
Tok tok tok
Romeo yang hampir ketiduran, tersentak saat seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya. Dia kaget melihat Rere berdiri disamping pintu mobilnya ditengah malam hujan deras sambil berpayungan. Gegas dia menurunkan kaca jendelanya.
"Rere, kenapa kesini hujan deras seperti ini?" Baru membuka kaca jendela saja, Romeo bisa merasakan dinginnya udara diluar.
"Masuklah." Rere menyodorkan sebuah payung lipat yang sengaja dia bawakan untuk Romeo.
Romeo seperti tak percaya mendengar Rere menyuruhnya masuk. Dia mencubit tangannya, takut jika saat ini, dia hanya sedang bermimpi.
"Aku tak akan mengulang penawaran dua kali."
Mendengar itu, Romeo segera meraih payung yang disodorkan Rere.
Tanpa menunggu Romeo, Rere lebih dulu berjalan menuju rumah. Dia tak tahan dengan dinginnya udara diluar. Meski memakai payung, bajunya sedikit basah karena hujan malam ini disertai angin.
Dengan tergesa gesa Romeo menyusul Rere masuk kedalam rumah. Diruang tamu, ternyata Rere sudah menyiapkan bantal dan selimut.
"Tidurlah disini malam ini." Rere memilih menatap kearah dalam, dia tak ingin melihat wajah Romeo. "Dan mulai besok, kau tak perlu lagi tidur didalam mobil didepan rumahku. Kau bisa tidur nyenyak dirumahmu. Aku tak akan melaporkanmu ke polisi." Akhirnya Rere mengambil keputusan.
"Kau salah jika menganggap aku tidur diseberang sana demi mengambil simpatimu agar tidak dilaporkan ke polisi. Aku bahkan siap untuk dipenjara jika itu bisa mengurangi sedikit saja kebencianmu padaku. Aku berada disana hanya untuk menepati janjiku. Janjiku yang akan selalu ada untukmu, selalu menjagamu dan menjadi suami siaga."
Rere meremat dasternya mendengar semua penuturan Romeo.
__ADS_1
"Aku akan selalu siaga jika sewaktu waktu kamu melahirkan. Aku tak akan pernah lupa pada janjiku untuk menemanimu saat persalinan."
Rere menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya. Dia teringat obrolan sebelum tidurnya dulu bersama Romeo.
"Hari ini, seorang pelanggan toko cerita jika istrinya melahirkan tanpa dia. Dan tiba tiba saja, aku terpikirkan hal itu. Aku tidak mau seperti wanita itu. Aku tak sekuat dia. Kamu harus ada disisiku saat aku melahirkan. Kamu mau kan menemaniku meski dia bukan anak kandungmu?"
Romeo langsung meraih tangan Rere lalu menggenggamnya erat. "Tidak hanya saat melahirkan saja, tapi selamanya. Aku akan ada untukmu selamanya, sampai kita menua bersama dan ajal memisahkan."
Saat itu, dia merasa begitu bahagia karena memiliki suami seperti Romeo. Tapi sekarang, perasaannnya sudah tak lagi sama, tak seperti dulu. Rasa cinta yang begitu dalam, terpaksa harus bercampur dengan benci.
Tak mau makin hanyut dalam perasaan, Rere memutuskan untuk masuk, meninggalkan Romeo sendiri diruang tamu.
"Aku mencintaimu Re."
Meski hanya sayup sayup, tapi Rere masih bisa mendengarnya.
Rere kaget saat bangun tidur dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Buru buru dia ke ruang tamu untuk melihat Romeo. Dia ingin pria itu segera pergi sebelum papanya melihat. Tapi rasanya mustahil jika dijam ini, papanya belum bangun. Tapi kenapa tak terdengar keributan?
Tak ada sesiapapun diruang tamu. Bantal dan selimut sudah tertata rapi. Dan saat Rere mengintip dari balik kelambu, tak nampak lagi mobil Romeo disana. Sepertinya pria itu memang sudah pulang. Seperti biasanya, Romeo sudah pulang sebelum subuh.
"Paket, mbak Rere." Suara melengking dari abang ojek online membuat Rere yang hendak masuk kembali lagi menuju pintu. Seperti pagi pagi sebelumnya, selalu ada paket sarapan untuknya.
"Terimakasih." Ujar Rere sambil menerima paperbag dari tangan pengemudi ojol. Jika biasanya Rere langsung membawanya kedapur, kali ini dia membukanya diruang tamu. Dia mengambil kertas kecil yang ditempel diatas kotak makan.
__ADS_1
Terimakasih karena semalam mengizinkanku masuk. Meski hanya melihatmu sebentar, bisa mengurangi sedikit rasa rinduku. Maaf karena pulang agak kesiangan pagi ini jadi tak sempat memasak. Semoga waffle rasa cinta ini bisa membuat mu dan anak kita kenyang. Dan susunya, jangan lupa diminum. Aku mencintaimu, sekarang, nanti dan selamanya.
Rere membuka kotak makan transparan didepanya. Air matanya meleleh melihat waffle rasa cinta bikinan Romeo. Kenangan saat makan waffle bersama Romeo kembali mengusik pikirannya.
Diambilnya waffle tersebut lalu dia memakannya. Enak, masakan Romeo memang selalu cocok dilidahnya. Entah itu bawaan bayi atau apa, taou dia memang menyukai apapun yang dibikin Romeo. Tak lupa dia juga meminum susu yang ada didalam paper bag tersebut.
Tok tok tok
"Re, Rere." Rere mendengar suara mamanya yang memanggil sekaligus mengetuk pintu kamarnya.
"Rere didepan Mah," sahut Rere dari ruang tamu.
Mendengar itu, Jia langsung kedepan menghampiri Rere. Dia tersenyum melihat Rere memakan sarapan dari Romeo.
"Sepertinya kamu sudah mengambil keputusan?" tanya Jia sambil duduk disebelah Rere. Pasalnya biasanya Rere tak pernah menyentuh makanan dari Romeo.
"Rere tak akan melaporkan kasus ini ke polisi."
Jia bernafas lega mendengarnya. "Itu keputusan yang paling tepat." Jia menggenggam tangan kiri Rere. "Mungkin memang terasa tak adil buat kamu. Tapi biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Yakinlah, Tuhan tidak tidur. Gina, mama yakin dia akan mendapatkan balasannya."
Rere mengangguk meski sejujurnya, dia masih berat untuk melepaskan Gina. Tapi melaporkan Gina, itu bisa menyeret Romeo juga. Siang ini, tekadnya sudah bulat untuk menemui Gina. Dia harus bikin perhitungan dengan wanita itu.
"Tapi gimana dengan papa?" Rere tak yakin papanya setuju.
__ADS_1
"Nanti mama yang bicara dengan papa."