsung duduk dimeja makan, lebih dulu dia barganti baju dan memakai make up. Akhir akhir ini, dia suka sekali mamakai make up, terutama jika didepan Romeo. Ada perasaan tak percaya diri jika tampil apa adanya didepan pria itu.


"Apa sarapannya sudah siap?" Tanya Rere yang baru sampai didapur.


"Duduklah dulu." Romeo melepas apron nya lalu mencuci tangan.


Hanya ada dua gelas air putih diatas meja. Ya, dokter memang menyuruhnya untuk mengurangi yang manis manis agar bayinya tak terlalu besar didalam perut. Rere jadi penasaran, makanan apa yang sedang disiapkan oleh Romeo.


"Taraa...."


"Cantik sekali." Pujian itu reflek keluar dari bibir Rere. Dia memandang takjub ke arah omelet dihadapannya.


"Tidak cantik sama sekali. Karena bagiku, hanya Renata Ishani yang cantik."


"Meo.." Rere meleyot mendengar gombalan suaminya. Wajahnya memerah karena malu sekaligus senang. Dia menatap nanar tulisan I love you dipiring.


"I love you too." Antara yakin dan tidak, Rere mengucapkan kalimat itu. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya, tapi setiap kali dia didekat Romeo, perasaannya damai sekaligus senang. Dan saat mereka jauh, dia merasakan rindu. Mungkinkah itu cinta?


Romeo, pria itu bergeming mendengar ucapan Rere. Rasanya seperti mimpi, kalimat itu keluar dari mulut wanita pemilik hatinya.

__ADS_1


Romeo mendekati Rere yang sedang duduk lalu berlutut dibawahnya. Dia meraih kedua tangan Rere lalu menggenggamnya. Dia tersenyum sambil menatap Rere dengan perasaan membuncah.


"Meo, jangan seperti ini, bangunlah." Rere tak nyaman dengan posisi ini.


Romeo menggeleng, matanya terlihat berkaca kaca karena terbawa suasana. "Bisa kau ulangi lagi apa yang barusan kau katakan?"


Rere menggigit bibir bawahnya, kenapa sekarang terasa malu untuk mengatakannya sekali lagi.


"Kenapa Re, kau masih ragu?"


Untuk beberapa saat, Rere masih diam. Dia mengumpulkan keberanian untuk kembali mengatakan itu. Sedangkan Romeo, dia dilanda rasa gelisah. Mungkinkah dia terlalu mengharap? Bisa saja Rere tadi hanya iseng bicara seperti itu karena membaca tulisan dipiring.


"Mungkin aku terlalu berharap. Tidak masalah kalau kamu memang belum mencintaiku. Aku akan menunggumu Re, sampai nafas terakhirku."


Perlahan, Romeo mulai melepaskan tangan Rere. Tapi tiba tiba, justru Rere yang meraih tangan Romeo dan menggenggamnya.


"I love you. Aku mencintaimu Meo, Romeo Alshaki."


Detik itu juga, air mata Romeo meleleh. Akhirnya cintanya berbalas. Meski dia belum yakin kedepannya, tapi dengan pengakuan cinta Rere, bagaimanapun keadaannya nanti, dia akan terus memperjuangkan cinta mereka. Bahkan saat Rere nanti membencinya, dia akan tetap menjaga cinta mereka.


Romeo memajukan wajahnya lalu meciumi perut Rere. "Terimakasih, terimakasih sayang."


Rere tersenyum sambil meneteskan air mata. Dia merasa sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan Romeo, pria berhati malaikat yang mampu menggeser posisi Haikal dihatinya. Mencintainya dengan tulus, dan menerima dengan lapang dada anak haram diperutnya.

__ADS_1


__ADS_2