Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
AKU BENCI MEREKA


__ADS_3

Rere merutuki kesalahannya, bisa bisanya dia sampai larut dalam pelukan Haikal. Segera dia menjauhi Haikal dan beringsut kearah Romeo.


Romeo hanya diam, pikirannya sedang berkecamuk melihat pemandangan barusan. Cemburu jelas ada, tapi ada hal yang lebih penting dari sekedar cemburu, yaitu perlakuan Haikal pada Rere. Bukankah sebelumnya, Haikal cenderung membenci Rere, tapi kenapa sekarang rasanya berbeda. Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah Haikal sudah tahu apa yang terjadi?


"Meo, tolong jangan salah paham." Rere yang gugup langsung meraih tangan Romeo lalu menggenggamnya.


Romeo menatap Haikal yang hanya bergeming.


"Jangan diulangi lagi Kal." Romeo mengangkat genggaman tangannya dengan Rere. "Dia istriku, ingat itu." Setelah menegaskan status mereka, Romeo langsung membawa Rere menuju kamar.


Haikal, pria itu langsung menendang meja begitu Romeo dan Rere hilang dari pandangannya. Dia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu membuang nafas kasar. Bisa bisanya dia kelepasan seperti tadi, bahkan sampai mengatakan jika dia masih mencintai Rere. Harusnya dia sadar diri, Rere itu adik iparnya, istri Romeo.


Jantung Rere berdetak cepat. Meski Romeo hanya diam, dia tahu pria itu sedang marah.


"Maafkan aku Meo." Ujar Rere begitu mereka sampai dikamar. Melihat Romeo yang hanya diam, air mata yang baru kering itu kembali membasahi pipinya.


Romeo menghela nafas lalu memegang kedua bahu Rere.


"Maaf, tidak ada maksud apapun dari pelukan tadi. Tadi aku, aku hanya se_"


"Sedang dipeluk Haikal dan hanya diam saja." sahut Romeo cepat.


"Maaf, harusnya aku menolak." Rere menangis sambil tertunduk dalam. Tak seharusnya dia menyakiti pria sebaik Romeo.


Romeo mengangkat dagu Rere lalu menyeka air matanya dengan kedua ibu jari. "Sudahlah, aku mengerti. Jangan menangis lagi."


Rere menggeleng cepat. "Aku salah Meo, aku salah. Aku telah menyakitimu. Maafkan aku."

__ADS_1


Bukannya berhenti menangis, Rere malah semakin sesenggukan. Rasa bersalahnya makin besar tatkala Romeo malah menyeka air matanya, bukan memarahinya.


"Heis, aku bilang berhenti menangis, kenapa malah semakin parah?" Remeo menarik bahu Rere lalu menyandarkan kepala wanita itu didadanya. "Kau tahukan, aku paling benci melihatmu menangis." Romeo membelai surai indah Rere sambil mengecup puncak kepalanya berkali kali.


"Marahlah padaku." Ujar Rere disela sela isakannya.


"Bicara apa kamu, mana mungkin aku bisa marah padamu. Lagipula aku yakin kamu melakukannnya karena ada alasan."


Rere jadi teringat alasannya menangis tadi hingga sampai dipeluk Haikal. Dia harus menceritakan ini pada Romeo.


"Duduklah, ada yang ingin aku ceritakan padamu." Rere menarik lengan Romeo menuju ranjang lalu mengajaknya duduk disana. Digenggamnya tangan Romeo sambil menatap kedua matanya. "Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi...."


"Tapi apa?" Mendarak Romeo merasa gelisah. Apalagi saat genggaman tangan Rere terasa makin kuat.


"Tapi ternyata, Gina adalah dalang dibalik perkosaan yang menimpaku."


Deg


"Haikal yang memberitahuku."


Tenggorokan Romeo seperti tercekat. Rasanya bom waktu tangah berada digenggamannya, hanya tinggal menunggu saja, akan segera meledak. Tapi jika mengingat sikap Rere padanya, dia yakin Rere belum tahu siapa pelaku pemerkosaan itu.


"Aku tak menyangka jika Gina tega melakukan ini padaku Meo." Rere menyandarkan kepalanya dibahu Romeo sambil menumpahkan air mata. Fakta ini terlalu menyakitkan baginya. Kenapa harus sahabatnya sendiri, kenapa bukan orang lain saja. Luka yang ditimbulkan orang terdekat terasa lebih menyakitkan daripada luka yang diakibatkan orang lain. "Dan Febbi, dia juga salah satu yang terlibat."


Wajah Romeo makin pucat, seperti tak teraliri darah sama sekali. Keringat dingin mulai keluar dari pori pori kulitnya. Gina dan Febbi sudah ketahuan, dan dirinya, sepertinya tinggal menunggu giliran.


"Kenapa mereka setega ini padaku Meo, kenapa? Dan Febbi, bisa bisanya dia pura pura tak tahu tentang ini. Membiarkan aku terpuruk tanpa mau mengatakan apapun. Mereka sama sama wanita, tapi dimana hati nurani mereka, bisa bisanya mereka membiarkan bahkan menyuruh orang untuk memperkosaku." Darah Rere mendidih saat memikirkan itu semua.

__ADS_1


"Kejam sekali mereka padaku Meo, kejam. Tidak hanya telah membuat masa depanku hancur, mereka hampir saja membuat aku mati bunuh diri jika saja hari itu, kau tak datang menyelamatkanku."


Romeo memejamkan mata. Dia tak bisa membayangkan seperti apa reaksi Rere saat tahu jika pria yang memperkosanya adalah dia.


"Aku tidak akan diam saja. Aku akan melaporkan mereka ke polisi, dan pria itu. Pria yang telah memperkosaku, dia pantas membusuk dipenjara bersama Gina dan Febbi." Rere mengepalkan telapak tangannya lalu memukul mukul ranjang sambil menangis histeris.


Melihat Rere histeris, segera Romeo memeluknya erat dan mendekap kepalanya didada. "Hentikan Re, hentikan. Tolong jangan menangis lagi." Air mata Romeo mengucur deras. Dia tahu nasibnya sedang berada diujung tanduk sekarang.


"Pria bajingan itu, aku bahkan tak tahu akan mampu atau tidak menatapnya. Dia telah menjamah tubuhku Meo, telah mengambil sesuatu yang berharga dariku dengan paksa. Aku benci dia Meo, aku benci. Dan anak ini." Rere hampir saja memukul perutnya kalau Romeo tak berhasil menahan tangannya. "Mengapa dia harus meninggalkan benih ini dirahimku? Kenapa dia memberiku kenang kenangangan sepanjang masa? Aku benci Meo, aku benci pada mereka semua." Rere masih saja terus berontak, mencoba lepas dari pelukan Romeo.


"Mereka yang salah sayang, jadi jangan sakiti dirimu sendiri atau anak kita. Dia tak salah apa apa." Romeo berusaha mengurai kepalan tangan Rere. Mencoba menurunkan tingkat emosi wanita itu karena takut terjadi sesuatu pada kandungannya.


"Aww.." Rere meringis sambil memegangi perutnya. Tiba tiba dia merasakan perutnya kram. Tak pelak, Romeo langsung panik. Dia takut jika tingkat emosi Rere makin naik, bisa bisa dia darah tinggi dan terpaksa melahirkan prematur.


Romeo melepas dekapannya. Mengambil minum yang ada dinakas lalu memberikannya pada Rere.


"Minumlah dulu. Tenanglah Re, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada anak kita."


Rere menghabiskan air satu gelas lalu mengembalikan gelas kosong tersebut pada Romeo.


"Kita kedokter?"


Rere menggeleng. "Aku istirahat saja."


Romeo mengangkat tubuh Rere keatas ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dipeluknya sang istri dari belakang sambil mengusap perutnya.


"Apa masih sakit?"

__ADS_1


"Sedikit."


"Jangan banyak pikiran dulu, tidurlah." Romeo mengecup puncak kepala Rere beberapa kali. "Aku sangat mencintaimu Re, sangat."


__ADS_2