Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
ROMEO TAK SEJAHAT ITU


__ADS_3

Gina, perempuan itu kaget melihat kedatangan Haikal diapartemennya malam malam. Pria yang tiba tiba saja masuk tanpa menekan bel itu, melemparkan dua buah ponsel serta laptop kehadapannya yang saat itu duduk diatas ranjang. Tak lupa juga kunci mobil Gina juga dia lemparkan kehadapan wanita itu.


"Jadi benar, kau yang mencuri barang barangku?" Gina tersenyum miring menatap Haikal.


"Aku hanya meminjam sebentar, memusnahkan foto dan video yang telah kau curi diam diam itu?" Haikal membalikkan ucapan Gina.


Kedua telapak tangan Gina terkepal kuat. Dia teringat kejadian kemarin, kalau saja Haikal tak meninggalkannya dalam kondisi mabuk, dia tak mungkin digangbang oleh tiga pria tak dikenal. Dan sekarang, dia harus harap harap cemas, takut jika hamil meski siang tadi, dia sudah meminum pil pencegah kehamilan.


"Kau tahu, gara gara kau, a_" Hampir saja Gina keceplosan mengatakan jika dia habis diperkosa. Syukurlah dia tak sampai mengatakannya. Ini aib, dia tak mau mengatakan itu. Dia yakin bukannya mendapat simpati, Haikal pasti akan menertawakannya.


"Aku benar benar gak nyangka jika kamu seorang psycopat. Wanita tak punya hati, kejam."


Gina tergelak mendengar hinaan Haikal.


"Aku seperti itu karena kau." Sahut Gina santai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Gina turun dari ranjang lalu mendekati Haikal. "Kalau saja kau tak buta, bisa melihat seberapa besar cintaku padamu, aku tidak akan seperti ini." Mata Gina berkaca kaca. "Kau menolak cintaku dan lebih memilih Rere. Ya, Rere, wanita sialan itu."


"Stop menghina Rere." Haikal mencengkeram kuat lengan Gina. Bukannya takut atau merasa kesakitan, Gina malah tertawa.


"Jadi kau masih mencintainya hingga detik ini? Dia mengandung anak Romeo, apa kau tahu itu?" Gina sengaja memancing emosi Haikal. "Ups, aku lupa. Kau pasti sudah tahu karena melihat video syur mereka dilaptopku. Gimana perasaanmu Kal, cemburu? Atau kau malah panas, ingin ikut merasakan tubuh Rere?"


"DIAM." Haikal melepaskan lengan Gina lalu mencengkeram rahangnya. "Psyco sepertimu, harus diberi ganjaran yang setimpal. Kau harus mendekam di penjara."


Gina menarik tangan Haikal yang berada dikedua pipinya, bernafas lega lalu tersenyum mengejek.


"Jika aku dipenjara, adikmu yang bodoh itu juga akan diperjara. Karena kami adalah komplotan, sekutu."


Gigi Haikal bergemeretak menahan marah. Dia ingin sekali melihat Gina dipenjara, tapi Romeo, meski saat ini dia sangat marah pada pria itu, tapi dia tak akan sanggup melihat ibunya sedih jika sampai Romeo dipenjara.


"Kau benar benar iblis Gina," maki Haikal.


"Aku jadi begini karena KAU." Gina melotot sambil menunjuk kearah Haikal. "Kau yang menyebabkan aku gila seperti ini."

__ADS_1


"Bisa bisanya kau menyalahkanku untuk kelakuan biadapmu."


Mata Gina berkaca kaca, mengingat masa kecilnya yang indah bersama Haikal.


"Kau masih ingatkan, kita bertetangga dulu. Aku tak belum mengerti cinta saat itu, aku masih kecil. Tapi semua perhatianmu, kebaikanmu, membuat semua pikiranku selalu tertuju padamu. Kau hangat, perhatian, sangat berbeda dengan Romeo yang kaku dan terkesan cuek. Kamu anak baik, beda dengan Romeo yang berandalan dan suka bikin onar. Aku jatuh cinta padamu sejak kecil dan selalu bermimpi saat dewasa nanti, aku akan menikah denganmu. Tapi saat dewasa, Rere datang dan merusak mimpiku. Mimpiku Kal, mimpi yang sudah kubangun sejak kecil." Gina menyeka air matanya.


"Cinta tak bisa dipaksakan Gin. Kau tak bisa memaksakan cinta diantara kita sementara hatiku hanya untuk Rere."


"Rere, Rere, Rere, aku muak mendengar nama itu," teriak Gina.


"Sepertinya kau tak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Yang kau rasakan padaku bukan cinta, tapi obsesi. Berhentilah Gin, bertobatlah."


Gina meraih tangan Haikal lalu menggenggamnya. "Ya, aku akan berhenti, akan bertobat, asalkan kamu mau menikah denganku." Dengan tak tahu malunya, Gina mengatakan itu.


Haikal menarik tangannya kasar. "Jangan mimpi, aku sudah terlanjur muak denganmu. Aku tak sudi menjadikan wanita tak berhati sepertimu sebagai istriku."


Haikal lalu pergi, meninggalkan begitu saja Gina yang mengamuk dan berteriak memaki Rere.


.


.


.


Tanpa sepengetahuan Romeo dan Haikal, malam ini Bu Risa pergi kerumah Rere. Dia harus minta maaf. Meski tak yakin permintaan maafnya bisa meluluhkan hati Rere dan keluarganya, tapi Bu Risa akan tetap berusaha.


Jia, wanita itu kaget saat membuka pintu dan melihat ada Bu Risa disana.


"Bolehkah saya masuk?" Tanya Bu Risa karena Jia hanya menatapnya sejak tadi, tak mempersilakan masuk.


"Kalau kedatangan anda hanya untuk membujuk Rere agar memaafkan Romeo, lebih baik anda pulang saja," sahut Jia ketus.

__ADS_1


Bu Risa menggeleng. "Saya tidak akan memaksa Rere untuk memaafkan Meo. Saya hanya ingin minta maaf saja pada anda sekeluarga."


"Ada siapa Mah?" Tanya Tomas yang baru saja keluar.


"Selamat malam Pak. Saya kesini untuk bertemu dan minta maaf pada anda sekeluarga."


"Apa Romeo yang meminta anda datang. Memohon agar kami tidak melaporkannya kepolisi?"


Bu Risa menggeleng, dan tanpa memikirkan harga diri, dia langsung berlutut didepan Jia dan Tomas. Membuat Jia dan Tomas terbelalak kaget.


"Romeo tidak menyuruh saya. Dia bahkan siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan mendekam di penjara. Tapi saya yang tidak siap. Saya ibunya, saya tidak sanggup melihat putra saya dipenjara," ucap Bu Risa. Kedua telapak tangannya mengatup didada, memohon sambil menunduk dalam.


"Dan menurut anda, apa saya bisa menerima perlakuan putra anda pada putri saya? Putri yang saya jaga seperti berlian, dirusak begitu saja oleh putra anda. Apa adil jika saya memaafkannya begitu saja. Proses hukum harus tetap berjalan."


Bu Risa memegangi dadanya yang sesak. Romeo sudah menderita sejak remaja karenanya. Dan disaat dewasa, masihkan harus menderita lagi?


Rere yang mendengar suara tinggi ayahnya, segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Dia terperangah melihat mertuanya berlutut didepan kedua orang tuanya.


"Romeo seperti ini karena saya. Karena dendam pada ayahnya yang secara tidak langsung diakibatkan oleh saya. Oleh saya yang memaksa mempertahankan rumah tangga yang seharusnya tak perlu dipertahankan. Tolong, saya mohon jangan laporkan Romeo kepolisi."


Tomas tersenyum getir mendengar permohonan Bu Risa. "Apa jadinya dunia ini jika semua orang tua bersikap seperti anda? Miris, anda malah ingin menyelamatkan putra anda yang jelas jelas seorang kriminal. Buka mata anda, putra anda itu seorang kriminal."


Bu Risa mengangguk. "Ya, putra saya kriminal. Tapi dia tak sejahat itu Pak. Putra saya sebenarnya anak baik, dia hanya sedang dimanfaatkan saat itu. Saya tidak akan memohon jika Romeo benar benar penjahat. Bukankah hukuman dibuat agar seseorang insaf dan menyadari kesalahannya? Tapi Romeo sudah menyadari itu sejak dulu. Dia sudah tahu kesalahannya dan ingin bertanggung jawab."


Air mata Rere mengalir deras mendengar setiap penuturan mertuanya.


"Bagunlah Bu, tolong jangan seperti ini." Jia tak enak hati dengan apa yang dilakukan Bu Risa. Tapi Bu Risa sama sekali tak berniat untuk bangun.


"Tak bisakah anda melihat seperti apa Romeo saat menjadi menantu anda? Pernahkan Romeo secara sadar menyakiti Rere setelah mereka menikah? Romeo tak sejahat itu Pak. Romeo terus dihantui rasa bersalah. Dia ingin menebus semua kesalahannya pada Rere."


Rere makin terisak mendengar semua itu.

__ADS_1


__ADS_2