Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
MAAFKAN AKU ROMEO


__ADS_3

Haikal pamit ke toilet sebentar. Dia tak tahan dengan pusing dikepalanya akibat bau minuman keras.


Gina seketika menatap Alin tajam begitu Haikal pergi. "Gak usah kegatelan jadi cewek, pakai sok sok an kenal sama cowok gue."


Alin seketika mengernyit lalu tersenyum miring. "Gak kebalik. Bukannya lo yang kegatelan jadi cewek, pakai ngaku ngaku ceweknya. Gue tahu dia bukan cowok lo." Alin tertawa puas setelah berhasil membalikkan keadaan. Karena ada pelanggan lain, Alin tak lagi mempedulikan Gina.


"Sialan tuh cewek." Umpat Gina sambil menegak minumannya. Dia berencana mengajak Haikal mencari tempat duduk lain setelah pria itu kembali dari toilet. Malas sekali jika harus dekat dengan bartender jutek itu.


Gina merasa ada yang aneh dengan minumannya. Dia sudah biasa memesan minuman jenis ini, tapi rasanya tak seperti ini. "Bisa gak sih tuh cewek bikin minuman, gak enak banget."


Sementara Haikal, dia kaget saat seseorang menarik tanganya begitu dia keluar dari toilet.


"Febbi, ngagetin aja sih." Seru Haikal sambil melotot.


"Aku cuma mau ngasih tahu. Jangan sampai kamu minum minuman yang dipesan Gina. Itu kadar alkoholnya tinggi banget."


"Darimana kamu tahu?"


"Alin, bartender cewek itu temen aku."


"Oh..."


"Kayaknya Gina mau jebak kamu. Buktinya dia mesenin kamu minuman dengan kadar alkohol tinggi sementara dia tahu kamu gak biasa minum minumana beralkohol."


"Sialan tuh cewek." Maki Haikal sambil memukul tembok disebelahnya.


"Udah gak usah ngamuk dulu. Kayaknya bentar lagi Gina teler deh." Febbi melihat sendiri Gina meminum minumannya. Sebenarnya Febbi sudah menyuruh Alin menambahkan alkohol kadar tinggi diminuman Gina.


"Ya udah aku ketempat Gina dulu, takut dia curiga kalau terlalu lama."


"Ingat, jangan diminum."


"Iya, bawel." Haikal lalu pergi meninggalkan Febbi. Dia sama sekali tak tahu jika pergaulan teman teman Rere seperti ini, sudah biasa keluar masuk club malam. Tapi Rere, wanita itu sama sekali tak terpengaruh. "Beruntung sekali kamu Meo." Tanpa sadar, kata tersebut keluar dari bibir Haikal.


Benar apa yang dikatakan Febbi, saat Haikal kembali ke tempatnya, dia melihat mata Gina sudah merah. Wanita itu bahkan kesulitan untuk mengenali Haikal.

__ADS_1


"Gin, kamu kenapa?" Haikal pura pura bertanya untuk memastikan.


Gina yang sudah teler, hanya memukul mukul kepalanya yang berat sambil berusaha membuka mata. "Minum Kal." Gina menyodorkan minuman yang dia pesan pada Haikal.


Haikal pura pura mengangkat gelas tersebut. Belum juga dia berakting minum, Gina sudah teler duluan. Kepala cewek itu sudah terjatuh diatas meja bar.


Febbi yang memperhatikan dari jauh, segera mendekat melihat Gina sudah tak sadarkan diri.


"Gin, Gina." Haikal menggoyang goyangnya bahu Gina, tapi wanita itu hanya meracau tak karuan, sama sekali tak kuat mengangkat kepalanya.


"Feb, dia gak papakan?" Haikal mendadak panik.


"Gak papa, dia cuma mabuk bukan mati. Udah buruan cari ponselnya." Febbi membuka tas slempang Gina untuk mengambil ponselnya. Tas yang dia pikir berisi dua ponsel, ternyata hanya ada satu didalamnya.


"Bisa dibuka?" tanya Haikal.


"Pakai sidik jari." Febbi segera menggunakan jari Gina untuk membuka kunci ponselnya. "Yess." Teriaknya begitu ponsel tersebut terbuka. Segera dia mengganti kunci keamanan dengan sandi yang dia bikin sendiri, agar sewaktu waktu terkunci, tak butuh jari Gina untuk membuka.


Febbi bergerak cepat. Dia berharap menemukan video Rere dan Romeo, tapi ternyata, tak ada video itu.


"Ada?" tanya Haikal yang penasaran. "Damn." Dia langsung mengumpat saat Febbi menunjukkan foto foto bugil Rere di ponsel itu.


"Gimana kalau dia masih nyimpen ditempat lain? Aku lihat sendiri hari itu, dia punya 2 ponsel," ujar Haikal.


"Maka dari itu, kita harus bergerak cepat. Kita kemobilnya sekarang."


Keduanya lalu cepat cepat menuju mobil yang ada ditempat parkir. Karena Haikal yang membawa kuncinya, dia jadi mudah untuk masuk.


Febbi mengobrak abrik mobil tersebut. "Ada laptop." Ujarnya saat mendapatkan benda tersebut dijok belakang. "Sial, pakai pasword."


"Tenang, temanku pandai urusan beginian. Yang penting kita bawa saja dulu."


"Ya udah, kita ke apartemennya sekarang. Aku yakin ponsel yang satunya ada disana."


Febbi cepat cepat membawa laptop tersebut keluar dari mobil lalu berjalan menuju mobilnya sendiri.

__ADS_1


"Tapi gimana dengan Gina?" Haikal masih memikirkan wanita itu.


"Udah tinggalin aja." Febbi menarik lengan Haikal agar segera mengikutinya berjalan menuju mobil.


"Tapi dia lagi gak sadar. Aku takut dia di_"


"Sudahlah Kal." Febbi jadi geram. "Jangan pikirkan dia. Ingat saja apa yang telah dia perbuat ke Rere. Menyuruh orang untuk memperkosa Rere, apa menurutmu tindakan itu tidak luar biasa kejam? Udahlah, jangan pikirkan dia lagi."


Apa yang dikatakan Febbi benar, Gina sudah terlalu jahat. Haikal akhirnya mengikuti Febbi. Keduanya lalu meluncur ke apartemen Gina.


Tak susah bagi Haikal untuk masuk karena dia sudah tahu nomor sandi pintunya. Untung ini tengah malam, kalau tidak, mereka pasti dikira mau maling karena masuk apartemen orang.


Febbi langsung menuju kamar untuk mencari ponsel Gina yang satunya lagi. Sementara Haikal, dia yang masih penasaran dengan rak buku dibawah tv, segera menuju tempat tersebut.


"Akhirnya." Haikal bernafas lega saat menemukan kotak kecil berisi 3 buah flashdisk. Dia ingin langsung melihat isinya, sayang tak ada laptop. Terpaksa dia hanya membawanya saja.


"Kal, ponselnya sudah ketemu." Gina membawa keluar ponsel yang dia temukan di kamar Gina. "Tapi lagi lagi pakai sidik jari."


"Sini." Haikal langsung menarik ponsel tersebut dari tangan Febbi. "Laptop dan ponsel ini, besok pagi akan aku bawa ke temanku. Biar dia yang bantu buka."


Febbi mendadak mencemaskan Romeo. Jika seperti ini, dia tak bisa menahan Haikal untuk melihat video itu. "Em...bolehkah aku ikut?"


"Untuk apa? Hanya perlu memusnahkan barang buktikan? Jadi aku rasa sendiripun bisa. Tapi...kenapa kau terlihat cemas?"


"Cemas?" Febbi makin gugup. "A, aku tidak cemas."


"Benarkah? Apa yang sebenarnya ingin kau tutupi dariku?"


Febbi tak menyangka jika Haikal bisa membaca ekspresi wajahnya.


"Kau tahukan siapa yang memperkosa Rere? Tapi kenapa kau tak mau memberitahuku. Katakan Feb, siapa yang melakukannya?" Haikal tak sabar ingin tahu.


"A, a, aku tidak tahu." Wajah Febbi seketika pucat pasi.


"Sudahlah, percuma tanya padamu, karena kau tak akan mengaku. Tapi lihatlah ini." Haikal menunjukkan 3 buah flashdisk ditangannya. "Aku bisa mencari tahu sendiri. Aku yakin, salah satu diantara flashdisk ini, adalah video pemerkosaan itu."

__ADS_1


Tubuh Febbi seketika lemas. Ternyata Haikal lebih dulu menemukan benda itu.


Maafkan aku Romeo, sepertinya aku tak bisa menolongmu.


__ADS_2